Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 69 #Masih Cemburu Dengan Giant?!#


__ADS_3

Medina mengelus kepala Rega saat suaminya itu berbaring di atas pangkuannya dengan terus mengecup perut buncitnya.


"Sayang, sebentar lagi kamu lahiran? Jadi kamu akan mengambil lahiran dengan cara apa?"


Medina tersenyum sambil mengelus kepala suaminya. Memainkan rambut Rega dengan lembut. "Ya aku pasti ingin melahirkan normal. Semua perempuan juga menginginkan lahiran normal"


Rega mendongak dan menatap istrinya dari bawah. Entahlah wajah Medina terlihat sangat cantik saat terlihat dari bawah seperti ini. "Tapi Sayang, katanya proses melahirkan normal itu sangat menyakitkan"


"Tidak papa, semuanya sudah menjadi kodratnya perempuan"


Dan Medina siap dengan semua konsekuensinya nanti. Melahirkan normal ataupun melalui jalur operasi, semuanya sama mempunyai resiko masing-maasing.


"Kamu yakin Sayang?"


Medina mengangguk dengan yakin, tentunya. "Tentu Sayang, aku sudah sangat menantikan kelahiran anakku ini. Jadi aku tidak akan ragu lagi untuk melahirkan secara normal. Karena memang semua itu adalah hal yang normal untuk seorang perempuan. Jadi kamu tenang saja, aku dan bayi kita pasti akan baik-baik saja"


Rega menatap wajah istrinya yang menunjukan keyakinan yang pasti saat dia mengatakan jika dirinya siap untuk melahirkan normal. Rega mengelus perut buncit istrinya lalu mengecupnya dengan lembut. "Sehat-sehat ya untuk kalian. Papa menunggu kamu lahir Nak"


Medina tersenyum mendengar itu, dia tahu jika suaminya sedang dilanda khawatir saat ini. Jadi Medina mengerti kalau Rega terus bertanya pada Medina, apa dia yakin dan siap atau tidak saat harus melahirkan normal.


"Sayang, aku tentu tahu dan mengerti perasaanmu. Tapi kamu hanya perlu yakin dan menenangkan diri kamu. Jika aku dan anak kita pasti akan baik-baik saja" 


Rega bangun dari tidurannya, menatap Medina dengan lekat. Memang terlihat jelas jika istrinya itu begitu yakin dengan keputusan yang dia ambil. Dan Rega juga tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa mendukung keputusan yang telah diambil oleh istrinya ini.


"Kamu janji untuk baik-baik saja ya"


Medina mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya itu. "Iya, Sayang"


Di lantai bawah, Giant baru saja datang ke rumah Rega ini. Dia langsung disambut oleh Ibunya dengan hangat.


"Jadi apa kamu sengaja datang kesini?"


"Iya Bu, lagian Ibu juga kenapa tidak pernah datang ke tempat tinggalku semenjak Ibu tahu jika Kak Medina adalah anak Ibu juga"

__ADS_1


Ibu Nia terkekeh melihat anaknya yang merajuk. Dia mengelus punggung tangan putranya itu dengan lembut. "Kan Ibu berada disini juga karena Kakak kamu yang sedang hamil besar dan harus selalu ada teman di rumah ini, karena sauaminya juga masih harus bekerja"


"Kenapa tidak Ibu ajak saja Kak Medina ke tempat tinggal aku. Ibu hamil harus sering menemukan suasana baru, biar dia tidak stres"


"Nanti Ibu  akan bicarakan padanya ya"


"Yaudah kalau gitu GIant pergi ya, ada pekerjaan pagi ini"


Ibu mengangguk, dan Giant pun pergi dri rumah ini.


Medina turun ke lantai bawah setelah suaminya melepaskannya.Tidak terus menahannya dengan sikap manjanya yang beralasan selalu ingin bersamanya. Padahal sudah semalaman Rega bersama Medina.


"Pagi Bu"


"Loh Me, baru bangun ya?"


Medina mengangguk dan tersenyum, dia berjalan menghampiri Ibu Nia yang sedang duduk di atas sofa. Duduk disampingnya, Medina merangkul tangan Ibu Nia dengan menyandarkan kepalanya di lengan Ibu Nia.


"Bu, aku tidak pernah menyangka bisa melakukan hal ini pada Ibu. Bermanja pada Ibuku"


"Maafkan Ibu ya Nak, karena semua kesalahan Ibu dimasa lalu telah membuat kamu terluka dan menderita selama ini. Ibu benar-benar menyesal"


Medina hanya tersenyum dan menikmati masa berduanya dengan Ibu yang sejak dulu sangat dia rindukan kehadirannya ini. Namun mungkin memang sudah menjadi jalan hidup Medina untuk melewati semua ini dan sekarang dia bisa bertemu dengan Ibu kandungnya ini.


"Oiya Nak, tadi Giant datang kesini pai-pagi sekali. Katanya dia ingin Ibu dan kamu datang berkunjung ke apartemennya"


"Begitu ya, boleh saja Bu. Kapan?"


"Terserah kamu saja, kalau kamu bisa dan ada waktu. Ibu ngikut kamu saja"


Medina mengangguk, dia pasti harus meminta izin dari suaminya sendiri. Karena tentu saja Rega akan marah besar jika Medina pergi tanpa izin padanya.


"Nanti aku bicara dulu dengan Rega ya Bu"

__ADS_1


Ibu Ni mengangguk, dia mengelus kepala anaknya dan memberikan kecupan lembut di kepala anaknya itu.


Ibu menyayangimu, Nak.


******


Malam ini Rega kembali dari bekerja, dia masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidur. Rega langsung menghampirinya dan mengecup kening istruinya. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan menatap istrinya dengan senyuman tipis.


"Kamu baik-baik saja di rumah 'kan?"


Medina mengangguk. "Iya, aku baik-baik saja di dalam rumah. Memangnya kenapa?"


Rega menggeleng pelan, tangannya mengelus lembut perut istrinya itu. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja"


Medina beringsut mendekat pada suaminya, dia memeluk Rega dan mencium aroma tubuh suaminya. Rega sudah terbiasa dengan kelakuan istrinya ini. Medina memang sering sekali mencium aroma tubuhnya yang belum mandi seperti ini. Entahlah apa yang Medina suka dengan aroma tubuhnya in.


"Sayang, aku ingin datang ke rumah Giant, apa boleh?"


"Mau apa datang kesana? INgat ya Sayang, meski GIant adalah adikmu sekarng tapi aku tetap  mengangapnya adalah laki-laki"


Medina menghela nafas pelan, ternyata status Giant yng sekarang telah berubah menjadi adiknya saja tidak membuat Rega berubah dan tidak lagi cemburu padanya. Memang terdengar aneh, tapi dia adalah Rega, suaminya.


"Hanya ingin main saja, aku hanya ingin tahu tempat tinggal adikku itu. Lagian kenapa kamu masih saja kesal dan cemburuan pada Giant si.Kan kamu tahu sendiri jika dia adalah adikku"


Rega menatap Medina dengan wajah yang cemberut. "Pokoknya aku tidak suka,  karena dia  pernah melamarmu dan hampir menikahimu jika waktu itu kamu menerima lamaran  itu"


"Ya ampun Sayang, jadi karena itu kamu selalu merasa cemburu pada Giant. Sayang, meski saat itu bukan Giant pun yang melamarku. Aku tetap akan menolaknya, karena kamu tahu sendiri bagaimana perasaanku ini"


Rega menatap Medina dengan lekat, dan dia melihat ketulusan dibalik tatapan mata itu. Jelas Medina memang hanya mencintainya. Jadi apalagi yang Rega ragukan. Tapi sifat posesifnya itu tidak akan pernah hilang. Sampai kapanpun Rega tidak akan pernah membiarkan istrinya dekat dengan pria lain. Rega hanya takut jika Medina akan menemukan sosok pria yang lebih baik darinya. Pria yang tidak pernah mengecewkannya.


"Jadi boleh 'kan aku datang ke rumah Giant?"


"Dengan Ibu, aku izinkan. Tapi jika sendiri aku tidak izinkan"

__ADS_1


Medina tersenyum karena akhirnya dia mendapatkan izin dari suaminya ini.


Bersambung


__ADS_2