
Medina menoleh ke arah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Menghela nafas pelan ketika dia tahu siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Siapa lagi, jika bukan Rega.
Merasa sudah di acuhkan sejak tadi oleh Rega, membuat Medina sedikit kesal padanya. Bahkan rasanya dia malas berbicara dengan pria itu.
Tanpa berkata apapun, Rega ikut naik ke atas tempat tidur dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan Medina. Memeluk pinggang Medina, hingga wajahnya menempel di perut gadis itu.
Hal itu tentu membuat Medina bingung dan kesal sekaligus. Bagaimana Rega sama sekali tidak mengatakan apa-apa atas sikap asuhnya tadi. Tapi sekarang dia tiba-tiba datang dan memeluknya seperti ini.
Sudahlah, apa yang kamu harapkan Medina? Sejatinya kau hany sebagai pemuas naf*su bagi Rega. Jadi wajar saja jika di datang saat ini, ketika dia merasa kesepian karena Selvia yang tertidur.
Rega mendongak ketika merasa tidak ada respon apapun dari gadisnya. Menatap wajah Medina yang diam tanpa ekspresi.
"Sayang, kamu kenapa?"
Seenaknya dia bertanya aku kenapa? Apa dia tidak sadar dengan sikapnya seharian ini?
Medina membuang nafas kasar, memang dia harus sadar diri atas keadaannya. Tentang posisinya bagi Rega.
"Tidak papa"
Rega bangun dari tidurannya di atas pangkuan Medina. Menatap wajah gadis itu dengan bingung. Mengecup bibir Medina, namun gadis itu hanya diam saja. Tidak memberikan respon apapun.
"Sayang kenapa si? Apa kamu marah karena aku pergi dengan Selvia?"
Rasanya Medina mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya. Dia memang kesal, bahkan marah ketika Rega bersikap acuh dan cuek padanya. Tapi, lagi-lagi Medina sadar diri, siapa dirinya dan punya hak apa dia atas Rega.
"Tidak"
"Medina, pliss jangan buat aku semakin pusing. Kamu harus mengerti posisi aku. Karena sampai saat ini, aku tetap harus memprioritaskan Selvia. Jadi tolonglah, kamu jangan kekanak-kanakan kayak gini"
Deg..
Dada Medina terasa sesak mendengar ucapan Rega barusan. Meski tanpa Rega jelaskan, dia juga sadar atas posisinya saat ini. "Ya, aku tahu posisi aku dan siapa aku. Jadi, aku tidak punya hak apapun untuk marah atau sekedar kesal padamu. Aku mengerti"
Medina turun dari atas tempat tidur, berjalan keluar kamar tanpa menghiraukan Rega yang masih berada di atas temlat tidurnya. Medina hanya perlu menenangkan diri dan hatinya.
Berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan ini. Medina merasa dirinya lebih tenang saat bisa seorang diri seperti ini. Menikmati angin sore menjelang petang yang menerpa tubuhnya.
__ADS_1
Nyatanya, aku tidak baik-baik saja ketika melihatnya bersama Selvia. Meski Selvia adalah istrinya.
Hatinya tetap terluka dengan semua ini, dengan keadaan yang terjadi pada dirinya dan hidupnya. Namun, apa yang bisa Medina lakukan ketika takdir Tuhan lebih kuat daripada jalan hidup yang dia buat sendiri.
******
Duduk berdua di atas sofa, dengan layar televisi yang menyala di depan mereka. Selvia tiduran di atas pangkuan Rega dengan nyaman. Sementara Rega sudah beberapa kali menoleh ke arah pintu, menunggu seseorang datang.
Kemana dia? Hari sudah malam, tapi kenapa belum pulang juga.
Perasaan khawatir mulai merasuki perasaan Rega. Hari yang sudah gelap, tapi Medina belum juga kembali. Dia tahu jika gadis itu sedang membutuhkan waktu sendiri. Tapi apa harus selama ini? Rega mulai berfikir yang tidak-tidak pada Medina.
"Emm. Sayang, apa Kak Medina belum juga pulang?"
Rega mengerjap, dia segera menoleh pada Selvia dan menggeleng pelan. "Belum"
Selvia bangun, dia meraih ponsel di atas meja dan menekan nomor ponsel Medina untuk menghubunginya. Beberapa saat dering ponsel berbunyi, namun tidak mendapatkan jawaban dari Medina.
"Tetap tidak di angkat, kira-kira kemana ya Kak Medina?"
"Entahlah, sudah malam sebaiknya kau tidur. Kau tidak boleh sampai kurang tidur. Harus menjaga kesehatanmu, agar penyakit kamu tidak kambuh lagi"
Rega menatap istrinya yang sudah benar-benar terlelap di atas tempat tidur. Dia mengelus kepalanya dan memberikan kecupan di kening istrinya itu.
"Istirahatlah"
Rega beranjak keluar kamar setelah memastikan Selvia yang sudah terlelap. Berjalan menuju ruang tengah, dan tepat pada saat itu pintu terbuka. Rega menatap Medina yang masuk ke dalam rumah dengan sedikit mengendap-ngendap. Mungkin Medina memang belum menyadari keberadaan Rega disana.
"Darimana kau?!"
Medina mematung ketika dia hampir sampai di anak tangga pertama. Menoleh pada Rega yang menatapnya dengan tajam. Aduh, kenapa harus ketahuan si. Gumamnya.
Rega berjalah mendekatinya, menatap tajam menusuk ke relung hati Medina. Membuat Medina merasa merinding dengan tatapan Rega itu.
"Darimana? Keluyuran sampai malam begini? Ingin jadi wanita malam? Iya?"
Deg..
__ADS_1
Kenapa ucapan Rega kali ini terasa begitu menyakitkan daripada dia yang menyuruh Medina menggodanya di saat malam pertama mereka di kamar hotel waktu itu.
"Aku habis cari angin"
Rega mencengkram lengan Medina, menatapnya dengan tajam. "Cari angin, atau cari pria lain?"
Medina meringis ketika cengkraman tangan Reha terasa sangat kuat di pergelangan tangannya. "Lepasin Ga, kamu apaan si? Aku cuma cari udara segar saja"
Rega tidak mengatakan apapun lagi, dia menarik Medina ke lantai atas. Masuk ke dalam kamar Medina dan menghempaskan tubuh Medina dengan kasar di atas tempat tidur.
"Ga, kamu mau ngapain?"
Mendengar Medina memanggilnya seperti itu, semakin membuat Rega kesal. Dia membuka kaosnya dengan kasar, melempar ke sembarang arah. Lalu menindih tubuh Medina dengan tertumpu pada kedua tangannya. Menatap Medina dengan tajam.
"Ka-kamu mau apa?"
Tubuh Medina mulai bergetar di bawah Rega yang mengungkungnya. Tatapan pria itu benar-benar terlihat menakutkan.
"Menghukummu yang berani membuat aku khawatir dan kesal"
Cup..
Tidak lagi membiarkan Medina berbicara, Rega langsung melu*mat bibir Medina dengan sedikit kasar. Bahkan dia tidak membiarkan Medina untuk jeda mengambil nafas. Hingga gadis itu memukul dadanya ketika dia mulai kehabisan nafas. Akhirnya Rega melepaskan tautan bibir mereka.
"Layani aku sampai puas, malam ini"
Tes...
Air mata yang menetes begitu saja di sudut mata Medina ketika dia mendengar ucapan Rega. Perkataan Rega kali ini benar-benar telah melukai hatinya.
Rega mengerjap kaget ketika melihat air mata Medina. Dia menyingkir dari atas tubuh Medina dan merebahkan tubuhnya di samping gadis itu. Terlalu pusing dengan keadaan dan sikap Medina yang membuatnya kesal hari ini, telah membuat Rega hilang kendali. Sampai dirinya memperlakukan Medina seperti ini sekarang.
Hiks..hiks..
Isakan kecil Medina semakin membuatnya frustasi. Rega beringsut mendekati Medina dan mendekap tubuhnya dengan erat. Mengecup bahu gadis itu.
"Sayang maaf, aku sedang terpancing emosi"
__ADS_1
Medina tidak menjawab dia hanya terdiam dengan tubuh yang bergetar.
Bersambung