
Untuk pertama kalinya Medina datang ke kantor tempat bekerja suaminya ini. Ketika dia masuk ke dalam ruang kerja suaminya, dia langsung menatap ke sekelilingnya. Dan hal yang paling tidak dia sangka adalah ketika melihat sebuah foto yang terpajang diatas meja kerjanya. Sebuah foto yang diambil ketika adegan berciuman diacara pernikahan mereka saat itu.
Medina terkejut saat Rega yang memeluknya dari belakang. "Sayang, nanti di lihat orang lain, malu"
Rega malah mengecup bahu Medina dengan lembut. Seolah tidak memperdulikan ucapan Medina itu. "Kenapa harus malu? Kau istriku dan aku bebas melakukan apa saja denganmu"
Medina hanya menggeleng pelan melihat suaminya yang semakin hari semakin menempel pada Medina. Seolah takut jik Medina akan pergi darinya.
"Sayang sudah lepas ihh, kamu 'kan datang kesini untuk bekerja"
Rega mendengus kesal saat dia memngingat itu. Meski sebenarnya dia hanya ingin bersama dengan istrinya saja, tapi Rega tetap harus bertanggung jawab atas pekerjaannya.
"Yaudah, kamu duduk saja di kursi, sebentar lagi kita akan makan siang"
"Iya biar aku tunggu disana, kamu fokus saja bekerja"
Medina duduk di sofa dengan menatap sekelilingnya. Dia begitu bahagia ketika untuk pertama kalinya dia bisa datang ke tempat kerja suaminya itu. Medina mengellus perut buncitnya dengan lembut. Seolah sedang memberi tahu pada anaknya dengan kebahagiaan yang sedang di alami oleh Ibunya saat ini.
Lihatlah Nak, Papa kamu begitu tampan. Ibu bahagia bersamanya, nanti jika kamu sudah lahir pasti kebahagiaan kami akan semakin lengkap.
Medina hanya membaca buku sambil menunggu suaminya selesai bekerja. Sampai dia merasa ngantuk dan akhirnya tertidur sendiri. Rega yang fokus pada pekerjaannya selesai dengan berkas terakhir yang dia periksa. Lalu menatap ke arah istrinya yang ternyata sedang terlelap di atas sofa. Rega berdiri dan berjalan menghampiri istrinya itu. Berjongkok di depan istrinya yang berbaring di atas sofa. Mengelus lembut perut buncit istrinya itu.
"Kasihan kesayangan aku ini sampai ketiduran disini"
Rega menggendong tubuh istrinya dan membawa ke sebuah ruangan istirahat yang selalu di gunakan oleh Rega jika dia ada pekerjaan lembur dan terpaksa harus menginap di kantor. Tapi untuk saat ini sepertinya memang sudah sangat jarang Rega menginap di kantor semenjak dia kembali bersama dengan Mesina. Semalam apapun pekerjaannya baru beres, Rega selalu pulang ke rumah karena memang dirinya yang tidak bisa tidur tanpa istrinya ini.
__ADS_1
Ketika entah berapa lama Medina terlelap disini, saat dia terbangun dan melihat suasana ruangan yang seperti kamar ini. Lengkap dengan kamar mandi dan lemari pakaian. Medina turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu yang dia yakini adalah pintu keluar. Dan ketika dia keluar dia melihat suaminya yang sedang duduk di atas sofa dengan makanan yang sedang dia siapkan di atas meja di depannya.
"Sayang, maaf ya aku malah ketiduran"
Rega menoleh pada istrinya dan tersenyum, dia mengulurkan tangan agar Medina segera mendekat padanya. "Sini Sayang, duduk disini"
Medina meraih tangan suaminya dan Rega mendudukan Medina dia atas pangkuannya.Dia mengelus lembut pipi Medina lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Nyenyak tidurnya?"
Medina mengangguk dengan wajah yang masih terlihat khas bangun tidur. "Aku lapar"
Rega terkekeh lucu melihat wajah istrinya itu, dia mengecup kembali bibir istrinya dengan lembut. "Ayo makan, aku sudah beli makanan untuk kita. Biar aku suapi kamu makan ya"
Medina mengangguk saja dengan wajah polosnya. Hal itu tentu saja membuat Rega merasa sangat gemas dengan istrinya itu. Rega mengambil makanan dan menyuapi istrinya yang berada di atas pangkuannya dengan lembut. Medina benar-benar sedang dalam mode manja pada suaminya ini, Dia bahkan mengunyah makanan sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Siapa yang berkunjung ya Sayang?" tanya Medina sambil menoleh pada suaminya.
Rega menatap mobil itu dengan mata menyipit, sepertinya dia tahu siapa yang datang ke rumahnya ini. "Ayo kita turun saja sekarang"
Medina mengangguk, dia baru saja membuka sabuk pengaman di tubuhnya dia mendengar suara teriakan Ibu Nia, lalu terlihat seseorang keluar dari dalam rumah dengan di dorong oleh Ibu Nia. Melihat itu, Medina dan Rega segera turun dan berlari ke arah mereka.
"Bu, ada apa ini?"
Ibu Nia menatap ke arah Medina, dia mengusap air matanya dengan kasar. "Medina, kamu masuk saja ke dalam rumah"
__ADS_1
Melihat Ibu yang seperti sedang menutupi hal yang sangat penting dari Medina, malah membuatnya semakin penasaran dan tidak berniat untuk menuruti permintaan Ibu. Medina melirik ke arah suami istri yang berdiri di depan Ibu Nia.
"Loh, Tuan, Nyonya" Medina menyapa dengan penuh hormat pada kedua orang tua Selvia yang sekarang berada disini.
"Sebenarnya ada apa ini?" Rega yang dari tadi hanya diam dan masih mengamati situasi baru berani berbicara.
Daddy menatap ke arah Rega dan Medina secara bergantian. Tatapan matanya berhenti pada Medina, dia menatapnya dengan lekat. Membuat Medina merasa bingung dan tidak nyaman dengan tatapan Daddy padanya. Rega yang menyadari ketidak nyamanan istrinya langsung menarik tangan Medina dan memposisikannya di belakang tubuhnya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua belum ada yang menjawabnya dan menjelaskan semua ini"
Ibu Nia sudah tidak bisa lagi menahan tangisannya. Dia memegang dadanya sendiri yang begitu terasa sesak saat dia mengetahui kenyataan yang ada saat ini. Ibu Nia menatap Medina dengan matanya yang sayu.
"Me, dia adalah Ayahmu!"
Deg..
Tubuh Medina langsung mematung seketika, dia merasa tidak percaya dengan ucapan Ibunya dan menganggap jika semua ini hanya sebuah mimpi. Namun ketika Medina jelas merasakan rangkulan tangan suaminya di tubuhnya yang hampir saja jatuh ke atas lantai. Dia sadar jika semua ini bukan mimpi dan Medina benar-benar mendengar ucapan Ibu barusan.
"Maafkan Ayah Medina, karena sudah membuat kamu telantar selama ini"
Tidak! Semuanya terasa tidak mungkin. Jika Daddy adalah Ayahnya, maka Selvia adalah adik satu Ayah dengan Medina dan selama ini kisah cinta mereka berada diantara saudara Kakak beradik. Oh Tuhan, kenapa bisa ada kebetulan dan kenyataan seperti ini? gumamnya dalam hati.
"Sayang, aku ingin masuk" lirih Medina pada suaminya, saat ini dia benar-benar belum bisa menerima kenyataan ini. Medina masih bingung harus bersikap seperti apa saat ini.
Rega segera membawa istrinya ke dalam kamar, Medina yang sedang duduk menyandar di tempat tidur dengan tangannya yang bergetar memegang gelas untuk minum. Rega segera membantu Medina memegang gelas itu dan membantunya untuk minum. Saat ini Rega biarkan dulu istrinya tenang dan dia tidak berkata apapun.Keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Bersambung