Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 54 #Kebahagiaanku Adalah Kamu#


__ADS_3

Medina menatap bangunan di depannya. Bayangan masa lalu langsung terlintas dalam ingatannya. Ketika dia berawal datang ke rumah ini hanya sebagai pemuas naf*su. Dibeli oleh mantan pacarnya sendiri. Namun, waktu berlalu begitu cepat, hingga menjadi banyak cerita dari semua itu.


"Sayang, ayo masuk"


Rega merangkul bahu istrinya dan membawanya menaiki anak tangga menunju teras rumah. Ketika pintu di buka dan melangkah masuk, Medina menatap ke sekeliling rumah ini. Semuanya masih terasa sama, tidak ada yang berubah.


"Ayo kita langsung ke kamar saja, kamu masih butuh istirahat"


Medina mengangguk, melangkah menuju tangga. Setiap langkah kakinya, semua bayangan masa lalu terus berputar dalam ingatan Medina. Seperti kaset rusak yang terus berputar di titik yang sama. Menjadi pemuas naf*su sang mantan adalah awal dari hidup Medina. Hingga sekarang dia telah mengandung anak dari pria yang dia cintai. Pria yang pernah menjadi kekasihnya, lalu membelinya dan menjadikan dirinya sebagai pemuas naf*su sang mantan.


Pintu kamar terbuka, dan kejutannya adalah disini. Ketika Medina masuk, dia disambut dengan sebuah foto besar seorang gadis dengan seragam sekolah dan pria yang memakai jaket hitam. Keduanya terlihat sangat bahagia. Tersenyum pada kamera seolah tidak ada beban apapun.


Medina berjalan perlahan ke arah foto itu, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tentu dia ingat kapan foto ini diambil, ketika mereka resmi satu tahun jadian. Betapa kebahagiaan itu tidak pernah Medina rasakan dalam hidupnya, selain saat dia bersama dengan Rega. Hingga saat ini Rega tetap sumber kebahagiaan baginya.


Rega memeluk Medina dari belakang  menyandarkan dagunya di bahu gadis itu. "Sayang, kau tahu selama kau pergi aku hanya menatap foto itu. Aku begitu merindukanmu"


"Apa kamu tidur dikamar ini?"


Rega mengangguk. "Aku tidur disini sejak kamu pergi, karena hanya disini aku bisa membayangkan kamu dan menghirup aroma tubhmu yang masih tersisa"


Mendengar itu, air mata Medina tiba-tiba menetes. Membayangkan jika Rega juga sama sulitnya dengan dia. Tapi saat itu memang tidak ada pilihan lain untuk mereka berdua selain mengakhiri hubungannya.


"Kenapa kita harus begini? Seolah untuk bisa bersatu saja sangat sulit dan banyak rintangan. Sejak 7 tahun yang lalu aku mengenalmu, dan hidupku berubah. Semuanya berubah sejak ada kamu. Namun, semuanya kembali kelabu ketika kamu pergi. Dan ketika kita di pertemukan kembali, kenapa situasinya harus seperti ini?"


Rega memutar tubuh Medina untuk menghadapnya. Menatap Medina dengan lekat dan menghapus air mata di pipinya. "Semua ini adalah bentuk rintangan untuk menguji kuatnya cinta kita. Sayang, kita adalah dua orang yang saling mencintai dan sedang saling berjuang untuk bisa tetap bersama dan bersatu atas nama cinta"


Medina memeluk Rega, tangisannya pecah dalam pelukan pria itu. Medina menangis sesenggukan di dada Rega. Bagaimana dia merasa hancur dan terluka dengan kisah hidupnya. Saat ini Medina sedang ingin menunjukan kesedihan yang selama ini selalu dia tahan.

__ADS_1


"Sudah ya, tidak perlu menangisi semua yang telah terjadi. Aku mencintaimu dan setelah ini aku jamin kita akan selalu bersama"


Medina melerai pelukannya, dia mendongak dan menatap Rega dengan mata yang basah. "Adrega, aku mencintaimu. Tolong jangan suruh aku pergi lagi.. Hiks.. Karena nyatanya aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Kebahagiaan aku adalah kamu"


Rega menggeleng, dia sedikit mendongakan wajahnya. Menahan air mata yang siap jatuh. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Aku ingin kita selalu bersama selamanya. Karena aku juga sangat mencintaimu, Medina"


Dan kamar ini telah menjadi saksi tentang kisah mereka yang tidak mudah. Foto ketika mereka berpacaran beberapa tahun yang lalu menjadi saksi kebahagiaan ini di mulai.


******


Malam ini adalah malam pertama Medina tinggal di rumah ini lagi. Dia berjalan berkeliling rumah untuk melihat-lihat suasana rumah yang sebenarnya masih dengan situasi yang sama. Entah apa yang membawa langkah kaki Medina ke kamar yang pernah ditinggali Selvia. Masuk ke dalam kamar dan Medina merasakan suasana sepi dan sunyi. Mungkin karena memang kamar ini sudah lama tidak ada yang menempati.


Medina melangkah ke arah ruang ganti, membuka lemari dan sudah kosong. Membuka lemari satunya lagi, dan disana masih banyak pakaian Selvia.


"Apa dia tidak membawa barang-barangnya?"


Tangan Medina menyentuh setiap pakaian yang tergantung di lemari. Hingga sesuatu terasa oleh tangannya. Dia mengambil sesuatu dari saku piyama tidur yang berada diantara jejeran pakaian itu. Sebuah foto dan di foto itu adalah Rega. Sepertinya itu adalah foto Rega waktu kuliah di luar negara. Terlihat suasana di belakangnya adalah suasana kampus. Medina membalikan foto itu dan melihat sebuah tulisan disana.


Medina membaca tulisan itu, sepertinya ini sudah lama di tulis. Karena terlihat dari tinta di tulisan itu yang mulai memudar. "Jadi, selama ini Selvia memang sudah terobsesi pada Rega"


"Sayang"


Medina sedikit terlonjak kaget saat mendengar suara Rega.Terakhir dia meninggalkan Rega yang sedang tertidur. Medina segera menutup lemari dan memasukan foto itu ke dalam saku piyama yang dia gunakan. Lalu Medina segera keluar dari kamar dan melihat Rega yang berdiri di dekat televisi.


"Sayang, aku disini"


Rega menoleh dan mengehela nafas lega, dia berjalan cepat mendekati Medina dan langsung memeluk gadisnya itu. "Sayang, kamu kemana aja si? Aku takut kamu pergi lagi"

__ADS_1


Medina merasakan degup jantung Rega yang sangat kencang. Tubhnya juga sedikit bergetar. Medina mengelus punggung Rega. "Sayang, aku tidak kemana-mana. Aku tidak pergi kemana pun"


"Sayang, aku benar-benar takut kamu akan pergi meninggalkan aku lagi"


Medina terus mengelus punggung Rega, dia merasakan ketakutan yang dirasakan oleh Rega. "Sayang, aku tidak akan pergi lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu"


Rega melepaskan pelukannya, dia menatap Medina dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Kamu jangan tiba-tiba menghilang kayak gini lagi ya. Aku takut kamu pergi lagi"


Medina tersenyum, dia mengelus pipi Rega. "Sayang, aku sudah disini dan kamu tidak perlu takut lagi karena aku tidak akan pernah pergi lagi"


Rega menghela nafas pelan, entah kenapa dia merasa sangat takut ketika tidak menemukan Medina disampingnya. Karena terakhir kali dia tidak melihat Medina, gadis itu pergi dari rumah ini dan benar-benar menghilang dari hidupnya. Beruntung karena Rega masih bisa bertemu dengannya saat ini.


"Sudah, ayo duduk dulu"


Medina membawa Rega untuk duduk dinats sofa dekat televisi. Duduk berdampingan dengan Medina yang memeluk Rega. Medina mengelus dada suaminya yang masih berdegup kencang.


"Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu"


Rega memeluk Medina dengan erat. Mencium puncak kepalanya beberapa kali. "Sayang, kamu jangan pernah kayak gini lagi. Kalau mau pergi kemana pun, harus bilang dulu sama aku"


"Iya, iya. Tadi 'kan karena kamu yang masih tidur"


Rega menghembuskan nafas pelan, merasa lebih tenang karena Medina sudah berada di pelukannya. "Pokoknya kalau kamu pergi kemana pun, haru bilang dulu sama aku. Tidak peduli mau aku sedang tidur atau tidak"


"Yaudah, iya Sayang iya. Sudah dong jangan cemberut gitu" Medina mendongak dan menatap wajah suaminya dengan senyuman menenangkan.


Cup..

__ADS_1


Rega mengecup bibir Medina yang berubah menjadi sebuah ciuman.


Bersambung


__ADS_2