Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 74 #Menjenguk Selvia#


__ADS_3

Rega masih memikirkan cara untuk menceritakan pertemuannya dengan Kendra dan pria itu yang memintanya untuk menemui  Selvia yang katanya sedang sakit. Rega takut jika istrinya akan marah dan merasa jika Rega masihi memperdulikan Selvia. Tapi mengingat saat tadi Medina sendiri yang bertanya tentang Rega yang tidak berniat menemui Selvia saja, sudah menjadi hal aneh bagi Rega.


Rega mengelus rambut istrinya yang sedang berada dalam pelukannya. "Sayang, kenapa tadi kamu menyuruh aku untuk menjenguk Selvia?"


Medina menghelal nafas pelan, dia medongak dan menatap suaminya yang juga sedang menatap ke arahnya. "Sebenarnya aku merasa penasaran dengan keadaan Selvia.  Jadi aku ingin menjenguknya. Tapi aku juga tidak mungkin menjenguknya tanpa ditemani dengan kamu"


Sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk Rega bisa menceritakan tentang pemintaan Kendra saat di kantornya. "Begini saja, besok sebelum aku berangkat ke kantor, kita temui dulu Selvia di rumah sakit. Dan setelah itu kau bisa ikut aku ke kantor"


Ikut ke kantor?


Medina belum pernah pergi ke tempat kerja Rega selama ini. Dan sekarang Rega mengajaknya pergi ke tempat dia bekerja. Medina jadi membayangkan sendiri seperti apa tempat kerja suaminya ini.


"Sayang, apa tidak papa jika aku ikut ke tempat kerjamu? Aku takut jika nanti malah mengganggu pekerjaanmu"


Rega tersenyum, dia mengecup kening istrinya dengan lembut. "Sayang, tidak akan ada yang marah. Lagian aku sudah kesal dengan jika hanya melihat Aiden yang bermesraan saat istrinya datang ke kantor. Hampir setiap hari Aiden selalu meminta istrinya untuk mengantarkan makan siang untuknya. Padahal dia saja yang ingin bersama istrinya saat bekerja"


Medina terkekeh kecil ketika mendengar suaminya yang merasa iri pada sahabat sekaligus atasannya itu, karena Aiden yang selalu bermesraan di dalam kantor bersama istrinya sementara Rega tidak. Dasar suamiku ini memang suka ada-ada saja. Gumamnya dalam hati.


"Baiklah, aku akan ikut kamu ke kantor besok"


Rega mengangguk dengan wajah senang. Lalu dia membaringkan tubuh istrinya diatas tempat tidur diikuti olehnya. TIdur dengan saling berpelukan adalah hal ternyaman yang selalu membuat Rega tidur dengan lelap.


Dan pagi ini Medina sudah bersiap untuk ikut suaminya. Mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit.


"Sayang apa kita tidak membelikan dulu sesuatu untuk Selvia"


"Tidak perlu, lagian kita mau datang menjenguknya saja sudah lebih dari beruntung. Tidak perlu membawa apapun"


Medina menggeleng pelan dengan sikap suaminya itu. Masih saja Rega marah pada Selvia, bahkan dirinya sampai tidak pernah mau membahas jika hal itu tentang Selvia.

__ADS_1


"Berhenti di depan sana, Sayang"


"Mau apa? Kau  ingin membeli buah?"


Medina mengangguk dengan cepat. "Ya aku ingin buah"


Mendengar istrinya yang menginginkan sesuatu tentu saja Rega akan menurutinya. Rega menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai buah di pinggir jalan.


Medina membuka jendela mobil dan memesan satu parcel buah pada si penjual. Dan ketika melihat istrinya yang membeli sebuah parcel buah, Rega langsung mendengus kesal karena pasti Medina membeli itu untuk menjenguk Selvia. Bukan untuk dirinya sendiri.


"Kau berbohong padaku ya?"


Medina menoleh pada suaminya yang sedang mengemudi dengan wajah kesal. "Kenapa? Aku tidak berbohong apapun. Aku memang ingin membeli  buah ini"


"Tapi bukan untuk kamu"


Rega tidak menjawab, lebih tepatnya dia merasa tidak peduli dengan semua itu. Rega menjenguk Selvia saja juga karena Kendra yang sengaja datang ke kantornya dan memohon pada Rega untuk menemui Selvia yang sedang sakit.


Rega masih sedikit menghargai keluarga Selvia sebagai orang-orang yang pernah menampung dirinya di rumah mereka dan membiayai hidupnya. Meski Rega sadar jika tidak semuanya karena mereka peduli padanya. Tapi hanya karena rasa bersalah Ayahnya Selvia padanya, karena dia yang sudah menyebabkan Ayahnya Rega meninggal dunia.


Namun REga masih menghargai Kendra dan Nyonya Sirena,karena memang mereka tidak tahu tentang kejadian masa lalu yang menimpa Ayahnya Rega adalah akibat  dari orang yang mereka sayangi.


"Kenapa kamu masih saja baik pada dia? Padahal kamu tahu sendiri jika dia sudah membuat kita berpisah karena keegoisannya itu"


Medina tersenyum mendengar itu, dia mengelus tangan suaminya itu dengan lembut. "Sayang, aku bukannya tidak kesal dan marah pada apa yang dilakukan oleh Selvia. Tapi aku merasa jika saat ini sudah saatnya kita melupakan semua yang telah berlalu. Karena menyimpan sebuah kebencian juga tidak mungkin membuat kita bahagia dan hidup dengan tenang"


Rega benar-benar merasa bangga dengan istrinya ini. Medina bisa berfikir sebijak itu dan membuat Rega merasa jika Medina memang tidak mempunyai rasa dendam pada siapapun.


"Sayang, sudah sampai ayo turun. Kenapa kamu masih saja diam dan tidak ingin segera turun"

__ADS_1


Medina merasa heran dengan suaminya yang masih saja diam dan seolah tidak ingin segera turun dari mobil ketika mereka telah sampai di rumah sakit. Tapi Rega masih saja diam disaat Medina sudah membuka pintu mobil dan siap keluar dari dalam mobil.


"Sebenarnya aku sangat malas untuk bertemu lagi dengan dia"


Medina tersenyum tipis, dia mengelus lengan suaminya. "Sayang, kita hanya menjenguknya sebentar saja. Setelah itu kita akan segera pulang"


Akhirnya meski merasa malas, Rega tetap harus segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu. Bertanya pada seorang perawat untuk menemukan ruangan yang ditempati oleh Selvia. Setelah mengetahui ruangan yang ditempati oleh Selvia, Medina dan Rega langsung menuju ke sana.


Masuk ke dalam ruang perawatan, Medina menatap Selvia yang terbaring lemah dengan selang medis yang terpasang di beberapa tubuhnya. Selang oksigen yang juga terpasang di hidungnya.


Nyonya Sirena melihat kedatangan Rega dan Medina langsung tersenyum bahagia. Karena dia bisa mewujudkan keinginan putrinya yang sedang sakit.


"Akhirnya kalian datang juga"


Medina tersenyum mendengar itu, dia menyalami Nyonya Sirena dengan sopan. Dan hal itu membuat Nyonya Sirena sedikit tertegun. Dia telah mendukung putrinya ketika dia ingin mendapatkan Rega. Padahal Selvia tahu jika Rega telah mempunyai wanita yang dicintainya.


"Kak Re-rega"


Medina melirik suaminya yang masih terdiam di dekat pintu. Tanpa berniat masuk dan menyapa orng-orang yang ada didalam ruangan ini.


"Sayang sini" Medina mlambaikan tangannya pada Rega.


Rega menghembuskan nfas pelan, dia melangkah mendekati istrinya. Merangkul pinggang Medina, seolah dia sedang menunjukan jika saat ini dia begitu bahagia bersama wanita yang saat ini sedang mengandung anaknya.


Selvia tersenyum lirih melihat itu, bagaimana dulu dia memaksa Rega dan tidak memikirkan perasaan pria itu. Yang dia pikirkan saat itu hanya tentang perasaannya saja.


"K-kak, ma-maafkan aku"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2