
Medina menatap alat transportasi udara itu dengan tubh yang mematung. Ketakutannya semakin besar, membuat dia merasa pusing dan mual. Padahal dia belum benar-benar masuk ke dalam pesawat. Tapi rasa pusing dan mual itu sudah menyerangnya sejak saat ini.
Rega merangkul bahu istrinya, beberapa orang telah masuk ke dalam pintu pesawat yang terbuka. "Sayang, ayo masuk. Tidak akan ada apa-apa. Ada aku disampingmu"
Medina menoleh pada Rega, dia menghembuskan nafas pelan sebelum dia mengangguk. Rega menuntun istrinya untuk naik ke atas pesawat. Menaiki satu persatu tangga pesawat dengan perlahan. Dia tahu Medina sedang takut dan gugup sekarang. Jadi Rega mencoba untuk membuat gadisnya merasa nyaman dan aman.
Setelah duduk di kursi pesawat, Medina masih merasa ketakutan yang besar. Pengalaman pertamanya naik pesawat benar-benar membuat Medina takut setengah mati. Rega terus memeluknya, dia mencoba untuk menenangkan Medina. Memasang sabuk pengaman di tubuh Medina di saat pesawat siap lepas landas.
"Sayang aku takut" Medina semakin erat memeluk Rega. Memejamkan matanya saat guncangan mulai terasa ketika pesawat mulai lepas landas.
"Tenang Sayang, tidak akan ada apa-apa. Aku disini bersamamu. Semuanya akan baik-baik saja"
Ketika pesawat sudah benar-benar mengudara, barulah Rega mulai melepaskan sabuk pengaman di tubuh istrinya agar lebih nyaman. Memeluknya semakin erat saat dirasa tubuh Medina yang masih bergetar.
"Sayang tenang ya, aku ada disini. Semuanya akan baik-baik saja"
Medina menghembuskan nafas kasar, dia mendongak dan menatap wajah Rega. Lalu dia mulai mengendurkan pelukannya, merasa jika guncangan itu mulai hilang setelah pesawat benar-benar telah mengudara. Melirik ke arah jendela pesawat yang memperlihatkan awan putih disana.
"Ini kita beneran di udara ya?"
Rega terkekeh mendengar pertanyaan polos dari Medina. Dia meraih kepala gadis itu dan mengecupnya. "Iya Sayang, bagus 'kan?"
"Iya"
Medina merasa begitu takjub dengan pemandangan yang dia lihat saat ini. Untuk pertama kalinya dia melihat pemandangan ini. Sangat takjub dengan semua ini.
"Sayang, aku mencintaimu"
Medina menoleh, dia selalu merasa berdebar senang ketika Rega mengatakan itu. "Aku juga mencintaimu"
Medina mulai merasakan mual dan pusing setelah beberapa saat pesawat mengudara. "Sayang, kamar mandi dimana?"
"Mau apa? Disana, ayo aku antar"
__ADS_1
Medina mengangguk, kepalanya semakin terasa pusing dengan perutnya yang semakin terasa mual. "Sayang cepat ih, aku mual"
Rega segera menggendong Medina ketika dia mendengar ucapan Medina. "Kenapa tidak bilang kalau kau mual"
Rega membawa Medina ke kamar mandi, dan gadis itu langsung muntah-muntah di atas wastaffel. Rega jadi panik sendiri melihat istrinya yang terus muntah-muntah.
"Sayang, bagaimana ini? Aduh aku panik Sayang"
Medina mencuci wajahnya, dia merasa cukup lemas dan pusing saat ini. Dia mendongak dan menatap Rega dengan wajahnya yang pucat.
"Sayang, apa masih lama?"
Rega melihat arloji yang melingkar di tangannya. "Satu jam lagi kita sampai, kamu sabar ya"
Medina kembali memuntahkan isi perutnya ketika dia kembali merasa mual. Mabuk perjalanan memang pertama kali Medina rasakan. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya dia naik pesawat menjadikan dia mengalami mabuk perjalanan. Belum lagi keadaannya yang sedang hamil besar sekarang.
"Sayang, ya ampun" Rega memijat tengkuk leher Medina dengan lembut.
Medina menghela nafas pelan ketika dia sudah selesai muntah. Rega segera menggendong tubuh Medina dan membawanya keluar dari kamar mandi. Hal yang dilakukan Rega itu cukup menjadi pusat perhatian untuk semua penumpang.
Medina hanya diam, menyandarkan kepalanya di bahu Rega, dia benar-benar sangat lemas hari ini. Muntah beberapa kali benar-benar telah membuatnya lemas.
"Sabar ya sebentar lagi kita sampai" Rega terus mengelus perut Medina dengan lembut. Dia menatap wajah pucat gadisnya itu. Sungguh saat ini Rega sangat panik melihat keadaan Medina saat ini.
Dan ketika mereka sampai di Ibu kota, Rega segera membawa Medina ke rumah sakit. Dia harus memastikan jika keadaan Medina dan bayi dalam kandungannya akan baik-baik saja.
"Sayang, kenapa kita ke rumah sakit?"
Rega mengecup kening istrinya, dia terus berjalan melewati lorong rumah sakit dengan menggendong Medina. "Sayang, aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa. Jadi sekarang kamu harus di periksa oleh Dokter"
Medina tidak menjawab lagi, dia merasa sangat lemas hingga tidak ada waktu untuk mendebat Rega. Sampai di ruangan Dokter, Meidna segera di periksa.
"Jadi, bagaimana keadaannya Dok?"
__ADS_1
"Nona baik-baik saja, hanya perlu istirahat sebentar disini dengan di pasang infusan. Nona cukup kekurangan cairan. Tapi keadaan bayinya baik-baik saja"
Rega menghela nafas lega mendengar itu, akhirnya dia menunggu Medina di rumah sakit sampai Medina bisa diizinkan pulang. Rega duduk di atas kursi samping ranjang pasien, dia menggenggam tangan Medina yang sedang terlelap itu setelah Dokter memberikan obat padanya.
Cup..
Rega mengecup punggung tangan Medina. "Aku benar-benar panik melihatnya sangat lemah seperti tadi. Sehat-sehat ya Sayang"
Rega menatap perut istrinya yang membulat itu. Dia mengelus perut Medina dengan lembut. Setiap dia mengelus perut istrinya. Maka dia sering mendapatkan tendangan dari dalam sana. Membuatnya merasa senang.
"Sayang, jangan membuat Ibu kamu kesusahan ya. Kamu harus jadi anak baik, biarkan Ibumu istirahat" Rega berbicara pada bayi di dalam perut Medina.
Sampai lenguhan kecil dari istrinya membuat Rega langsung menoleh pada istrinya. Medina mengerjapkan matanya. Medina mulai terbangun setelah cukup lama tertidur. Dia menatap Rega yang berdiri di sampingnya.
"Sayang, apa kita sudah bisa pulang?"
Rega mengelus kepala gadisnya, lalu dia mengecup keningnya dengan lembut. "Sebentar ya, kita tanyakan dulu pada Dokter"
Medina mencoba bangun dan Rega yang langsung sigap dan langsung membantunya. Meletakan bantal di belakang punggung Medina agar dia nyaman.
"Sayang, aku mau minum"
Rega segera mengambilkan minum di atas nakas samping ranjang pasien dan memberikannya pada Medina.
Medina benar-benar merasa tenggorokannya kering. Dia langsung meminum air dalam gelas itu sampai tandas. Lalu menyerahkan kembali gelas itu pada Rega.
"Terima kasih Sayang"
Setelah Medina benar-benar diizinkan untuk pulang oleh Dokter. Barulah Rega segera membawanya pulang ke rumah dengan di jemput oleh supir. Di perjalanan Medina sudah merasa lebih baik. Dia menatap ke arah luar jendela. Rasanya Medina begitu merindukan suasana kota ini.
Aku kembali dan memulai kisah baru. Semoga saja hidupku akan lebih baik dari sebelumnya.
Hanya itu harapan Medina dalam hidupnya saat ini. Berharap hidupnya akan lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung