Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 9 #Tolong Bertahan Sebentar Lagi#


__ADS_3

Dan 3 hari sudah sejak kenadian itu, Rega benar-benar tidak kembali sampai hari ini. Bahkan pria itu tidak sama sekali memberinya kabar. Entah kenmana dia pergi, yang jelas Medina tidak bisa melakukan apa-apa karena ponsel Rega pun tidak dapat di hubungi.


Akhir pekan ini, Medina lewati seorang diri di rumah. Dia duduk sendirian di depan televisi yang menyala, namun sama sekali tidak menarik perhatiannya. Sebenarnya kemana dia pergi? Gumamnya. Dalam fikirannya tetap Rega yang menghilang beberapa hari ini.


Medina mengambil ponselnya dari atas meja, mencoba kembali menghubungi Rega. Dan kali ini baru bisa tersambung, namun tetap tidak di angkat oleh Rega. Medina jadi kesal sendiri. Sampai suara pintu terbuka membuat Medina mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Medina berdiri mematung melihat Rega yang kembali. Bukan dia tidak senang melihat Rega kembali, tapi seorang gadis yang bergelayut manja di lengan pria itu yang membuat Medina terdiam.


"Dia siapa Kak?"


Rega menatap Medina dengan tatapan yang sulit di artikan, lalu dia menoleh pada gadis di sampingnya. "Dia... Sepupu aku"


"Oh sepupu kamu ya..." Gadis itu berjalan menghampiri Medina, mengulurkan tangan padanya. "... Hallo Kak, aku Selvia. Istrinya Kak Rega"


Deg..


Seperti semua yang Medina takutkan menjadi kenyataan. Hilangnya Rega selama tiga hari, memang untuk menikahi calon istri yang dia ucapkan waktu itu. Melihat tangan yang masih terulur ke arahnya, membuat Medina tersadar. Dia mencoba menetralkan perasaannya yang sudah tak karuan.


"Oh haii, aku Medina sepupunya Rega" Medina mengatakan itu sambil menatap ke arah Rega. Dirinya terluka dengan semua ini, tetap saja Medina masih berharap bisa bersama Rega, karena perasaan cintanya masih terlalu besar untuk pria itu.


Rega hanya terdiam, melihat Medina yang mencoba tersenyum. Namun dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "Selvia, ayo ke kamar. Kamu harus banyak istirahat"


Medina menatap Rega yang berjalan ke arah gadis itu dan merangkul bahunya. Berlalu ke kamar utama di lantai bawah rumahnya. Ada rasa sesak yang tidak bisa Medina tahan. Dia berlari ke lantai atas menuju kamarnya.


Rega menatap Medina yang berlari menaiki anak tangga. Tatapan yang masih belum dapat di artikan.


"Ayo Sayang"


Rega menghela nafas lalu mencoba tersenyum pada gadis yang merangkul lengannya itu. "Iya"


Masuk ke dalam kamar, Rega menyuruh Selvia untuk tidur. "Kamu masih harus banyak istirahat, keadaan tubuhmu masih lemah"


"Tapi Kak, aku ingin tidur bersama Kakak. Lagian aku sudah tidak papa"

__ADS_1


Rega duduk di pinggir tempat tidur, mengelus kepala Selvia dengan lembut. "Kamu harus istirahat Sel, kamu harus menjaga kesehatan kamu agar tidak seperti kemarin lagi"


Selvia menggeser posisi tubuhnya, menyandarkan kepalanya di bahu Rega. "Oh ya Kak, apa Kak Medina itu tinggal disini?"


Raut wajah Rega berubah seketika saat nama Medina di sebut oleh Selvia. "Ya, dia memang tinggal disini. Orang tuanya sudah tidak ada"


"Ohh ya ampun, kasihan sekali dia"


"Tidurlah, aku ada urusan sebentar" Rega mengalihkan kepala Selvia yang bersandar di bahunya. Lalu dia berdiri.


"Temani aku Kak, aku tidak akan bisa istirahat kalau suamiku tidak ada di sampingku"


Rega menghela nafas, dia tidak bisa menolaknya. Akhirnya Rega naik ke atas tempat tidur dan menemani istrinya untuk terlelap. Rega mengelus kepala Selvia dengan lembut, agar gadis itu segera terlelap.


Melihat Selvia yang sudah tertidur, barulah Rega keluar dari kamar. Bertepatan dengan Medina yang menuruni anak tangga. Rega menghampirinya, entah kenapa dia menatap Medina dengan rasa bersalah yang tinggi. Ada yang terluka di hatinya saat melihat tatapan kecewa wanita itu.


"Mau kemana?" Tanya Rega


Medina membuka lemari es dan mengambil air dingin di dalamnya. Meminumnya untuk mendinginkan hatinya yang panas membara. Medina melirik Rega yang berdiri diam di dekat meja makan.


"Kemana istrimu?"


Sudah tahu hatinya terluka saat mengingat jika Rega telah menikah dan mempunyai istri. Namun, entah kenapa Medina sangat penasaran sampai dia tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Tidur" jawab Rega dingin


Medina mengangkar bahunya acuh, dia menyimpan kembali botol minuman itu ke dalam lemari es. Lalu berjalan melewati Rega, namun lengannyadi tangan oleh Rega. Medina menatap pergelangan tangannya yang di cekal oleh Rega.


"Tolong jangan berubah dingin padaku"


Rasanya Medina ingin tertawa mendengar ucapan Rega. Dia meminta Medina untuk tidak berubah, sementara dirinya saja sudah sangat berubah dengan Rega yang Medina kenal dulu. Medina menghempaskan tangan Rega yang mencekal pergelangan tangannya. Menatap pria itu dengan lekat.


"Aku sadar posisiku, jadi kamu tidak perlu takut kalau aku akan membongkar semuanya pada istrimu. Sampai saat ini aku tetap sadar, siapa aku dalam hidupmu"

__ADS_1


"Me, aku punya alasan sampai melakukan ini"


Medina mengangguk mengerti, dia tersenyum pada Rega. "Ya, aku tahu. Tidak mungkin kamu mlakukan ini semua tanpa alasan. Sampai saat ini, kamu masih belum puas melihat aku terluka dengan sikapmu!"


Medina pergi dari hadapan Rega dengan air mata yang menetes begitu saja. Dia usap dengan kasar air mata yang mengalir di pipinya. Medina kembali masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar itu.


Nyatanya, aku tetap hanya seorang pemuas naf*su untuknya. Dia sudah tidak mempunyai perasaan apapun lagi padaku. Namun, kenapa hatiku terlalu sakit.


******


Rega terduduk di kursi meja makan dengan beberapa minuman kaleng di depannya. Dia memijat pelipisnya yang terasa pening. Dia melakukan semuanya karena satu alasan. Tapi siapa yang percaya dengan itu. Apalagi Medina, gadis itu melihatnya tidak lebih dari pria berengsek.


Tuhan, kenapa harus seperti ini akhirnya.


Rega tidak bisa terus diam seperti ini dan membiarkan Medina terus bersikap dingin padanya. Dia berdiri dan pergi menuju kamar Medina di lantai atas. Membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Namun dia mematung di tempatnya ketika melihat Medina yang duduk di atas tempat tidur dengan memeluk lututnya dan wajah yang doa sembunyikan diantara lutut dan tangannya.


Rega berjalan mendekati Medina, naik ke atas tempat tidur dan memeluk gadis itu. "Maafkan aku Me, maaf. Tolong jangan menangis lagi"


Medina mendongak, dia langsung mencoba melepaskan pelukan Rega padanya. "Lepasin Ga, lepasin aku"


"Enggak Sayang, jangan seperti ini" Rega terus memeluk Medina dengan suara yang mulai serak. Nyatanya dia tidak bisa menahan dirinya ketika di dekat Medina.


Apa dia menangis?


Medina berhenti berontak, dia terdiam dalam pelukan Rega. Medina mendengar suara isakan kecil dari pria yang memeluknya ini. Membuat Medina bingung saja dengan keadaan ini. Kenapa Rega harus sampai menangis, jika dia memang sudah benar-benar tidak mempunyai perasaan apapun pada Medina.


Rega mendongak, dia sedikit mengusap ujung matanya yang berair. Dia menatap Medina yang terdiam. Rega mengusap sisa air mata di wajah Medina.


"Tolong bertahan sebentar lagi"


Medina hanya terdiam, dia benar-benar tidak mengerti apa yang di bicarakan Rega padanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2