Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 24 #Terlambat Bangun#


__ADS_3

Medina baru saja selesai bersih-bersih dan berganti pakaian dengan piyama tidur. Keluar dari ruang ganti dan dia melihat Rega yang sudah tertidur di atas tempat tidurnya. Medina berjalan menghampirinya. Duduk di samping tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuh Rega.


Disaat melihatmu tidur seperti ini, kenapa aku selalu merasa jatuh cinta padamu.


Medina mengelus kepala Rega, lalu mencium pipinya. "Selamat tidur Sayang"


Medina mengangkat kedua kakinya dan ikut berbaring disamping Rega. Memeluknya dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Rega. Rasanya saat ini Medina tidak ingin peduli dengan apapun. Bersama Rega adalah kebahagiaan dalam hidupnya.


"Emm" Rega bergumam pelan dan langsung memeluk tubuh Medina dengan hangat. Membuat Medina semakin nyaman dalam pelukan pria itu.


Mereka terlelap dalam pelukan yang nyaman, hingga pagi menjelang Medina terbangun dan kaget saat Rega masih berada di sampingnya. Biasanya pria itu akan pindah menjelang pagi, saat Selvia masih terlelap.


Melirik ke arah jendela dan hari sudah benar-benar pagi. Sinar matahari mulai menunjukan cahayanya dengan malu-malu. Seketika Medina langsung bangun, dia juga kenapa tidak sadar dan tidur terlalu lelap sampai tidak sadar jika Rega masih berada di kamar ini.


"Ga bangun Ga, ini sudah siang. Rega ihhh" Medina terus mengguncang tubuh Rega dengan panik. Bagaimana kalau Selvia sudah bangun dan sekarang mencari Rega kesini. Duh, mati aku. Gumamnya.


Grepp..


Medina mengerjap kaget saat tangannya tiba-tiba di cekal oleh Rega dan terjatuh diatas dada pria itu. Mata keduanya saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Medina merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang.


"Panggil aku apa barusan?"


Ck. Masih saja mempermasalahkan itu. Ini 'kan situasinya sedang gawat.


"Sayang ayo bangun ihh, ini sudah pagi. Kalau Selvia sudah bangun bagaimana?"


Bukannya melepaskan Medina, Rega malah memeluk tubuhnya dengan erat. Membiarkan tubuh Medina berada diatas tubuhnya. Rega sedang membutuhkan ketenangan. Dan rasa tenangnya adalah ketika dirinya bersama Medina.


"Sayang, bangun ihh. Kalau nanti Selvia tahu tentang...."


"Biarlah, aku hanya sedang ingin disini. Bersamamu"


Medina terdiam mendengarnya, Rega memeluknya dengan nyaman. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Medina, membuat gadis itu merinding ketika merasakan hembusana nafas hangat Rega di kulitnya.


"Sayang, aku tidak tahu apapun tentang kamu dan Selvia. Tapi tolong jangan mempersulit hidupku dengan kamu yang seperti ini. Kamu tahu sendiri jika hidupku sudah terlalu rumit selama ini. Maka akan semakin rumit, jika Selvia tahu tentang hubungan gelap kita"


Rasanya Medina ingin menjerit dan menangis ketika dia mengatakan itu. Tentang dirinya yang hanya menjadi pemuas naf*su saja dan tentang hatinya yang tidak bisa berpaling dari Rega. Semua itu benar-benar membuatnya terluka.

__ADS_1


Rega menghela nafas berat, dia melepaskan Medina dan membiarkan gadis itu bangun dari atas tubuhnya. "Baiklah, aku akan menemui Selvia sekarang"


"Tapi tunggu..." Medina menahan tangan Rega yang sudah bangun dan ingin segera turun dari tempat tidurnya. "...Kamu akan memberi alasan apa pada Selvia, tentang kejadian hari ini?"


Rega menoleh pada Medina, dia tersenyum dan mengelus kepala gadis itu. "Tenanglah, aku hanya akan bilang ketiduran di ruang kerja"


Medina sedikit bernafas lega, meski sebenarnya hatinya masih terlalu was-was. Takut jika Selvia tidak akan percaya pada ucapan Rega. Medina membiarkan Rega kalian dari kamarnya. Menatap punggung pria itu yang menghilang di balik pintu kamar.


Medina menghembuskan nafas kasar. "Semoga saja Selvia percaya dan tidak curiga"


******


Rega masuk ke dalam kamarnya dan Selvia. Dan istrinya itu sedang duduk di sofa, Selvia menatap Rega dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Darimana Kak?"


Rega menghampiri istrinya, duduk disamping Selvia. Mengelus kepalanya dan menciumnya. "Lelah banget Se, aku baru saja pulang. Semalam aku tidak sempat pulang"


Selvia tersenyum, dia mengelus kepala Rega yang menyandar di bahunya. "Kasihan sekali sayangnya aku ini. Sekarang mandi dulu ya, terus istirahat"


Rega mengangguk, ternyata pilihannya semalam untuk tidak mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian tidur adalah cara yang aman untuk mencari alasan. Rega berdiri dan berjalan gontai menuju ruang ganti.


Selvia segera menyusul Rega dan menyiapkan semua keperluan mandi Rega juga pakaian ganti untuk suaminya. Setelah itu Selvia kembali keluar kamar. Tepat pada saat itu, Medina turun dengan terburu-buru sambil mengikat rambutnya.


"Kak, baru bangun ya?"


Medina menghentikan langkahnya, dia menatap ke arah Selvia dan tersenyum padanya. "Iya Se, aku kesiangan bangun. Sekarang mau buat sarapan dulu"


"Biar aku bantu Kak"


Medina tidak menjawab, dia membiarkan saja Selvia mengikutinya ke dapur. Karena pasti Selvia tidak akan banyak membantu apa-apa selain menyicip masakannya.


"Mau buat apa Kak, pagi ini?"


Medina melihat bahan makanan yang ada, dan berfikir untuk membuat sarapan yang gampang dan simpel saja. "Masih ada nasi 'kan Se?"


Selvia berjalan ke arah alat penanak nasi, membukanya dan melihat isinya. "Masih ada Kak"

__ADS_1


"Nah, bawa kesini Se. Kita bikin nasi goreng saja"


Selvia mengangguk dan menuruti ucapan Medina. Dia menatap Medina yang mulai memotong beberapa bahan lainnya untuk nasi goreng yang akan dia masak pagi ini. Ada rasa kagum pada Medina. Karena selama hidupnya, memegang pisau saja hanya waktu dia belajar masak dengan Medina. Karena selama ini apa yang diinginkan selalu di sediakan oleh pelayan.


Kak Medina terlalu sempurna untuk sosok perempuan yang mandiri. Pantas saja Kak Kendra sampai tertarik padanya, hanya pada pertemuan pertama mereka.


Akhirnya setelah cukup lama berkutat di dapur, Medina telah menyelesaikan masakannya. Menyimpannya di atas meja makan.


"Se, ayo sarapan. Kamu panggil Rega untuk sarapan. Sekarang aku mau mandi dulu"


Selvia mengangguk "Iya Kak"


Setelah Selvia pergi, Medina juga segera pergi ke kamarnya. Dia harus mandi dan segera bersiap untuk pergi kuliah. Dan ketika dia sudah selesai bersiap, Medina segera turun ke lantai bawah. Tidak berniat sarapan, Medina langsung saja pergi tanpa pergi dulu ke dapur. Dia memang tidak berniat sarapan pagi ini. Selain waktunya yang mepet, juga karena dia merasa tidak enak pada Selvia. Mengingat semalaman Medina telah mengambil alih waktu suaminya, yang harusnya bersama dengan Selvia.


Di dapur Rega sudah beberapa kali melirik ke arah pintu, menunggu seseorang datang disana. Tapi sampai dia menyelesaikan sarapannya, orang yang ditunggu tidak kunjung datang.


"Se, kemana Medina?"


"Emm. Dia sudah sarapan duluan Kak, jadi dia langsung berangkat tadi"


Rega tidak menjawab lagi, dia berlalu dato dapur setelah menyelesaikan sarapannya pagi ini. "Aku ke kamar sebentar"


"Iya Kak"


Rega pergi ke kamarnya dan menghubungi Medina. Beruntung karena baru dering kedua, Medina sudah langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo, kamu dimana?"


"Di jalan, mau kuliah. Ada apa Sayang?"


"Kenapa tidak sarapan?"


"Aku buru-buru,  takut terlambat. Biar nanti sarapan di kampus saja"


Tangan Rega mengepal erat, dia sudah mengira jika Selvia berbohong. Melihat dari tatapan Selvia yang berpaling darinya ketika dia berbicara.


Kenapa dia berbohong?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2