
Medina terbangun dari tidurnya, tubhnya mulai terasa tidak enak. Mungkin karena dia yang terlalu banyak menangis membuat suhu tubuhnya sedikit naik. Medina turun dari atas tempat tidur dan berjalan perlahan keluar dari kamarnya.
Namun Medina merasa menyesal karena dia keluar dari kamar. Karena pria yang dia hindari sejak tadi, ternyata masih ada disana. Entah pukul berapa sekarang, karena hari di luar sudah hampir gelap.
"Sayang..." Rega segera berdiri dan menghampiri Medina. Meraih tangab gadis itu dan menggenggamnya. "...Ayo bicara, aku akan menjelaskan semuanya padamu"
Medina melepaskan genggaman tangan Rega di tangannya. Berlalu ke kamar mandi tanpa menghiraukan ucapan Rega. Rasanya Medina sangat lelah, dia sudah tidak ingin membicarakan apapun lagi. Medina ingin hidup tenang bersama calon anaknya. Tidak mau lagi masuk ke dalam kehidupan rumit Rega.
"Sabar Nak, biarkan dulu Medina tenang"
Ibu Nia yang sudah mendengar semua cerita Rega, kini mengerti kenapa dua orang yang saling mencintai ini harus berpisah.
Rega mengangguk, dia berjalan ke arah dapur. Menunggu di depan pintu kamar mandi. Dia tidak bisa terus melihat Medina yang seperti ini. Rega ingin segera membawanya kembali ke Ibu kota dan menikahinya. Membuat gadisnya itu bahagia hidup bersamanya.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Rega segera menoleh pada Medina yang keluar dari kamar mandi. "Sayang, ayo bicara. Jangan terus seperti ini. Aku bisa menjelaskan semuanya"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Ga, aku sudah lelah dengan semua ini. Jadi tolong jangan pernah mengganggu hidup aku lagi"
Rega memeluk Median, meski gadis itu terus berontak tapi Rega tetap memeluknya. Membiarkan Medina terus memukul dadanya, Rega benar-benar tidak peduli.
"Lepasin Ga, lepas"
"Tidak Sayang, aku tidak akan melepaskanmu. Aku mencintaimu"
"Jangan terus membual Ga, jelas istrimu sedang hamil sekarang. Jangan menyakitinya"
"Medina, Sayang dengarkan aku!" Rega melerai pelukannya dan memegang kedua lengan Medina. Menatap gadis itu dengan lekat. "...Aku sudah bercerai dengan Selvia sejak lama"
"Iya Kak, Kak Rega memang sudah bercerai. Ini butiknya" Giant berdiri di ambang pintu dapur dan memberikan sebuah map yang dibawa oleh Rega tadi.
Medina menatap Giant, lalu Ibu Nia yang juga ikut menghampiri mereka. "Lihatlah dulu itu Nak, kamu pasti akan menemukan jawabannya"
__ADS_1
Dengan ragu Medina meraih map yang di sodorkan oleh Giant. Medina menatap Ibu Nia dan Giant, seolah bertanya apa dia harus membuka map ini atau tidak. Ibu Nia mengangguk sebagai jawaban dan persetujuan untuk Medina membuka map itu.
"Kita duduk di dalam yuk, kamu gak boleh terlalu lama berdiri seperti ini" Rega merangkul bahu Medina dan menggiringnya untuk masuk ke dalam rumah.
Medina duduk di atas sofa yang ada disana dengan map yang masih berada di tangannya. Dia sedikit ragu untuk membuka map itu. Namun, Medina juga penasaran dengan apa isi dari map tersebut. Dengan perlahan di membukanya, membaca sebuah kertas yang ada di dalamnya. Sebuah surat perecaraian atas nama Adrega Devaro dengan Selvia. Medina terdiam melihat itu, tanggal dan bulan yang tertera disana jelas hanya terjadi beberapa minggu setelah dia pergi dari rumah Rega.
"Selvia ketahuan membohongiku, dia tidak hamil. Alat tes kehamilan yang dia berikan, mungkin adalah milik orang lain"
Deg..
Medina mengingat alat tes kehamilannya yang pertama, yang tidak sengaja dia buang ke tempat sampah.
"Itu milikku, aku tidak sengaja membuangnya ke tempat sampah dan saat itu entah siapa yang membawa tempat sampah di kamar mandi kamarku"
Seperti dugaan sebelumnya, Rega sudah menduga jika alat tes kehamilan itu memang milik Medina. Tapi Medina terlihat masih ragu dan tidak percaya dengan semua ini.
"Tapi kemarin saat dia datang kesini keadaannya sedang hamil. Bahkan perutnya sama besar dengan perutku, iya 'kan Bu?" Medina menatap Ibu Nia untuk meminta dukungan. Karena memang Ibu Nia juga bertemu dengan Selvia sebelumĀ dia pergi dari rumah kemarin.
Deg...
Medina terdiam beberapa saat, padahal jelas sekali jika Ibu Nia yang memberi tahu Medina jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. "Tapi Bu, aku menemuinya dalam keadaan hamil"
Rega mengerti sekarang, jika Selvia sengaja menemui Medina dengan tetap berpura-pura hamil agar Medina merasa simpati dan kasihan padanya. Karena kelemahan Medina memang selalu gampang percaya pada orang dan selalu merasa kasihan pada semua orang yang kesulitan. Medina pasti merasa tidak enak dan merasa bersalah pada Selvia saat itu.
"Sayang, dia tidak mungkin hamil karena dia sudah tidak mempunyai rahim"
Medina langsung menatap Rega dengan tatapan terkejut. "Bercanda kamu"
"Tidak! Kalau kau memang tidak percaya padaku, kau bisa ikut aku untuk datang pada Dokter yang memeriksanya waktu itu"
Sial. Ternyata Selvia sudah mempersiapkan semuanya untuk membuat Medina semakin menjauh dariku.
__ADS_1
Rega mengepalkan tangannya erat, sampai urat di tangannya terlihat menonjol. Tidak pernah menyangka jika gadis sepolos Selvia bisa sampai melakukan hal sejauh ini hanya karena terobsesi karena cinta.
Medina masih terlalu bingung dengan semua ini. Dia menatap Rega dengan penuh tanda tanya. Semuanya terlalu mengejutkan dan membuat bingung. Tiba-tiba saja Rega datang mencarinya dan mengatakan jika dia telah bercerai dengan Selvia. Sementara dulu, Rega sendiri yang memintanya untuk pergi dari kehidupannya demi istrinya.
Tuhan, apa ini adalah bagian takdirmu?
Rega berajalan mendekati Medina, berlutut di depan gadis itu. Meraih tangan Medina yang berada di atas pangkuannya. Menciumnya dengan lembut. "Sayang, ayo menikah? Kita bangun rumah tangga yang bahagia. Jadi orang tua dan keluarga yang utuh untuk anak kita"
Medina terdiam beberapa saat, dia menatap Ibu Nia dan Giant secara bergantian. Meminta saran dan jawaban dari keduanya.
"Ikuti kata hatimu, Nak"
Medina menghela nafas pelan, dia menatap Rega yang juga sedang menatapnya. Dia jelas melihat kesungguhan dari pria itu. "Apa kamu mencintaiku? Menikahiku karena kamu mencintaiku, bukan karena anak dalam kandunganku? Karena aku tidak mau terikat dalam sebuah pernikahan yang terpaksa"
Rega mengecup kembali punggung tangan Medina yang berada dalam genggamannya. "Sayang, kamu tahu jelas perasaanku padamu tidak pernah berubah sedikit pun. Sejak dulu sampai sekarang, aku masih tetap mencintaimu"
Medina menatap lekat bola mata coklat milik Rega. Tidak terlihat kebohongan disana. Membuat Medina mencoba untuk meyakinkan hatinya sebelum menjawab ajakan Rega untuk menikah.
"Iya, aku mau menikah denganmu"
Rega tersenyum, dia mencium punggung tangan Medina beberapa kali. Begitu bahagia sampai dia meneteskan air matanya di tangan Medina.
"Terima kasih Sayang, kau telah memberiku kesempatan untuk membuat kamu bahagia"
Medina merasa terharu dengan Rega yang begitu tulus padanya. Terlihat dari air mata yang menetes di pipi pria itu. Medina menghapus air matanya dengan lembut. Lalu mengecup kening Rega, membuat pria itu memejamkan matanya. Menikmati sentuhan bibir Medina di keningnya.
"Semuanya sudah takdir Tuhan, karena aku sudah lari sejauh ini, kamu tetap menemukan aku"
Rega mengangguk, dia memeluk Medina dan mencium puncak kepalanya dengan lembut. "Aku mencintaimu Medina"
Bersambung
__ADS_1