
Makan malam ini masih berlanjut, kelakuan Kendra malah semakin menjadi. Membuat Rega mulai tidak tahan.
"Makan ini Me, enak banget. Kamu emang calon istri idaman ya. Hehe"
Prank..
Rega menjatuhkan sendok yang di pegangnya. Berbenturan keras dengan piring. Membuat semua orang langsung menatap ke arahnya.
"Sayang ada apa?" Tanya Selvia yang juga bingung dengan sikap suaminya.
Rega tidak menggubrisnya, bahkan menoleh sedikit pun pada Selvia tidak. Tatapannya tetap tertuju pada Medina dan Kendra yang duduk di sebrangnya.
"Aku hanya tidak suka ada pembicaraan tidak penting, saat di meja makan"
"Yaudah, kita lanjut makan lagi ya" Selvia mengelus lengan suaminya, mencoba menenangkan suaminya.
"Kau ini kenapa Ga? Kau tidak suka aku berada disini? Aku Kakak iparmu"
Sepertinya perdebatan ini tidak akan selesai sampai disini. Kendra mulai terpancing karena sikap Rega. Dia merasa tidak melakukan apapun, tapi kenapa Rega seolah tidak suka dia berada disini.
"Ya, aku tidak suka kau mengganggu sepupuku"
Selvia menunduk dengan tangan yang meremas garpu dan sendok dengan kuat. Tidak suka dengan ucapan Rega barusan.
"Memangnya kenapa? Medina hanya sepupu kamu, kenapa kau seperti sister complex kayak gini"
Rega diam, dia bukannya sister complex tapi memang dia tidak akan rela melihat Medina bersama pria lain. Katakanlah dia egois saat ini. Karena memang dia ingin Medina selalu bersamanya, tapi dia tidak memberikan kepastian apapun padanya. Semuanya karena sebuah alasan. Rega yang terjebak diantara dua wanita ini dengan alasan yang berbeda.
"Aku tidak selera makan"
Rega berdiri dan pergi dari ruang makan itu. Dia memang tidak bisa mejawab ucapan Kendra barusan. Karena tidak mungkin dia akan mengakui tentang apa yang terjadi diantara dirinya dan Medina.
Suasana di ruang makan menjadi hening, setelah Rega pergi. Melanjutkan makan malam mereka dengan hening. Setelah selesai makan, Medina segera pergi dari ruang makan dengan alasan harus segera mengerjakan tugas.
"Se, kenapa suami kamu begitu posesif pada Medina? Bukannya dia hanya seorang sepupu saja?"
Selvia menghela nafas, dia mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Tidak tahu Kak, mungkin memang Kak Rega tidak suka Kakak merayu Kak Medina seperti tadi"
Kendra menatap Selvia dengan bingung, rasanya alasan itu terlalu klise. Tapi entah kenapa Kendra melihat tatapan yang berbeda dari adiknya. Seolah memang ada yang dia tutup-tutupi darinya. Tapi apa?
__ADS_1
******
Medina masuk ke dalam kamarnya dan terdiam beberapa saat ketika melihat Rega yang berada di kamarnya. Duduk di atas sofa.
"Ga, ngapain disini? Nanti Selvia cariin kamu"
Rega mendelik tajam pada Medina, membuat gadis itu merinding seketika. Medina menutup pintu dan menguncinya, takut jika tiba-tiba Selvia masuk ke dalam kamarnya seperti saat itu. Berjalan mendekati Rega.
"Sayang, kenapa si?" Medina duduk di samping Rega, mengelus lengan pria itu untuk meluluhkan hatinya.
"Kamu suka sama dia?"
Medina menggeleng cepat, dia tidak akan menyukai pria mana pun selain Rega. Karena waktu 5 tahun saja tidak bisa membuat Medina melupakan Rega. Cintanya masih tetap ada sampai saat ini. Rega masih pemilik hatinya sampai saat ini.
Medina menyandarkan kepalanya di bahu Rega. "Kau tahu persis bagaimana aku, sampai saat ini jelas kau tahu bagaimana perasaanku tanpa aku harus menjelaskan"
Rega terdiam, mendengar ucapan Medina barusan jelas jika gadis itu terluka dengan keadaan dan situasi saat ini. Tapi apa yang bisa Rega lakukan ketika dirinya pun tidak mempunyai pilihan lain. Dirinya masih belum bisa melepaskan dan lepas dari kerumitan hubungan ini.
Rega merangkul bahu Medina, memberi kecupan di puncak kepala gadis itu. "Maafkan aku Sayang, tapi tolong jangan pergi dariku. Bertahanlah"
Medina tersenyum, dia memeluk tubuh Rega. Nyaman.. Medina selalu merasakan kenyamanan saat dia bersama Rega. "Seandainya aku sudah tidak tahan, aku pasti pergi. Tapi, aku tidak bisa untuk jauh darimu. Adrega Devaro, sampai saat ini aku masih mencintaimu"
"Aku ke bawah dulu, takutnya Selvia mencariku" Rega melepaskan pelukan Medina ditubuhnya, lalu dia berdiri dan keluar dari kamar.
Sementara Medina hanya tersenyum pedih melihatnya. Biarkan jika Rega memang sudah tidak mencintainya. Karena kenyataannya, Medina hanya seorang mantan pacar yang dibeli oleh Rega untuk dia jadikan pamuas naf*su saja.
Tes..
Setetes air mata yang menetes di pipinya segera Medina usap dengan kasar.
Rega turun ke lantai bawah dengan perasaan yang tidak karuan. Ucapan Medina benar-benar membuat hatinya terluka. Sebesar itu cintanya pada Rega, sementara dia telah membuatnya menderita saat ini.
Maafkan aku Me, aku juga mencintaimu. Hanya saja aku belum yakin bisa tetap menahan dirimu agar tetap berada disampingku.
Saat ini, Rega sedang benar-benar dilema. Dia ingin bersama Medina, tapi ada Selvia diantara mereka. Rega masih tidak akan bisa lepas dari keluarga gadis itu.
"Kak, ngapain berdiri di situ?"
Rega mengerjap mendengar suara itu, dia menoleh pada Selvia yang berdiri di depan anak tangga dengan segelas air putih di tangannya.
__ADS_1
"Tidak papa, aku habis dari ruang kerja"
Rega merasa beruntung karena ruang kerjanya juga berada di lantai atas rumahnya. Jadi dia bisa memberikan alasan ini pada Selvia saat ini.
Selvia mengangguk mengerti, dia menatap ke lantai atas. Dimana pintu kamar Medina sedikit terbuka karena Rega yang tidak benar menutupnya.
"Ayo istirahat Kak, aku sudah mengantuk"
Rega mengangguk, dia berjalan menghampiri Selvia dan merangkul bahu gadis itu. Berjalan menuju kamar mereka.
"Oh ya, dimana Kakakmu?"
"Sudah pulang barusan"
******
Dan ketika pagi ini Rega terbangun, dia tidak mendapati Medina. Padahal hari masih benar-benar pagi. Hanya tersedia sarapan di atas meja makan dengan sebuah kertas kecil di sampingnya.
Makanlah sarapan ini, aku ada kelas pagi jadi berangkat lebih pagi.
Rega tersenyum melihatnya, dia menarik kursi meja makan dan duduk disana. Mulai memakan sarapan yang di buatkan oleh Medina. Entah kenapa, hasil masakan Medina apapun itu selalu terasa enak dalam mulutnya.
"Pagi Sayang"
Sepasang tangan yang merangkul dadanya dari belakang membuat Rega terkejut. Lalu dia membuang nafas kasar, ketika tahu siapa pemilik tangan ini.
"Pagi Se, ayo sarapan. Medina sudah membuatkan sarapan untuk kita"
"Wahh, enak banget ini. Kak Medinanya kemana?"
"Sudah berangkat kuliah mungkin, aku juga tidak tahu"
Selvia tersenyum dan mengangguk mengerti. Dia duduk di kursi samping Rega, dan memulai sarapannya.
"Kak, aku pengen jalan-jalan deh. Kapan Kakak bisa menemani aku pergi jalan-jalan? Aku bosan ada dirumah"
"Akhir pekan" jawaban singkat dan padat Rega membuat Selvia tersenyum.
Bersambung
__ADS_1