
Rega pulang cukup malam hari ini, karena jam makan siang dia gunakan untuk menjemput Medina membuatnya meninggalkan beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini juga. Akhrinya dia pulang sedikit terlambat.
Saat dia masuk ke kamar Selvia, gadis itu sudah tidur. Rega menghela nafas, duduk di samping Selvia dan membenarkan selimut yang di pakai istrinya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Rega bersiap untuk keluar kamar dan ingin menemui Medina. Namun suara Selvia membuat langkahnya yang hampir sampai di pintu kamar, langsung terhenti.
"Kak, mau kemana?"
Rega menoleh, dia melihat Selvia yang sudah bangun. Meski dia tetap berbaring diatas tempat tidur. "Keluar sebentar Se, mau ambil minum"
"Emm. Kak, tadi Kak Medina gak masak makan malam. Dia gak keluar keluar sejak pulang kuliah. Gak tahu kenapa"
Rega terdiam mendengar itu, dia tahu kenapa Medina berdiam diri di kamar. Pasti gadis itu sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Mungkin lagi malas keluar saja Se, yaudah kamu tidur lagi. Aku mau ke dapur ambil air"
"Iya Kak"
Setelah memastikan Selvia kembali tidur, Rega segera keluar dari kamar. Namun, ketika pintu kamar tertutup. Selvia kembali membuka kedua matanya.
"Usaha kalian untuk bisa bersama benar-benar sangat luar biasa. Tapi maaf, karena aku tidak akan membiarkan Kak Rega lepas dariku"
Sementara Rega tidak melanjutkan langkahnya menuju dapur, namun dia pergi ke lantai atas untuk melihat keadaan Medina. Ketika tangannya memegang handel pintu dan memutarnya, ternyata memang pintu kamar Medina sengaja dikunci. Membuat Rega mengetuk pintu dengan kencang.
"Buka.."
Medina yang masih belum terlelap di hari yang hampir larut, tentu mendengar suara itu. Namun, dia mencoba untuk tidak memperdulokannya. Tapi semakin lama, ketukan pintu itu semakin kencang di iringi dengan suara handel pintu yang terus di putar.
"Buka atau aku akan mendobraknya!"
Akhirnya ancaman itu membuat Medina segera turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar. Membuka kunci pintu dan membukanya.
"Kau ingin terus seperti ini?" Rega masuk ke dalam kamar setelah Medina membukakan pintu. Duduk diatas sofa dan menatap Medina yang sedang kembali mengunci pintu kamarnya.
Medina berbalik dan berjalan ke arah tempat tidur, tanpa memperdulikan Rega disana. Naik ke atas tempat tidur dan berbaring membelakangi Rega.
"Medina!"
__ADS_1
Hal itu semakin membuat Rega frustasi, dia tidak bisa di diamkan seperti ini oleh Medina. Dia berjalan mendekati Medina, naik le atas tempat tidur dan memeluknya dari belakang.
Medina tidak terusik, dia tetap memejamkan matanya. Meski sebenarnya dia tidak tertidur.
"Sayang, sudah dong marahnya. Aku minta maaf. Sayang jangan kayak gini dong, aku gak bisa kamu diemin kayak gini terus"
Medina membuka kedua matanya, dia menghembuskan nafas pelan. "Sebaiknya kita jaga jarak Ga, takutnya Selvia akan curiga jika kamu semakin sering datang ke kamarku seperti ini"
"Tidak!" Rega malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Medina. Tidak ingin lepas dari wanitanya ini. "...Kalau pun Selvia mengetahuinya, aku sudah tidak peduli. Aku akan menyelesaikannya. Asal aku bisa tetap bersamamu"
Medina terdiam, dia tidak bisa membantah ucapan Rega. Karena sejatinya dia juga tidak ingin lepas dari pria ini. Meski menyakitkan tapi Medina tetap ingin menjalani semua ini.
Aku memang bodoh, sudah tahu terluka. Tapi aku tetap tidak ingin melepaskan semua ini.
******
Entah pukul berapa sekarang, Medina terbangun saat merasa tidak enak dengan perutnya. Rega juga masih berada di kamarnya, masih memeluknya dengan erat. Jelas ini masih dini hari. Di luar juga masih gelap gulita.
Duh, kenapa dengan perutku ya.
Apa yang dilakukan Medina, membuat Rega terbangun. Dia melirik tempat tidur disampingnya yang kosong. Melirik jam dinding, masih menunjukan pukul 3 dini hari.
"Sayang.." Rega turun dari tempat tidur dan mecari Medina ke dalam ruang ganti. Mendengar suara seseorang yang muntah-muntah, membuat Rega segera berlari ke kamar mandi. Melihat Medina yang muntah di wastaffel.
"Sayang, kenapa?" Rega memijat tengkuk leher Medina, dengan memegangi rambutnya.
Medina menghembuskan nafas pelan, mencuci wajahnya ketika dia sudah tidak merasa mual lagi.
"Kenapa bisa kayak gini?"
Medina menggeleng pelan, dia juga tidak tahu kenapa dirinya bisa sampai seperti ini. "Mungkin mag aku kambuh, kemarin aku gak makan malam"
"Tuhkan, kamu selalu saja seperti itu. Kita periksa ya ke dokter"
Medina menggeleng pelan. "Tidak usah, aku tidak papa kok Ga"
__ADS_1
"Sayang! Panggil aku Sayang, kamu masih marah soal kemarin? Aku minta maaf, Sayang"
Entahlah, Rega adalah pria dingin yang terkenal menakutkan di beberapa kalangan. Tapi dia tidak bisa berbaut apa-apa ketika berhadapan dengan Medina. Dia selalu ingin membuat Medina nyaman bersamanya, namun nyatanya dia yang telah membuat Medina terjebak dalam hubungan yang rumit seperti ini.
"Sudahlah, kamu kembali ke kamar kamu sekarang. Takutnya Selvia mencarimu"
Medina berjalan keluar kamar mandi dengan kepala yang masih terasa pusing. Perutnya juga masih terasa tidak enak.
"Medina, aku masih mencintaimu!"
Deg..
Langkah kaki Medina seketika berhenti, ucapan yang ingin dia dengar sejak lama. Dan kini dia jelas mendengarnya, lalu dia harus bagaimana sekarang? Tertawa bahaga, berjingkrak senang? Rasanya tidak mungkin, karena meski Rega mengatakan hal itu, dia tetap suami Selvia. Medina tetap tidak bisa memiliki hak apapun atas dirinya.
Grepp..
Rega memeluknya dari bekalang, menyandarkan dagunya di bahu Medina. "Aku masih mencintaimu, perasaanku tidak pernah berubah sejak dulu"
Akhirnya Medina tetap tidak bisa menahan air matanya. Ini yang dia inginkan, mendengar Rega mengungkapkan perasaannya. Tapi kenapa harus di keadaan yang seperti ini.
"Tapi bagaimana dengan Selvia?"
"Aku akan menceraikannya"
******
Malam itu, ketika Rega dan Medina melakukannnya untuk pertama kali di kamar hotel. Rega terbangun menjelang pagi, dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan mematung ketika melihat bercak merah yang terlihat jelas di atas seprei putih itu. Rega melirik Medina yang masih terlelap di sampingnya.
Dia masih perawan, lalu selama ini....
Selama ini dia telah salah faham, mengira Medina bekerja sebagai wanita malam. Dia pergi sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hanya menyimpulkan saja ketika dia tahu kalau Medina bekerja di sebuah club malam terkenal. Sampai dia tidak mendengarkan apapun lagi penjelasan kekasihnya itu. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, dia baru mengetahui kenyataannya.
Rega segera pergi dari hotel dan menemui pemilik club malam yang bernama Mommy Sonya itu. Meminta untuk melepaskan Medina, namu Mommy Sonya tentu tidak akan membiarkan anak buahnya lepas begitu saja tanpa sepeser uang yang setimpal.
Akhirnya Rega menyetujui untuk membeli Medina, dengan syarat Mommu Sonya tidak akan lagi mengganggu hidup Medina sampai kapan pun. Medina telah menjadi miliknya. Meski mungkin caranya terlihat sangat merendahkan harga dirinya. Namun, apalagi yang harus Rega lakukan selain melakukan ini.
__ADS_1
Bersambung