
Giant menatap Medina dan Ibunya secara bergantian. Giant tidak menyangka dengan apa yang baru saja dirinya dengar. "Jadi Kak Medina ini adalah Kakak aku?"'
Medina tertawa kecil melihat wajah terkejut Giant. "Iya Giant,apa kamu terkejut karena dulu pernah melamarku dan ingin menikahiku?"
Giant mendengus kesal karena Medina yang kembali membahas apa yang pernah terjadi diantara dirinya dan Medina saat itu. "Sudah Kak. jangan dibahas lagi"
Medina tertawa lucu melihat wajah malu Giant. Tapi tawanya langsung terhenti ketika dia mendengar deheman keras dari suaminya. Medina menoleh pada Rega yang sedari duduk di sampingnya. Wajah Rega yang terlihat dingin dan kesal itu membuat Medina menghembuskan nafas kasar.
Oh, ayolah masa masih saja cemburu pada adikku sendiri.
"Ini bagaimana ceritanya sampai Kak Medina ini bisa menjadi Kakak aku"
Ibu Nia menghela nafas dan langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu. Tentang dirinya yang tertipu dengan ucapan manis laki-laki yang ternyata hanya ingin tubuhnya saja tanpa ingin bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Hingga dia benar-benar hanya bisa menerima kenyataan yang membuatnya harus mengorbankan anaknya sendiri.
"Semuanya sudah seperti diatur dengan skenario TUhan"
Medina mengangguk mendengar ucapan Giant. Dia menyandarkan kepalanya di dada Rega. "Ya, memang semuanya telah ada yang mengatur. Tugas kita hanya harus menerima takdir yang ada"
Dan kini Medina bena-benar mempunyai keluarga dan saudara yang sesungguhnya. Medina sangat senang ketika bisa bertemu dengan Ibu kandungnya dan juga dia yang mempunyai adik laki-laki yang sangat baik dan menerima semua kenyataan yang ada.
Medina masuk ke dalam kamarnya dan melihat Rega yang sedang duduk diatas sofa dengan wajah yang di tekuk kesal. Medina segera menghampiri suaminya dan duduk disampingnya. Melingkarkan kedua tangannya di leher Rega dengan kepala yang dia sandarkan di dada suaminya.
"Sayang, apa kamu masih saja cemburu dengan Giant? Kan sekarang kamu tahu sendiri jika Giant adalah Adikku sekarang"
"Ya aku tahu, tapi aku tetap merasa kesal karena dia pernah melamarmu dan sudah hampir ingin menikahimu"
Medina tersenyum mendengar itu, dia mengecup pipi suaminya dengan lembut. "Sayang, meski Giant itu bukan adikku. Aku tetap tidak akan menerima lamarannya. Kamu tahu sendiri jika aku hanya mencintaimu"
Rega baru merasa luluh dengan ucapan istrinya itu. Rega membalas pelukan istrinya dan mencium puncak kepala istrinya dengan lembut. "Aku tidak suka kau bersama pria lain, karena mau sehebat apapun pria yang mendekatimu, hanya aku yang boleh bersamamu sampai kapan pun"
Medina tersnyum mendengar itu, dia mendongak dan menatap suaminya yang juga sedang menundukan pandangannya. Mereka saling menatap dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajah keduanya.
__ADS_1
"Sayang, sampai kapan pun aku hanya akan mencintaimu. Semua yang telah kita lewatkan benar-benar tidak mudah. Jadi aku tidak mau menyia-nyiakan perjuangan kita selama ini"
Cup..
Rega mengecup kening istrinya, dia tahu bagaimana Medina yang banyak berkorban hanya untuk bisa bersamanya. Dan kesalahan Rega selama ini bisa Medina maafkan dengan lapang dada.
"Terima kasih ya Sayang, karena sudah memberikan aku maaf kamu atas apa yang aku lakukan padamu. Aku telah banyak menghancurkan hidup kamu selama ini, tapi kamu masih mau menerima aku kembali"'
"Alasannya simple, karena aku mencintaimu.Bahkan cinta telah membuat aku bodoh"
Rega terkekeh kecil mendengar itu, dia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku senang karena kamu bodoh. Karena jika kamu tidak bodoh, mana mungkin kamu mau kembali lagi padaku"'
Medina tertawa kecil mendengar ucapan suaminya. Memang dirinya yang bodoh, tapi kebodohannya bukan hanya karena Medina yang dibodohkan oleh cinta. Tapi karena cintanya pada Rega yang terlalu besar hingga membuat Medina dibutakan oleh cinta itu sendiri. Namun yang terpenting sekarang dirinya telah bahagia bersama Rega.
******
Pagi ini Giant keluar dari apartemennya, dan dia melihat gadis yang juga keluar dari apartemen sebelah dirinya. Sebelumnya apartemen itu memang kosong dan sekarang telah ada yang menempatinya.
"Aku mempunyai tetangga sekarang"
Giant merasa salah tingkah sendiri ketika gadis itu melangkah padanya dan mengulurkan tangannya padanya. Mengajak Giant untuk berkenalan.
"Boleh berkenalan?"'
"Emm, i-iya" Bodoh, kenapa kau harus bersikap gugup seperti ini di depan wanita secantik ini.
"Siapa namamu?"
"Aku Giant"
"Sinta, senang berkenalan denganmu Giant"
__ADS_1
Gadis ceria dan periang itu langsung berlalu dari hadapan GIant dengan melambaikan tangannya, lalu dia masuk ke dalam lift.
"Dia cantik sekali, duh kenapa jantungku berdebar sekarang"
GIant segera pergi untuk bekerja, namun suasana hatinya saat ini benar-benar sedang sangat baik. GIant merasa lebih bahagia setelah bertemu dengan tetangga barunya tadi pagi. Membuat dia tidak bisa meyembunyikan senyumnya. Membuat Kendra yang melihat itu merasa bingung sendiri.
"Kau kenapa?"
Giant mengerjap, dia tersenyun pada Bosnya itu. "Tidak papa, aku hanya sedang bahagia saja. Tapi tidak tahu bahagia karena apa"
Kendra menggeleng pelan, dia tidak habis pikir dengan ucapan asistennya itu. Sedang bahagia tapi tidak tahu apa alasannya bahagia. Memang Giant ini selalu ada-ada saja. Gumamnya.
Ketika malam hari Giant kembali ke apartemennya, dia menatap ke arah pintu yang tertutup di samping apartemen yang dia tinggali.
"Kemana dia? Apa dia belum pulang?"
Giant merasa sedikit penasaran dengan gadis yang dia temui tadi pagi. Gadis bernama Sinta itu.
"Ahh, sudahlah mungkin dia sudah tidur"
Giant membuka pintu apartemennya dan masuk ke dalamnya. Dia segera mandi dan bersiap untuk tidur. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah seharian ini.
Selesai mandi, Giant tiduran di atas tempat tidur dengan tangan dia jadikan sebagai bantalan. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Mengingat kembali kejadian tadi pagi. Senyuman Sinta benar-benar terlihat manis dan membuat Giant sulit untuk melupakannya.
Dia cantik sekali.
Di luar apartemen, seorang gadis baru saja sampai di depan apartemennya di waktu yang sudah dini hari. Terlihat wajah lelah gadis itu dan cara berjalannya pun sangat berbeda.
Jika bukan demi Ibu, aku tidak akan mau melakukan ini. Maafkan aku Tuhan, karena aku selalu melakukan dosa ini.
Sinta masuk ke dalam kamarnya dengan wajah lelah dan tangisan yang pecah. Sudah terbiasa ketika dirinya pulang bekerja, maka selalu ada perasaan yang penuh rasa bersalah dari hatinya itu atas apa yang dia lakukan selama ini.
__ADS_1
Kenyataan tidak seindah apa yang aku pikirkan. Maafkan aku Ibu, maafkan aku Tuhan.
Bersambung