
Pagi ini Medina hampir menjatuhkan dirinya sendiri. Kakinya terasa lemas saat dia melihat dua alat tes kehamilan dengan hasil yang sama. Dua garis itu terlihat lebih tegas sekarang, berbeda dengan yang kemarin dia coba disiang hari.
Ya Tuhan bagaimana ini?
Medina melirik tempat sampah di samping wastaffel. Tempat sampah itu sudah kosong. Gawat! Terakhir dia membuat alat tes kehamilan yang pertama dia gunakan di dalam tempat sampai. Jika ada yang membawanya, maka kehamilannya akan ketahuan.
Medina segera berlari ke lantai bawah, dia melihat Selvia yang berdiri di depan Rega. Medina menatap apa yang di lakukan Selvia. Berdiri di anak terakhir yang dia pijak.
"Kak, aku hamil"
Deg..
Rega mematung di tempatnya, menatap sebuah benda kecil yang di sodorkan oleh Selvia. Mengambilnya dan menatap dua garis di benda itu. Rasanya semua ini seperti mimpi.
"Ka-kamu hamil?"
Mungkin bukan hanya Rega yang terkejut mendengar itu. Tapi juga Medina, dia tidak bisa berfikir jernih ketika mendengar ucapan Selvia barusan. Jika Selvia juga hamil, lalu bagaimana dengan Medina?
Selvia memeluk Rega dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Aku senang sekali karena bisa mengandung anak Kakak"
Rega benar-benar tidak bisa berkutik, tangannya masih memegang alat tes kehamilan yang ada di tangannya. "Jadi, tolong jangan tinggalkan aku Kak"
"I-iya Se"
Buyar semua rencananya untuk menceraikan Selvia. Rega masih seorang pria yang tidak mungkin tega menggugat cerai istrinya yang sedang mengandung anaknya. Dia jelas tidak bisa meninggalkan Selvia.
"Sayang, pokoknya pernikahan kita jelas akan lebih bahagia lagi setelah ini"
Medina terdiam, memasukan kembali alat tes kehamilan miliknya ke dalam saku sweteer yang dia gunakan. Medina naik kembali ke lantai atas tanpa sempat di ketahui kehadirannya oleh Rega dan Selvia.
Masuk ke dalam kamar dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar yang tertutup. Dia mengeluarkan kembali alat tes kehamilan miliknya. Menatapnya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Tubuhnya luruh ke lantai dengan air mata yang semakin mengalir deras di pipinya.
"Aku harus bagaimana sekarang? Tuhan, kenapa harus seperti ini?"
Medina mengelus perutnya, dia bingung harus melakukan apa saat ini. Tentang dirinya yang mengandung anak Rega, tapi dia tidak bisa melakukan apapun saat mengetahui jika istri Rega juga hamil anaknya.
__ADS_1
Jelas istrinya lebih berhak atas tanggung jawab Rega. Aku siapa? Aku tidak mempunyai hak apapun atas dirinya.
Medina benar-benar tidak keluar kamar seharian ini. Dia masih bingung harus bagaimana. Dia memang sudah tidak perlu kuliah, hanya perlu segera menyelesaikan skripsi dia dan segera lulus.
Medina meraih botol kecil di dalam laci nakas. Mengeluarkan beberapa butir obat dari dalam botol kecil itu. Siap memasukannya ke dalam mulut, namun seketika terhenti saat hati nuraninya menolak apa yang akan dia lakukan. Medina menjatuhkan tangannya, membiarkan obat-obatan itu berserak di lantai. Menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Tiba-tiba saja tangan Medina mengelus perutnya. Lagi-lagi air matanya menetes begitu saja.
"Sadar Medina, dia tidak salah apapun. Semuanya kesalahanmu, jadi jangan buat anakmu juga menanggung kesalahanmu"
Medina menangis terisak dengan tangan terus mengelus perutnya dengan lembut. "Tenang ya Nak, Ibu akan menjagamu selalu. Biarlah jika nantinya kita hanya akan hidup berdua"
******
Malam ini Rega kembali dari pekerjaannya, dia langsung disambut oleh istrinya. Selvia menghampirinya dan memeluknya dengan erat. "Hai Kak, sudah pulang ya. Aku merindukanmu"
"Emm. I-iya Se, dimana Medina?"
"Kak Medina tidak keluar kamar sejak tadi, bahkan dia tidak makan siang, makan malam juga belum"
Penjelasan Selvia membuat Rega langsung menatap ke lantai atas, dimana pintu kamar Medina yang tertutup rapat. "Yaudah aku mau mandi dulu"
Rega sudah terlanjur janji pada Medina untuk tetap bersamanya. Karena dia akan menceraikan Selvia. Namun, semuanya tidak mungkin dia lakukan jika keadaan Selvia sekarang sedang hamil. Mau bagaimana pun Selvia tetap sedang mengandung anaknya.
Selesai mandi, Rega keluar dari kamar mandi. Memakai pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Selvia. Lalu Rega meraih ponselnya dan menghubungi sahabatnya. Sepertinya dia benar-benar butuh teman untuk menceritakan semua beban dalam hidupnya saat ini.
"Aku butuh kalian saat ini, kita bertemu di tempat biasa"
Dan malam ini Rega kembali pergi untuk bertemu dengan teman-temannya. Meski Selvia sempat melarang, tapi Rega berhasil meyakinkannya dengan alasan ada pekerjaan mendadak bersama Aiden.
Sampai di Restaurant milik Alvaro, Rega masuk dan langsung menuju ruangan Alvaro di lantai atas Restaurant ini. Saat dia masuk ke dalam ruangan Alvaro, ternyata Aiden juga sudah berada disana. Ternyata memang kedua sahabatnya ini begitu peduli pada Rega. Bahkan Aiden saja langsung datang kesini tanpa banyak bertanya lagi. Selalu ada disaat Rega membutuhkan mereka.
"Jadi apa masalahnya?"
Rega duduk di sofa tunggal yang ada disana. Mengusap wajah kasar. "Selvia hamil"
"Apa?!"
__ADS_1
Serempak keduanya berteriak terkejut mendengar ucapan Rega barusan.
"Kenapa bisa? Aduh, kenapa masalah hidupmu tidak selesai-selesai si Ga. Baru beberapa waktu yang lalu, kau bilang akan menceraikan Selvia karena hatimu hanya mencintai Medina. Tapi kalau kejadiannya seperti ini, mana bisa" Alvaro ikut merasa frustasi dengan masalah yang sedang di hadapi oleh sahabatnya.
"Padahal aku hanya melakukannya sekali saja, ternyata bisa langsung hamil juga"
"Jelas bisa, karena tingkat kesuburan wanita itu berbeda-beda"
Ya, itu benar. Tidak akan ada korban pemer*kosaan yang bisa langsung hamil hanya karena satu kali melakukannya. Semuanya tergantung kesuburan wanita itu. Fikir Rega.
"Jadi sekarang kau mau bagaimana?"
Rega menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Entahlah, aku juga bingung"
"Ga, menurut aku kau harus benar-benar mengambil keputusan yang tepat. Istrimu sedang hamil, jangan membuat anakmu juga menjadi korban dari keegoisan kamu. Sekarang bukan lagi memikirkan tentang cinta. Tapi tentang tanggung jawab kamu pada calon anakmu" ucap Aiden
"Ya, aku setuju dengan Aiden. Kau tahu sendiri bagaimana perjuangan istriku saat mengandung sampai melahirkan anak-anakku. Dia begitu menaruhkan nyawanya untuk anaknya. Jadi, jangan sampai kamu menyakiti anakmu juga karena keegoisan kamu"
Rega memilih pulang setelah mendengar beberapa saran dari kedua sahabatnya. Sepertinya saat ini, dia benar-benar harus mengambil keputusan meski dirinya akan sangat terluka dengan keputusan yang akan dia ambil.
Masuk ke dalam rumah, Rega melihat suasana rumah yang sepi. Namun ketika dia mendengar suara derap langkah dari arah tangga membuat dia menoleh. Melihat Medina yang menuruni anak tangga.
"Baru pulang?" Tanya Medina
"Iya, aku abis ketemu Aiden dan Alvaro"
Di bawah lampu yang remang-remang karena lampu utama sudah dimatikan, jelas Rega tidak melihat wajah Medina yang kacau. Kantung matanya yang bengkak akibat banyak menangis seharian ini.
"Me, ada yang harus aku bicarakan"
Medina yang hampir melangkah menuju dapur langsung menghentikan langkahnya. Namun tetap membelakangi Rega. Tidak berniat berbalik.
"Sepertinya, kita harus akhiri semua ini"
Deg..
__ADS_1
Bersambung