
Pagi ini Medina bangun agak siang, selain Rega yang mengajaknya begadang semalam, juga karena hari ini adalah akhir pekan membuat Medina sedikit bermalas-malasan. Berjalan gontai ke lantai bawah dan langsung menuju dapur, Medina melihat suasana rumah yang sepi. Ya, karena Rega yang pergi bersama Selvia ke rumah orang tua Selvia.
Medina mengambil minuman dingin dari dalam lemari es. Menenggaknya sampai sisa setengah, tenggorokan yang terasa kering karena baru bangun tidur. Beralan ke arah meja makanĀ dan mengambil selembar roti tawar disana, mengolesinya dengan slai.
"Kira-kira sedang apa ya Rega sekarang? Pasti sedang bercengkrama asyik bersama mertuanya"
Medina menghela nafas, dia menarik kursi dan duduk disana. Memakan roti slai nanas yang dia buat barusan.
Di tempat yang berbeda, Rega hanya menjawab seperlunya pertanyaan dari mertuanya dan Kakak iparnya. Sebenarnya dia sangat malas berada diantara keluarga kaya ini. Selalu merasa dirinya direndahkan disana.
"Kenapa kamu tidak mau pindah kerja saja Ga? Di perusahaan keluarga kami ini, bersama aku" Kakak ipar memberikan tawaran yang entah sudah ke berapa kali dia mengatakannya.
Dan sampai saat ini, jawaban Rega tetap sama. "Tidak Kak, saya nyaman bekerja dengan Aiden di perusahaannya. Dan saya ingin setia saja bekerja disana"
Kakak Ipar tidak berbicara lagi, ketika jawaban Rega masih sama. Entah apa yang membuat Rega terus menolak ajakannya untuk bergabung di perusahaan keluarga mereka. Padahal sudah jelas jika perusahaannya dan perusahaan Aiden juga tidak beda jauh. Keduanya memiliki potensi yang baik dalam bidang bisnis. Namun, Rega tetap menolak untuk pindah kerja.
"Kak, sudahlah jangan memaksa suamiku terus"
"Kakak tidak memaksa Dek, hanya mengajak saja. Kalau Rega tetap tidak mau, yasudah"
Kenyataannya bukan hanya perusahaan keluarga istrinya saja yang menginginkan Rega berpaling dari perusahaan Aiden. Sudah banyak perusahaan yang meminta dirinya pindah, bahkan dengan tawaran yang begitu fantastis.
Namun, Rega tetap setia pada sahabatnya. Yang telah mengangkat derajatnya selama ini. Karena jika tanpa Aiden, belum tentu Rega akan berwujud seperti Rega yang sekarang. Seorang pria muda yang tampan dan kaya, karier yang bagus dan kepintaran yang di atas rata-rata.
"Emm. Semuanya, saya izin kembali lebih dulu. Ada urusan sebentar" pamit Rega yang sudah mulai tidak nyaman berada diantara keluarga ini.
"Mau kemana Ga?" Tanya Daddy
"Ada urusan bersama teman saya"
"Iya Dad, Kak Rega sudah ada janji dengan temannya hari ini. Tapi aku paksa kesini, jadi dia antar aku kesini dulu"
Daddy mengangguk mengerti mendengar penjelasan Selvia. "Yaudah kamu hati-hati ya"
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu semuanya" Rega berlalu darisana.
__ADS_1
Setelah Rega pergi, Mommy langsung berpindah duduk menjadi disamping putrinya. Dia mengelus kepala Selvia dengan sayang. "Jadi, apa Rega bersikap baik padamu?"
"Apaan si Mommy, jelas dia sangat baik padaku. Aku 'kan istrinya" Meski sebenarnya hatinya bukan untukku.
Mommy tersenyum lega, setidaknya putrinya bahagia dengan pernikahan ini. "Mommy senang mendengarnya"
"Iya Mom, lagian apapun yang terjadi aku tidak mau melepaskan Kak Rega. Aku mencintainya"
"Tapi Dek, kamu tidak bisa terus memaksa seperti ini"
Selvia mendongak, dia menatap Kakak laki-lakinya dengan kesal. "Siapa yang memaksa Kak? Kak Rega menikahiku bukan karena terpaksa, dia juga pasti mencintaiku"
"Iya Kak, kamu apaan si. Mommy yakin Rega sangat mencintai Selvia. Lagian siapa si yang tidak suka dengan bidadari Mommy ini"
Selvia tersenyum pada Mommy, dia memang anak paling di manja di keluarga ini.
Kakak yang hampir mengucapkan sesuatu pada Selvia, langsung terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari Ayahnya. Seketika dia jadi bungkam.
******
"Jadi, kau membelinya dengan harga segila itu..."Alvaro bertepuk tahgan dengan tatapan kagum pada Rega. "...Kau benar-benar kaya sekarang, sudah bisa membeli mantan pacarmu sendiri. Hebat, hebat"
Rega meminum minuman di depannya, entah sudah berapa gelas dia menenggak minuman itu sampai dia mulai kehilangan kewarasan dalam dirinya.
"Ya, aku memebelinya. Tapi sial, sekarang aku harus bersama Selvia, aku tidak suka dengannya. Dia terlalu manja"
"Sudah Ga..." Aiden menahan tangan Rega yang siap menuangkan kembali minuman itu ke dalam gelasnya. "...Kau sudah mabuk, harus berhenti sekarang"
Rega menatap Aiden, dia menghempaskan tangan Aiden yang memegang tangannya. "Lepas, aku hanya ingin melupakan semuanya. Kau tahu aku sedang tidak baik-baik saja"
Dan malam ini berakhir dengan Aiden dan Alvaro yang kesusahan untuk membopong tubuh Rega yang sudah sangat mabuk. Dengan dibantu pekerja di club malam itu, Alvaro dan Aiden memapah Rega menuju mobilnya.
"Kita bawa kemana nih?"
"Ke apartemenku saja, disana kosong. Lagian tidak mungkin kita membawa kerumah dia dengan keadaannya yang seperti ini" kata Aiden
__ADS_1
Dan Rega benar-benar di bawa ke apartemen milik Aiden. Sampai pagi menjelang dia baru terbangun dengan kepalanya yang terasa sangat berat. Rega bangun dari tidurnya dengan tangan menepuk-nepuk kepalanya yang terasa berat.
"Aku dimana? Seperti tidak asing tempat ini"
Rega melirik sekitarnya dan dia baru menyadari jika berada di apartemen Aiden. Rega turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Mengguyur kepalanya yang terasa sangat berat dengan air.
Beberapa saat kemudian, Rega berjalan keluar kamar. Dia harus segera kembali ke rumah. Tidak! Sepertinya dia harus pergi ke rumah mertuanya, karena Selvia pasti masih disana.
"Tuan, ini sarapannya. Saya di suruh Tuan Aiden untuk memberikan anda sarapan pagi ini. Bagaimana keadaan anda?"
Rega menoleh ke arah seorang pria berbaju setelan hitam yang menaruh makanan di atas meja makan. Segera Rega menghampirinya. "Mobilku dimana ya? Apa Aiden mengatakannya padamu dimana mobilku"
"Semalam Tuan Aiden bilang jika mobil anda di parkiran apartemen..." Pria itu merogoh saku baju yang dipakainya dan menyerahkan sesuatu pada Rega. "...Dan ini kuncinya"
Rega menerima kunci mobilnya dan mengucapkan terima kasih pada orang suruhan Aiden itu. Setelah orang itu pergi, Rega segera mengambil ponselnya. Mengaktifkannya, karena semalam dia sengaja menon-aktifkan ponselnya. Beberapa saat ponselnya diaktifkan, langsung berbunyi dengan beberapa notifikasi. Rega melihat pesan dari Selvia dan Medina. Dia lebih dulu membuka pesan dari Selvia.
Kakak dimana? Kenapa tidak menjemput ku?
Cepat jemput aku Kak, aku akan marah kalau Kakak tidak datang menjemputku.
Rega menghela nafas pelan saat semua pesan dari Selvia hanya berisi ancaman karena dia tidak datang menjemputnya. Rega membuka pesan dari Medina sekarang, dia penasaran apa yang dikirimkan gadis itu padanya.
Kamu dimana?
Apa kamu baik-baik saja? Kamu tidak papa 'kan?
Dan kali ini Rega bisa mengerti dan membedakan. Mana yang mengkhawatirkan keadaannya, dan mana yang hanya terobsesi dengan dirinya.
Rega segera membalas pesan dari Medina.
Aku baik-baik saja.
Meski kenyataannya dia tidak baik-baik saja.
Bersambung
__ADS_1