Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 31 #Tolong Perjelas Hubungan ini#


__ADS_3

"Dia bersama Kendra, Kakak iparmu Ga. Kenapa bisa? Duh kenapa kisahmu rumit sekali"


Rega terdiam mendengar ucapan Alvaro di telepon. Dia tahu soal Medina yang pergi bersama Kendra. Tapi tidak menyangka jika mereka akan mampir untuk makan siang dulu. Tangan Rega mengepal kuat, hatinya bergemuruh.


"Aku akan kesana sekarang!"


"Eh, eh, jangan..."


Alvaro yang memberikan info, tapi malah dia sendiri yang ketakutan ketika Rega bicara akan datang ke Restaurant untuk menemui Medina dan Kendra.


"Sial, dia mematikan teleponnya..." Alvaro jadi panik sendiri, menatap ke arah pojok Restaurant dimana Kendra dan Medina sedang makan berdua. "...Aduh apa Rega akan membunuh Kakak iparnya ya. Sial, dia 'kan emang dingin seperti pembunuh bayaran"


Di meja ujung Restaurant, Medina dan Kendra masih makan dengan tenang. Sebenarnya Kendra tidak benar-benar makan, karena dia hanya menatap Medina yang sedang makan dengan tenang.


"Kak kenapa tidak makan?" Medina menyadari bahwa Kendra malah menatapnya, bukan memakan makanan yang ada di depannya.


"Aku jadi kenyang ketika melihat kau makan"


Medina langsung meminum minumannya. "Apa aku terlihat rakus ya?"


Kendra menggeleng dengan terkekeh pelan, merasa lucu dengan ekspresi Medina. "Tidak, kau terlihat lucu saja jika sedang makan"


Medina hanya menunduk, dia merasa sedikit malu. Melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Kendra yang terus menatapnya.


"Me maaf ya" Kendra mengusap sisa makanan di bibir Medina dengan lembut.


Medina terdiam ketika Kendra melakukan itu, dia terlalu terkejut. Sedikit memundurkan tubuhnya, agar Kendra berhenti membersihkan bibirnya. Medina segera mengambil tisu dan mengelap bibirnya sendiri.


Semnetara pria yang baru saja masuk ke dalam Restaurant, harus disambut dengan pemandangan yang membuat hatinya semakin bergemuruh.


Rega berjalan ke arah Medina dan Kendra, kedua tangannya mengepal kuat. Tidak bisa dia membiarkan gadisnya bersama pria lain.


"Pulang!"


Deg..


Medina langsung menoleh pada Rega yang sudah berdiri di samping meja. Menarik tangannya dengan sedikit kasar, hingga Medina berdiri dengan tergesa. Mengambil tasnya dan menyelempangan di bahunya juga dengan sedikit terburu-buru.

__ADS_1


"Apaan si Ga?"


Rega mendelik tajam pada Medina, jelas dia tidak suka melihatnya bersama pria lain. Tapi Medina masih saja tidak sadar. "Pulang kuliah langsung pulang, bukannya keluyuran tidak jelas"


"Hei Ga, kita hanya makan siang. Kenapa kau begitu posesif pada sepupumu ini"


Rega beralih menatap Kendra dengan dingin. "Dia tidak punya siapa-siapa, jadi hanya aku yang bisa melindunginya"


"Aku bisa untuk melindunginya, aku bisa menjaga Medina"


Dan ucapan Kendra malah semakin membuat Rega kesal. Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menjaga Medina, kecuali dirinya. Dia egois? Ya, memang Rega egois dan akan tetap egois ketika semuanya bersangkutan dengan Medina.


"Tidak perlu, aku bisa menjaganya sendiri"


Rega menarik tangan Medina untuk pergi dari sana. Medina yang merasa tidak enak pada Kendra dan beberapa pengunjung Restaurant yang melihat adegan itu, hanya menunduk dan mengikuti langkah cepat Rega yang menarik tangannya.


Sampai di parkiran Rega membukakan pintu mobil untuk Medina. Dan gadis itu tidak banyak bicara apapun, dia langsung masuk ke dalam mobil Rega.


Sementara di dalam Restaurant, Kendra masih kebingungan dengan sikap Rega yang menurutnya terlalu berlebihan untuk sekedar sikap seorang sepupu. Tiba-tiba Alvaro duduk di kursi di depannya. Kendra menatap bingung pada Alvaro.


"Ada apa Al?"


Sebenarnya Alvaro tidak ingin terlalu banyak ikut campur urusan Kendra dan Medina. Namun, karena dia yang memberi tahu Rega tentang keberadaan mereka, membuat Alvaro harus menjelaskan pada Kendra.


"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur urusan kalian. Tapi, karena Rega adalah temanku, jadi aku hanya ingin memberi tahu padamu jika Rega tidak suka melihat Medina bersama pria lain. Rega hanya ingin Medina fokus pada kuliahnya dan jadi wanita yang sukses, seperti pesan kedua orang tuanya"


Gila. Kenapa aku jadi pandai mengarang cerita begini.


Kendra terdiam, dia mencerna ucapan Alvaro barusan. Sebenarnya memang masuk akal jika apa yang diceritakan oleh Alvaro itu benar.


"Yasudah, kau selesaikan makanmu. Aku pergi dulu"


Alvaro berlalu dari hadapan Kendra yang masih termenung, memikirkan ucapannya.


******


Di dalam mobil, Medina masih terdiam dengan sesekali melirik ke arah Rega yang memasang wajah dinginnya.

__ADS_1


"Ga, aku..."


Rega langsung mendelik tajam pada Medina, membuat gadis itu langsung terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya. Membuat Rega menghela nafas pelan.


"Jadi, apa kau akan tetap seperti ini?"


Medina mendongak dan menoleh menatap Rega. "Apa maksudmu?"


"Aku tidak bisa terus melihat sikapmu yang dingin padaku"


"Kalau begitu, tolong perjelas hubungan ini"


Medina hanya ingin kejelasan hubungannya dengan Rega. Dia hanya ingin Rega yang mengungkapkan perasaannya. Apapun itu, Medina akan menerimanya asal dia mendengar secara langsung dari mulut Rega. Bukan hanya sebatas praduga dirinya saja.


"Perjelas bagaimana lagi Medina? Semuanya sudah jelas, kau milikku"


"Tapi kau bukan milikku!" Tekan Medina dengan suara sedikit keras, dia sudah benar-benar lelah dengan semua ini. Jika memang dirinya hanya menjadi pemuas naf*su bagi Rega. Kenapa dia selalu bicara jika Medina adalah miliknya. Seolah Rega benar-benar mencintainya.


Rega menghentikan mobilnya di pinggir jalan, menatap Medina yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dan tatapan itu, selalu membuat hati Rega tersayat.


"Sebenarnya apa aku untukmu Ga? Aku siapa?"


"Kau milikku, kau teman hidupku. Apalagi yang harus kau pertanyakan?"


Medina menggeleng tidak percaya atas jawaban Rega. Air mata menetes begitu saja di pipinya. "Lalu Selvia siapa? Apa kau bisa menjelaskan tentang semua ini?"


Rega menghenla nafas, dia mengerti apa diinginkan Medina darinya. Tapi untuk saat ini, Rega masih belum bisa memberikan kepastian padanya. Karena dia pun masih bingung harus bagaimana saat ini.


"Apa semua yang aku lakukan tidak cukup untuk kamu bertahan denganku?"


Medina tersenyum tipis, mengusap air mata di pipinya. "Ya, semuanya sudah cukup. Semuanya cukup untuk membuktikan jika aku tidak berarti apa-apa untukmu, selain hanya sebatas pemuas naf*su saja"


"Sayang..." Rega benar-benar di buat bingung dengan keadaan ini. Tentang dirinya dan Medina, namun ada Selvia diantara mereka. "...Jangan lagi bicara seperti itu. Aku tidak suka"


Medina tidak menjawab, dia hanya menatap keluar jendela hingga mobil kembali melaju. Saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Sampai di rumah pun, Medina segera turun tanpa berkata apapun lagi pada Rega. Bahkan dia tidak menyapa Selvia yang berada di ruang tengah. Medina hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan perasaannya. Mencoba untuk menjaga hatinya agar tidak semakin terjatuh pada pesona Rega dan berharap lebih padanya.

__ADS_1


Sementara di dalam mobil, Rega hanya menghembuskan nafas berat melihat sikap Medina. "Aku akan memperjelas hubungan kita, setelah aku bisa lepas dari Selvia"


Bersambung


__ADS_2