Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 56 #Obsesi Selvia#


__ADS_3

Medina menatap Rega yang masih terlelap pagi ini. Dia mengecup pipi pria itu untuk membangunkannya. Namun Rega hanya menggeliat pelan saja.


"Sayang, aku pergi ke bawah. Aku akan buat sarapan" bisik Medina di telinga Rega, dia tidak mau sampai Rega mencarinya seperti kemarin.


"Hmm"


Rega menggeliat pelan dan bergumam pelan. Medina tersenyum melihat respon suaminya. Menganggap jika suaminya telah mendengarkan ucapannya barusan.


Akhirnya Medina turun ke lantai bawah dan membuat sarapan. Medina begitu fokus dengan beberapa bahan masakan yang akan dia buat hari ini sampai suara bell pintu rumah membuatnya mengalihkan fokusnya. Bell rumah terus berbunyi hingga beberapa kali, Medina sedikit bingung karena Rega tidak mengatakan akan ada tamu yang datang. Sampai dia ingat perkataan Rega kemarin jika akan ada pihak wedding organizer yang datang hari ini.


"Ya ampun masa tamunya datang sepagi ini ya?"


Medina melangkah keluar dari dapur dan menuju pintu utama. Bell rumah lagi-lagi berbunyi seolah orang yang bertamu sangat tidak sabaran untuk di bukakan pintu.


"Iya sebentar"


Medina membuka pintu dan mematung seketika melihat siapa yang datang. "Se-selvia?"


"Kakak ngapain disini? Bukannya udah janji untuk tidak mengganggu Kak Rega lagi?"


Medina menatap ke arah perut Selvia, dan benar gadis itu tidak sedang hamil. Lalu saat dia datang ke rumah Ibu Nia waktu itu, memang benar jika dia hanya berpura-pura hamil.


"Se, ngapain kamu datang kesini? Kamu dan Rega sudah bercerai Se, jadi aku tetap tidak bisa jika harus membiarkan anakku lahir tanpa ayah"


Selvia memegang bahu Medina dan mengguncang tubuh gadis itu dengan kuat. "Kakak jahat sekali, Kakak tidak mengerti perasaanku. Pokoknya kalau aku tidak bisa memiliki Kak Rega, maka siapa pun tidak boleh memilikinya!"


Selvia mendorong tubuh Medina sampai gadis itu hampir terjatuh ke belakang, tapi beruntung Rega datang tepat waktu dan menahan tubuhnya. Jika Rega telat satu detik saja, maka tubuh Medina akan benar-benar terjatuh ke atas lantai dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kau gila hah?! Ngapain kau datang lagi kesini?"


Selvia menatap Rega dengan tatapan yang sulit di artikan. "Untuk apalagi? Ya, untuk menemui selingkuhanmu ini"

__ADS_1


Rega menarik lengan Medina dan memposisikan gadis itu di belakang tubuhnya. Berlindung di belakang tubuhnya.


"Haha. Kau gila! Dia ini calon istriku! Jadi berhenti mengganggunya!"


"Tidak!" Selvia berteriak kencang. "Sampai kapan pun Kakak tidak boleh dimiliki oleh wanita lain selain aku!"


"Jangan gila kau! Aku sudah tidak mempunyai hubungan apapun denganmu. Sekarang kau pergi dari sini, atau aku akan menelepon polisi!"


Rega menarik tangan Medina untuk masuk dan menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Tidak menghiraukan suara Selvia yang menggedor pintu dengan teriakan keras.


Medina menoleh ke belakang, sebenarnya dia cukup merasa bersalah pada Selvia yang begitu histeris ketika mengetahui Rega akan menikahinya.


Obsesi telah membuatnya terluka, dia sendiri yang membuatnya terluka saat ini.


"Sayang, kenapa kamu asal membukakan pintu? Lihat dulu kalau seperti itu. Kalau tadi sampai kamu jatuh, bagaimana?"


Medina menoleh pada Rega yang sudah duduk di atas sofa. "Aku kira tadi adalah orang dari wedding organizer yang kamu sebutkan kemarin"


Rega meraih tangan Medina yang masih berdiri di samping sofa. Mendudukan gadis itu di pangkuannya. Menatapnya dengan penuh khawatir, Rega benar-benar masih terlalu terkejut ketika melihat kejadian tadi. Bagaimana kalau sampai dirinya telat sebentar saja, maka Medina dan bayinya pasti akan benar-benar terluka.


Medina menggeleng pelan, dia mengelus pipi Rega untuk menenangkan pria itu. "Aku tidak papa, kamu tenang saja"


Rega memeluk Medina, menyandarkan di bahu Medina. "Sayang, aku akan meningkatkan keamanan di rumah ini. Takut kalau aku sedang tidak ada dia akan datang lagi. Dia itu wanita gila. Gak mungkin jika dia akan puas dan berhenti sampai saat ini"


"Selvia seperti itu, karena dia yang terlalu terobsesi pada kamu"


"Ya, yang dia rasakan bukan cinta tapi hanya obsesi semata"


Medina mengelus rambut Rega, dia tahu bagaimana dia pernah tertekan dengan kehadiran Selvia dalam hidupnya. "Sayang, kamu jangan terlalu memikirkan tentang Selvia. Mendingan kita fikirkan saja apa yang saat ini menjadi tujuan kita. Hidup bersama dengan bahagia"


Rega mendongak, menatap Medina dengan senyuman tipis. Mengecup pipi gadisnya dengan lembut. "Sayang, aku sangat mencintaimu"

__ADS_1


Medina terlonjak kaget saat dia mengingat sesuatu. Dia langsung berdiri dari atas pangkuan Rega.


"Sayang, hati-hati" Rega memegangi tangan Medina yang hampir saja terjatuh karena dia yang berdiri mendadak dan terlalu cepat.


"Sayang ih, aku lupa. Tadi 'kan aku mau buat sarapan, ehh keburu datang tamu dan semua masakannya sudah aku siapkan. Aku lanjutkan masak dulu ya"


Rega menghembuskan nafas pelan, dia meraih tangan Medina dan langsung mendudukan kembali Medina diatas pangkuannya. "Sayang, sudah kamu diam saja. Untuk sarapan dan makan siang biar kita pesan saja"


"Tapi Sayang aku sudah menyiapkan semua bahannya, lagian bukannya hari ini akan datang dari pihak wedding organizer ya?"


"Iya, jadi kita pesan saja..." Rega mengelus perut Medina yang membulat itu. Rasanya dia sangat gemas melihat perut Medina yang seperti ini. "...Aku gak mau kamu kecapean, selama ini kamu sudah terlalu capek mengerjakan banyak hal. Seperti membantu Ibu Nia mengantar pesanan, semua itu benar-benar membuatmu lelah. Dan sekarang aku tidak mau kamu sampai kelelahan"


"Aku capek sudah biasa Sayang, jadi kamu tenang saja"


Rega menggeleng pelan, dia menatap wajah Medina dan mengelus pipinya dengan lembut. "Sekarang situasinya berbeda Sayang, kau sedang hamil besar seperti ini. Jadi kesehatanmu harus benar-benar dijaga karena aku tidak mau kalau sampai kamu kelelahan"


Medina tersenyum, dia menangkup wajah Rega dengan kedua tangannya. Rasanya sampai saat ini, Medina masih belum percaya jika sekarang dirinya telah kembali bersama dengan Rega. Bahkan mereka sudah akan menikah. Mimpi mereka sejak dulu.


******


"Nanti kalau aku sudah sukses dan kamu juga sudah lulus kuliah. Kita akan menikah dan mempunyai anak yang banyak"


Medina yang masih menggunakan seragam sekolah dan berada dalam pelukan Rega, langsung mendongak dan menatap pria itu dengan wajah terkejut.


"Ya gak usah banyak-banyak juga Sayang, kamu fikir melahirkan dan mengandung itu gampang?"


Rega terkekeh mendengar itu, dia mengecup puncak kepala Medina dengan lembut. "Kan biar rumah kita rame"


"Kalau mau rame kamu adakan pesta saja"


Rega tertawa mendengar suara ketus Medina itu.

__ADS_1


Menikah? Adalah hal yang selalu menjadi tujuan dari hubungan mereka. Meski saat ini Rega masih menyelesaikan kuliahnya dan Medina juga masih belum lulus sekolah. Tapi dalam hati mereka yakin, jika suatu saat nanti mereka akan menikah.


Bersambung


__ADS_2