Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 30 #Perasaanku Masih Sama#


__ADS_3

Medina masih menatap Rega dengan penuh harap. Berharap pria itu akan menjawab iya, karena jika benar begitu maka Medina masih memiliki kesempatan untuk bersama Rega karena cinta. Bukan hanya sebatas pemuas naf*su saja. Namun, pertanyaan Medina benar-benar tidak terjawab.


"Jadi kau marah karena apa? Aku hanya berteman dengan Kak Kendra, kenapa kau marah?"


Rega menatap Medina dengan tajam. "Jelas aku marah, karena kau milikku. Dan apa yang aku miliki tidak boleh di miliki orang lain juga, meskipun hanya sebatas teman!"


"Lalu aku bagaimana?" Suara Medina sudah naik satu oktaf. Dia tidak bisa terus berdiam diri, Medina perlu memperjelas semuanya. "...Aku juga ingin memilikimu, aku hanya ingin kau menjadi milikku, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Karena aku tidak memiliki hak apapun atas kamu"


Rega terdiam, dia menatap Medina yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Medina sedang benar-benar berada dalam mode lelahnya. Lelah dengan semuanya, lelah dengan hidup dan keadaan.


"Jika aku tidak boleh dekat dengan pria mana pun, alasannya apa? Jelas kamu tidak mencintaiku..." Lalu Medina tertawa dengan air mata yang menetesĀ  di pipinya. "...Haha, aku bodoh sekali. Jelas karena kamu telah membeli aku untuk di jadikan pamuas naf*su. Jelas kamu tidak akan rela aku bersama orang lain, karena kamu telah membayar aku dengan harga yang mahal. Nyatanya aku tetap hanya sebagai pemuas naf*su untukmu"


Deg..


Rega terdiam mendengar itu, dia melihat bagaimana Medina menatapnya dengan penuh luka. Sungguh Rega tidak bisa melihatnya seperti ini. Tidak berkata-kata apapun, Rega memeluk Medina dengan erat. Mencium puncak kepalanya dengan lembut.


"Aku ingin pergi, lepaskan aku Ga... Hiks.."


Rega menggeleng pelan, jelas dia tidak akan pernah membiarkan Medina pergi dari hidupnya. "Tidak Sayang, sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku!"


"Tapi kenapa? Aku tidak berarti apapun untukmu, Ga aku tidak bisa terus melihat kamu bersama Selvia. Aku tidak bisa terus bersembunyi hanya untuk bersamamu. Aku lelah Ga, aku lelah"


Rega mengeratkan pelukannya, hatinya benar-benar terluka mendengar tangisan Medina. Sampai saat ini, tangisan Medina masih menjadi kelemahan dalam hidupnya.


"Apapun alasannya, aku tetap tidak akan melepaskanmu. Tolong jangan begini Sayang"


Hiks..hiks..


Tangisan Medina semakin terdengar memilukan. Bagaimana gadis itu begitu terluka dengan keadaan yang ada. Tentang hatinya yang masih mencintai Rega. Namun, hati pria itu jelas sudah berubah. Perasaannya pada Medina hanya sebatas pemuas naf*su saja. Tidak lebih dari itu.


"Sayang, tetap bersamaku sampai kapan pun. Aku akan berusaha menyelesaikan semua ini"


Medina tidak menjawab apapun, dia hanya menangis dalam pelukan Rega hingga tidak sadar dia terlelap dalam pelukan pria itu. Rega membaringkan tubuh Medina dengan pelan. Membenarkan selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Maafkan aku sayang, aku akan berusaha menyelesaikan semua ini" Rega mengelus kepala Medina dan mencium keningnya.


Hari yang sudah larut malam, membuat Rega ikut berbaring di samping Medina dan memeluknya dengan erat. Seolah takut jika Medina akan benar-benar pergi meninggalkannya.


Perasaanku masih sama Me.

__ADS_1


******


Medina terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa lebih baik. Suhu tubuhnya telah turun dan kembali normal. Tinggal tubuhnya saja yang masih terasa lemas.


Medina menurunkan kakinya ke atas lantai dan berjalan menuju ruang ganti. Berendam dengan air hangat membuat tubuhnya sedikit rileks. Medina akan memulai aktivitasnya lagi hari ini. Dirasa tunuhnya sudah benar-benar sehat.


Ketika dia selesai bersiap dan turun ke lantai bawah, Rega juga baru keluar dari kamarnya bersama Selvia yang selalu bergelayut manja di lengan pria itu.


"Loh Kak, mau kemana? Kok udah rapi"


"Kuliah Se, aku sudah lebih baik sekarang"


"Istirahatlah dulu, kau belum benar-benar sembuh"


"Tidak perlu, aku benar-benar sudah sembuh"


Rega terdiam, melihat Medina yang begitu dingin padanya. Mungkin memang gadis itu masih kesal padanya atas kejadian semalam.


"Yaudah Se, aku pergi dulu ya"


"Loh gak sarapan dulu Kak?"


Medina segera berlalu darisana, di tidak memperdulikan tatapan Rega padanya. Saat ini, Medina harus mulai menjaga hatinya. Meski cintanya tidak bisa di hapus dan di hilangkan dari hatinya. Tapi, setidaknya dia harus mulai menahan diri untuk tidak terus berharap lebih pada Rega. Karena kenyataannya, Medina tidak bisa lepas dan pergi dari Rega.


Rega masih menatap kepergian Medina. Hatinya semakin bimbang saat ini. Maafkan aku Me.


"Ayo Kak, katanya akan membuatkan aku sarapan sebelum berangkat kerja"


Rega mengerjap, dan mulai kembali pada dunia nyata jika dia telah terikat dengan Selvia.


******


Medina berjalan keluar kampus, ketika dia melihat Kendra yang menunggunya di depan gerbang kampus. Bukan tentang Kendra yang menjemputnya, namun sebuah mobil yang tidak jauh dari mobil Kendra yang membuat Medina bingung dan terkejut.


"Kak, ada apa Kakak kesini?"


"Menjemputmu, sebagai teman"


Medina tersenyum, dia melirik mobil yang berhenti di sebrang jalan. "Yaudah Kak, makasih sudah menjemput aku"

__ADS_1


Kendra langsung tersenyum, senang sekali karena Medina tidak lagi terlalu tertutup padanya. Meski dia masih terkesan menjaga jarak.


"Yaudah ayo masuk" Kendra membukakan pintu mobil untuk Medina.


"Terima kasih Kak"


Setelah mobil Kendra berlalu dari sana, Rega yang berada di dalam mobil mencengkram kemudi dengan erat hingga urat tangannya terlihat jelas.


Sial, dia mulai berani.


Rega melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Melewati mobil yang Kendra yang di tumpangi oleh Medina.


Medina jelas melihat bagaimana mobil Rega melintas dengan kecepatan yang tinggi. Dia menatap mobil yang melaju kencang itu dengan tatapan khawatir.


Dia mau kemana? Kenapa melajukan mobilnya dengan cepat seperti itu. Ya Tuhan, lindungi dia.


Sekesal dan semarah apapun, Rega tetap pria yang menjadi pemilik hatinya. Meski hubungannya dengan Rega tidak jelas akan bagaimana kedepannya. Karena sampai saat ini, Medina hanya sebagai pemuas naf*su untuk Rega.


"Emm. Me, mau makan siang dulu? Kita mampir dulu?"


Medina menoleh pada Kendra, dia tidak enak menolak ajakan pria yang sudah baik padanya. "Terserah Kakak saja"


Akhirnya mereka mampir makan siang di Restaurant yang pernah di kunjungi Medina dan Rega waktu itu. Saat masuk ke dalam Restaurant, Medina mulai gelisah karena takut jika si pemilik Restaurant akan mengenalinya.


"Hai Al, aku pesan satu meja VVIP ada tidak?"


Dan benar saja, ternyata Kendra juga mengenal si pemilik Restaurant terkenal ini. Medina menundukan wajahnya dengan tangan saling bertaut, dia takut jika pemilik Restaurant ini akan mengenalinya.


"Ya ampun, kau datang tidak bilang-bilang dulu. Jam makan siang ruang VVIP pasti penuh"


"Oh begitu ya, yasudah dimana saja asal aku mendapatkan tempat untuk makan"


"Oke"


Saat Alvaro akan berlalu, dia baru menyadari keberadaan Medina. Alvaro sedkit menyipitkan matanya. Melihat wajah Medina yang jelas tidak asing baginya.


"Loh Me..Medina ya?"


Deg..

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2