
Makan malam kali ini terasa lebih menyenangkan bagi Rega. Setelah puluhan tahun dia hanya makan seorang diri, jika bukan ada teman-temannya yang datang untuk menemaninya makan malam.
Tapi sepertinya sekarang ini teman-temannya tidak mungkin datang lagi kesini hanya untuk menemaninya makan malam. Karena kedua sahabatnya telah memiliki keluarga. Sudah pasti keduanya hanya sibuk dengan keluarga masing-masing mulai saat ini.
Dan beruntungnya ada Medina, membuat makan malam Rega tidak akan lagi terasa sepi. "Kamu yang masak makanan ini?"
"Iya, kenapa memangnya?"
"Tidak papa, masakanmu enak"
Sebenarnya hanya sebuah pujian sederhana, tapi entah kenapa Medina sangat senang mendengarnya. Dia merasa jika masakannya cocok di lidah Rega.
"Aku sudah selesai, habiskan makananmu dan susul aku ke ruang tengah"
Medina mengangguk, dia melihat Rega yang berlalu dari ruang makan. Rasanya masih seperti mimpi bagi Medina, dimana dia bia melihat lagi pria itu bahkan sekarang tinggal bersamanya. Meski statusnya adalah pemuas naf*su untuk Rega. Medina tidak apa-apa, asalkan dia bisa bersama pria itu. Pria yang dia cintai.
Selesai dengan makanannya, Medina segera menyusul Rega ke ruang tengah. Dilihatnya pria itu sedang duduk di atas sofa dengan televisi besar yang menyala di depannya. Medina berjalan mendekat ke arahnya, duduk di samping Rega dengan jarak aman. Medina takut jika Rega tidak nyaman saat dia duduk terlalu dekat dengannya.
Namun, sepertinya pikiran Medina salah. Rega malah menggeser posisi duduknya dan merangkul bahu Medina. Mengecup kepalanya dengan lembut. "Kenapa duduknya jauh-jauh gitu?"
"Emm. Ti-tidak papa, hanya takut kamu akan terganggu denganku"
Cup..
Rega kembali mencium pipi Medina dengan gemas. Dan hal itu selalu membuat Medina berdebar, dia tidak bisa mengartikan apa maksud Rega atas semua yang dia lakukan. Nyatanya Medina tetap menganggap semua ini hanya sebagai tanda jika dirinya memang hanya sebatas pemuas naf*su untuk Rega.
"Aku memang terganggu dengan keberadaanmu, bahkan mungkin bukan hanya aku saja tapi juga dia"
Medina melirik ke kanan dan kiri, mencari siapa yang di maksud oleh Rega. Disini hanya ada mereka berdua, lalu siapa yang Rega sebuat 'dia' itu. Hingga Medina menyadari lirikan mata Rega tertuju pada bagian celana panjang miliknya dan ada sesuatu yang menonjol di balik celananya itu.
Ya Tuhan...
"Sepertinya aku tidak lanjut menonton, lebih baik kita ke kamar saja"
__ADS_1
Medina menjerit tertahan ketika Rega tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan menggendongnya menuju anak tangga. Medina mengalungkan tangannya di leher Rega. Dia menatap wajah pria itu dengan jarak yang dekat. Medina mencoba mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sulit untuk mengambil pasokan oksigen saat dia berada sangat dekat dengan Rega.
Apa dia mendengar detak jantungku yang begitu kencang ini?
"Buka pintunya"
Medina mengerjap saat Rega menyuruhnya membuka pintu kamar. Setelah pintu terbuka, Rega segera masuk dan menutup pintu dengan kakinya. Berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuh Medina di atas tempat tidur dengan perlahan. Medina menatap Rega yang mengukung tubuhnya itu. Semakin wajah pria itu mendekat, maka jantung Medina semakin berdebar kencang. Dan akhirnya bibir Rega menempel di bibir Medina.
Semuanya di mulai dari ciuman yang hangat di bibirnya.
******
Medina menggeliat saat sinar matahari mengganggu tidurnya. Dia mengucek matanya yang terasa perih dan silau dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamar melalui jendela kamar yang terbuka. Ketika matanya benar-benar terbuka, Medina melihat punggung lebar yang berdiri tegap menghadap jendela. Rega berdiri di sana tanpa memakai bajunya, hanya menggunakan celaan panjang saja. Dia biarkan bagian atas tubuhnya polos dan terkena sinar matahari pagi.
Medina bangun terduduk di atas tempat tidur, menarik selimut sampai ke dada untuk menutupi tubuh polosnya. Semalam dia telah melakukan lagi dengan Rega untuk yang kedua kalinya. Dan semalam terlihat Rega yang memperlakukannya dengan sangat lembut. Bahkan dia tidak lagi berlaku kasar seperti saat di kamar hotel waktu itu.
Rega berbalik dan melihat Medina yang sudah terbangun. Dia berjalan mendekatinya, memberika kecupan selamat pagi di kening dan kedua pipinya. "Baru bangun, mandi sana. Aku sudah siapkan sarapan untukmu"
Medina melirik nakas di samping tempat tidur, sudah ada sepotong sandwich dan segelas susu disana. "Maaf karena aku bangun kesiangan, harusnya aku yang menyiapkan sarapan untukmu"
Medina tersenyum, dia mengambil segelas susu itu dan meminumnya. Menyimpannya kembali di atas nakas, lalu dia mengambil sandwich itu dan mulai menggigitnya dengan pelan.
"Enak juga, dia memang pintar masak sejak dulu"
"Sayang, ini makanan untukmu. Cobain ya, aku pertama kali membuat ini"
Medina yang masih memakai baju seragam sekolahnya, tertawa melihat kekasihnya yang memakai apron dan membawa pring dengan dua sandwich buatannya. Menyodorkan padanya dan meminta Medina untuk mencobanya.
Di gigitan pertama, Medina sudah merasa makanan ini sangat enak, membuat dia mengacungkan jempolnya ke arah Rega.
"Gimana? Enak?"
"Sangat enak, kamu memang pandai sekali memasak Sayang"
__ADS_1
"Tentu, Adrega gitu"
Medina hanya tertawa melihat kesombongan Rega. Kekasihnya itu memang selalu bisa membuatnya bahagia saat itu.
******
Medina mengerjap ketika suara pintu ruang ganti terbuka. Rega muncul disana, sudah siap dengan pakaian kantor dan tas kerja di tangannya. Penampilan Rega ini semakin membuat dirinya terlihat tampan. Medina saja sampai terdiam menatap wajah tampan Rega. Seolah matanya tidak rela berkedip saat melihat pemandangan indah di depannya ini.
"Aku berangkat kerja dulu, kamu baik-baik di rumah"
Rega berjalan mendekati Medina dan memberikan kecupan di keningnya.
"Tapi, aku harus kuliah hari ini"
"Ohh kau masih kuliah, bukannya seharusnya sudah lulus ya?"
"Aku cuti kuliah dua tahun, jadi masih harus menyelesaikan kuliah 'ku tahun ini"
Rega mengangguk mengerti, dia sedikit berfikir. "Emm, kalau gitu kamu di antar oleh Pak Yan saja"
"Sebenarnya aku bisa naik taxi atau ojek online saja kok"
"Tidak bisa, mulai sekarang kau harus pergi bersama Pak Yan jika aku tidak bisa mengantarmu"
Medina mengangguk saja, selama dia masih bisa menjalani kuliahnya. Maka tidak akan jadi masalah baginya jika berangkat dengan siapapun atau pakai apapun. Setelah Rega benar-benar pergi bekerja, Medina langsung bersiap-siap untuk kuliah.
Dia turun ke lantai bawah dengan tas selempang dan buku dalam dekapannya. Pak Yan sudah menunggunya di ruang tengah. Menganggukan kepalanya dengan hormat pada Medina saat gadis itu sudah sampai di depannya.
"Mari Nona"
"Iya Pak"
Dan hari ini menjadi awal yang baru dalam hidup Medina. Dia pergi kuliah dari rumah Rega dan kembali pulang ke rumah itu juga.
__ADS_1
Bersambung