
"Daddy janji akan menyelesaikan masalah ini. Semuanya memang kesalahan Daddy yang tidak bisa menahan naf*su dalam diri Daddy sampai harus tergoda dengan seorang gadis dan pada akhirnya gadis itu dan Mommy yang menjadi korban ke serakahan Daddy. Maaf Mom"
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu dan sudah terjadi juga. Penyesalan hanya membuat hidup semakin sia-sia. Kamu hanya perlu adil pada anak-anakmu. Mau itu anak dariku atau anak dari wanita itu. Karena seorang anak tidak akan pernah mau di lahirkan dalam keadaan orang tua yang kacau seperti ini"
Daddy hanya diam mendengar itu, mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Mungkin memang Daddy harus lebih adil dan merubah sikap egois dan arogan dirinya. Istrinya saja bisa menerima kehadiran Medina, kenapa Daddy harus menyalahkan kehadiran anaknya dari Nia. Karena memang semua ini adalah kesalahannya juga.
Dan pagi ini Daddy mencoba untuk datang ke rumah Rega dan menemui Medina. Mungkin sudah saatnya untuk dia bisa lebih menerima anak yang sebenarnya memang tidak dia inginkan, namun kini kehadirannya juga tidak patut dia salahkan.
"Mau apa kamu datang kesini lagi?"
Daddy hanya menghela nafas pelan ketika Ibu Nia yang menatapnya dengan begitu sinis dan penuh dengan kebencian. Tapi jika mengingat apa yang dia lakukan padanya di masa lalu, memang pantas jika Nia memebencinya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Medina, aku ingin mulai menerima dia dalam kehidupanku. Aku ingin berubah"
Ibu Nia tersenyum sinis mendengar ucapan pria di depannya ini. Pria yang telah membuat hidupnya hancur. "Kalau memang ingin menerima anakku, mungkin sejak dulu. Ketika aku datang padamu dan mengatakan tentang kehamilanku. Tapi kamu malah mengusir dan menyuruh aku untuk pergi dari kehidupan kamu. Dan lebih parahnya lagi, kamu yang juga menyuruh aku untuk menggugurkan kandungan aku pada saat itu"
Daddy hanya terdiam dengan kepala menunduk. Dia mengerti bagaimana dirinya yang menghancurkan hidup dan masa depan seorang gadis di masa lalu, hanya untuk memenuhi naf*sunya saja.
"Dan kalau memang sejak dulu kamu mau menerima anak ini, mungkin aku tidak akan sampai meninggalkan Medina di depan panti asuhan, hanya karena aku yang bingung harus melakukan apa pada saat itu"
__ADS_1
Daddy langsung mendongak, dia memang tidak tahu soal ini. Dan dia juga baru sadar dan ingat jika Selvia pernah berkata kalau Medina tidak mempunyai orang tua. Dan sekarang dia sadar jika Medina memang di buang oleh Ibunya sendiri karena dia yang bingung harus melakukan apa disaat harus hamil dan mempunyai anak tanpa seorang suami.
"Maafkan aku Nia, aku memang salah karena meninggalkan tanggung jawabku padamu begitu saja. Aku benar-benar minta maaf"
Ibu Nia sedikit mengusap ujung matanya ketika cairan bening mulai memenuhi matanya. "Seandainya saat itu aku tidak bodoh dan mau saja kamu bodohi seperti itu. Mungkin aku tidak akan merasakan sakit seperti ini dan mungkin aku juga tidak akan pernah membuang anakku sendiri, hingga dia harus menderita selama ini"
Pertahanan Daddy benar-benar runtuh sekarang. Dia menangis di depan Ibu Nia dengan segala penyesalan dalam hatinya. Dia mengerti bagaimana perasaan Nia yang pastinya hancur saat itu.
"Maafkan aku Nia, aku janji akan berubah dan akan menyayangi anakku itu. Maaf"
"Aku tidak bisa mengambil keputusan apapun tentang itu. Sebaiknya kamu bicarakan saja langsung pada Medina. Saat ini dia sedang pergi keluar bersama suaminya. Kau tunggu saja sampai dia pulang"
Medina cukup merasa senang saat dia pergi jalan-jalan bersama dengan suaminya. Dia juga membeli beberapa barang lagi untuk calon anaknya ini. Medina bisa sebentar saja melupakan masalahnya. Meski dia tetap bingung harus melakukan apa saat ini ketika dia sudah tahu kenyataan yang ada.
"Sayang ayo pulang, kamu sudah terlalu lama berjalan dan pasti lelah.Kita pulang sekarang ya"
Medina menoleh pada suaminya yang sejak tadi merangkul pinggangnya. Dia mengangguk menyetujui ajakan pulang suaminya itu, karena memang dirinya juga sudah cukup lelah sekarang.
Dan mereka pun langsung pulang ke rumah saat sudah puas berjalan-jalan dan membeli beberapa barang untuk calon anak mereka ini nanti. Namun ketika sampai di rumah, Medina langsung terdiam ketika melihat Daddy yang duduk di kursi yang ada di teras depan rumah ini. Medina jadi ragu untuk turun karena dirinya juga belum siap untuk bertemu dengan pria yang ternyata adalah Ayahnya itu.
__ADS_1
Rega yang mengerti perasaan istrinya langsung menggenggam tangan Medina dengan lembut. "Kita hadapi sama-sama ya, kamu juga tidak mungkin akan terus menghindar. Kamu harus bisa menghadapi kenyataan yang ada saat ini"
Medina menoleh dan menatap suaminya dengan ragu. Jujur saja dia memang belum siapĀ untuk bertemu dengan Ayahnya itu. Karena sampai saat ini Medina masih tidak menyangka jika dirinya yang sudah terbiasa menjadi anak tanpa orang tua, kini tiba-tiba satu persatu orang tuanya muncul dalam kehidupannya. Medina masih merasa tidak percaya dan juga bingung dengan keadaan ini.
"Ayo Sayang kita turun, tenang saja aku akan selalu berada di sampingmu dan akan selalu menemani kamu untuk menghadapi semua ini"
Akhirnya Medina turun dari dalam mobil bersama dengan suaminya. Rega terus menggenggam tangan Medina saat mereka melangkah menuju terasa rumah yang disana sudah ada Daddy yang berdiri dan menunggu mereka.
Ketika sudah sampai di depan Daddy, Medina hanya berlindung di balik tubuh suaminya. Dia masih belum bisa untuk berkomunikasi dengan Daddy seperti layaknya seorang anak dan Ayahnya. Karena memang mereka yang baru di pertemukan sekarang oleh takdir.
"Medina, ini Ayah Nak. Maafkan Ayah karena selama ini sudah menjadi Ayah yang pengecut. Maaf Nak, apa kamu mau untuk kita bisa memulai semuanya dari awal? Ayah janji akan menjadi Ayah yang baik dan tidak akan membuat kamu kecewa lagi.Maafkan Ayah Nak"
Medina maju selangkah dan tidak lagi bersembunyi di balik tubuh suaminya. Dia menatap Daddy yang berdiri di depannya. Matanya yang menatap ke arah Medina dengan penuh rasa bersalah. Medina menghela nafas pelan, dia menatap Ayahnya dengan sedikit ragu.
"Medina sudah terbiasa hidup seperti ini, jika memang Ayah keberatan atas kehadiran Medina. Maka Ayah bisa melupakan kejadian ini dan anggap saja jika putri Ayah ini sudah tidak ada. Karena aku tahu jika kehadiran aku pati akan menjadi konflik dalam rumah tangga Ayah. Dan aku tidak mau sampai menjadi sumber masalah untuk keluarga Ayah"
Rega langsung merangkul istrinya karena dia merasa jika ucapan Medina barusan benar-benar menusuk hatinya.Rega merasa jika Medina seolah sedang menyalahkan dirinya sendiri atas takdir yang terjadi pada kehidupannya ini.
"Maaf Daddy, sebaiknya Daddy pulang dulu dan biarkan Medina tenang dan bisa menerima Daddy"
__ADS_1
Bersambung