Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 19 #Tentang Pernikahan Selvia Dan Rega#


__ADS_3

Rega merasa dirinya berada di ruang sidang menakutkan. Dimana Daddy dan Kakak Ipar menatapnya bagaikan penjahat yang baru saja melakukan pencurian di rumahnya.


"Jadi kemana kamu semalam? Pergi tanpa kabar sampai tidak menjemput istrimu" tekan Daddy


Rega menghela nafas, dia menatap mertuanya dan Kalal Ipar secara bergantian. "Aku hanya pergi bersama teman, aku juga butuh waktu untuk bersama teman-temanku"


"Kau!" Daddy sudah mengepalkan tangannya, dia tidak suka jika asa yang berani melawannya. "...Berani sekali kau membuat putriku bersedih semalam. Sekarang jujur, apa kau pergi dengan wanita semalam?"


"Tidak. Lagian jika aku pergi dengan wanita pun, kenapa? Jika kita hanya teman. Kalian berdua tahu jika saya sudah tidak bisa melakukan apapun, meski saya memikiki wanita yang saya cintai"


Rasanya Rega sudah sangat lelah dengan penekanan keluarga Selvia padanya. Jika tidak mengingat kebaikan mereka dimasa lalu, mungkin Rega akan melakukan hal lebih dari ini. Tidak akan dia terus menuruti keinginan keluarga ini.


"Kau!" Kakak Ipar berjalan ke arah Rega duduk, menari kerah kemeja pria itu hingga Rega yang terduduk jadi berdiri sekarang. "...Aku sudah cukup sabar mendengar celotehanmu yang tidak jelas itu. Tapi, ingat! Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu melukai hati adikku"


Melihat tatapan nyalang Kakak Ipar, Rega malah terlihat biasa saja. Benar-benar terlihat tenang, tanpa rasa takut sedikit pun. "Memangnya apa yang aku lakukan sampai menyakitinya? Seharusnya aku yang tersakiti disini, kalian yang memaksa aku untuk menikahi Selvia. Kalian yang selalu menuruti perkataan Selvia, meski sebenarnya sangat tidak masuk akal"


Kakak Ipar langsung melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Rega. "Kau tahu alasannya Ga"


Rega mengangguk, dia tentu tahu alasannya. "Ya, karena dia punya penyakit dan dia yang terobsesi padaku. Tapi sampai saat ini aku benar-benar tidak menyangka jika kalian memanfaatkan kebaikan kalian padaku, untuk membuat aku terpojok dan tidak mempunyai pilihan lain. Selain menuruti keinginan kalian, yaitu menikahi Selvia"


Brukkk..


"Selvi....."


Teriakan itu dan suara sesuatu yang jatuh membuat semua orang yang berada di ruang kerja Daddy, langsung berlari keluar. Di depan pintu ruang kerja, Selvia jatuh tak sadarkan diri dengan Mommy yang memangku kepalanya.


"Ya ampun Se, cepat siapkan mobil" Daddy langsung panik melihat anaknya yang sudah tidak sadarkan diri.


Semarah apa Rega pada keluarga ini, dia tetap memiliki hati nurani dan simpatinya pada keluarga ini. Dia tetap menunjukan kemanusiaannya.  Menggendong Selvia dan membawa keluar rumah, memasukan tubuh pingsan Selvia di jok belakang mobil Kakak Ipar yang telah di siapkan.


"Cepat kamu naik mobilmu, Daddy ikut denganmu"


Rega mengangguk, dia mengambil kunci mobil dari saku jasnya. Masuk ke dalam mobil dan langsung menuju rumah sakit.

__ADS_1


******


"Menikahlah dengan Selvia"


Rega mematung mendengar ucapan Daddy, pria yang merawatnya sejak orang tuanya meninggal. Bahkan keluarga ini yang juga membiayai semua kebutuhan Rega, termasuk kuliahnya hingga dia bisa melanjutkan kuliahnya di luar negara.


"Keinginan Selvia hanya menikah denganmu Re, hanya denganmu. Tolonglah wujudkan keinginan putri Daddy ini. Kasihan dia, kamu tahu sendiri selama hidupnya dia hanya berada di rumah karena penyakit yang di deritanya sampai saat ini"


Apa ini sebuah pembalasan budi? Setelah apa yang keluarga ini berikan pada Rega, maka dia harus membalasnya dengan cara ini. Menikahi gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Dan Rega benar-benar tidak menyangka jika Selvia memiliki perasaan yang lebih padanya. Padahal dia hanya seorang anak supir dari keluarga kaya ini yang telah meninggal dunia, lalu keberuntungan menghampirinya karena dia bisa di jadikan bagian dari keluarga ini.


"Tapi saya tidak mencintainya" Alasan yang Rega berikan dengan kenyataan yang ada. Sampai saat ini dia masih mencintai sosok gadis di masa lalunya meski dia sudah membuat Rega kecewa.


"Tidak apa, kau hanya perlu menjadikan Selvia istrimu. Jadikan dia putri yang selalu kau sayangi. Biarkan dia bahagia di masa-masa sulitnya melawan penyakitnya itu"


"Tapi..."


"Saya tidak meminta apapun padamu setelah apa yang keluarga saya berikan padamu. Bahkan kamu malah memilih bekerja di perusahaan orang lain dari pada memajukan perusahaan saya. Dan saya tidak mempermasalahkan itu, meski kamu bisa seperti sekarang semuanya berkat saya. Jadi, tolong saat ini turuti permintaan saya ini"


"Saya akan ganti semuanya, yang telah Tuan keluarkan untuk membiayai hidup saya"


Dan Rega benar-benar tidak bisa menolaknya. Hingga entah pikiran gila apa yang merasuki Rega. Di saat pernikahannya dan Selvia semakin dekat, entah kenapa dia malah datang ke tempat mantan kekasihnya yang sudah bertahun-tahun dia coba untuk lupakan. Namun, ketika dia melihat wajahnya kembali, perasaan berdebar itu masih sama. Nyatanya Rega masih mencintainya.


******


"Ga, istrimu memanggilmu"


Rega mengerjap, dia menoleh pada Daddy yang berada di depan pintu ruang rawat. Rega menghela nafas berat, dia berjalan mendekati Daddy. Siap masuk ke dalam ruang rawat Selvia, namun tangannya tiba-tiba ditahan oleh Daddy. Rega menoleh padanya dan menatap bingung.


"Ada apa Dad?"


"Maafkan Daddy, karena sudah terlalu keras dengan kamu tadi. Tapi Daddy tetap memohon padamu untuk tidak meninggalkan Selvia apapun yang terjadi"


Rega tidak menjawab, dia berlalu masuk ke dalam ruang rawat Selvia. Melihat keadaan istrinya. Di ranjang pasien, Selvia tersenyum pada Rega dengan bibir pucatnya. Rega segera menghampirinya, mengelus kepala Selvia dan memberikan kecupan di keningnya.

__ADS_1


"Istirahatlah, kau harus baik-baik saja"


Selvia tersenyum, dia raih tangan Rega dan menggenggamnya. "Kak Rega akan disini selama aku belum diizinkan pulang 'kan? Temani aku"


Melihat tatapan memelas dan penuh harap dari Selvia membuat Rega tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Akhirnya dia hanya mengangguk saja, menarik kursi di samping ranjang pasien dan duduk disana.


Keluarga Selvia tersenyum, semuanya merasa senang ketika melihat lagi keceriaan di wajah Selvia. Bersyukur karena Rega masih mau mengalah dan mengerti keadaan Selvia.


Keluarga Selvia pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makan malam. Dan di ruangan ini, sekarang hanya tinggal Rega yang menjaga Selvia yang telah terlelap. Rega mengambil ponselnya diatas nakas. Menekan nomor ponsel Medina dan Rega berdiri, lalu keluar dari ruang rawat Selvia.


"Hallo"


Suara lembut itu selalu membuat Rega rindu, selalu membuat dirinya tidak ingin berpisah dari Medina. Selepas kebodohan yang pernah dia lakukan dulu, padanya. Rega telah benar-benar candu pada tubuh dan kasih sayang Medina.


"Sedang apa?" Rega duduk di kursi tunggu depan ruang rawat Selvia.


"Hanya baca buku sambil kerjain tugas. Kamu dimana? Baik-baik saja 'kan? Kok belum pulang?"


"Kenapa? Apa kau merindukan aku?"


Medina tertawa di sebrang sana, membuat Rega ikut tersenyum mendengarnya.


"Ya, aku merindukanmu. Oh ya, bagaimana keadaan Selvia? Kemarin dia telepon aku dan tanya keberadaan kamu. Memangnya kemarin kamu kemana?"


"Tidak pergi kemana-mana, hanya menenangkan diri saja. Selvia sedang di rumah sakit, penyakitnya kambuh"


"Ya ampun, kasihan sekali dia. Aku jenguk dia boleh gak?"


"Tidak"


"Loh kenapa?"


"Karena aku tidak akan bisa tahan jika bertemu denganmu"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2