
Medina menghampiri sepasang suami istri yang sedang duduk berduaan di atas sofa depan televisi yang menyala. Beberapa kali Selvia menyuapi Rega potongan buah. Saat Rega menyadari kehadiran Medina, dia langsung menoleh dan menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ada apa Me?"
"Emm, Ga boleh pinjam laptopnya gak. Ngerjain tugas kampus, laptop aku ketinggalan di Mess. Belum aku bawa"
"Ambil saja diruang kerja aku. Gak aku pakai juga"
Medina mengangguk "Iya, makasih ya"
"Hmm"
Medina berlalu menuju ruang kerja Rega dengan ujung matanya yang melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Namun, Medina segera menundukan pandangannya karena dia sadar siapa dirirnya di rumah ini. Bisa bebas dari dunia malam saja, sudah sangat bersyukur bagi Medina. Meski hanya jadi pemuas naf*su mantan pacarnya. Yang penting Medina bisa terbebas dari Mommy Sonya.
Medina masuk ke dalam ruang kerja Rega yang baru pertama kali dia masuki. Menatap sekelilingnya yang rapi dan terawat tentunya. Medina berjalan diantara rak buku dengan banyak buku dan berkas perusahaan yang berjajar disana. Tangan Medina menyusuri satu jajar buku-buku yang terjejer rapi disana seiring langkah kakinya berjalan.
"Buku apa ini?"
Medina menemukan satu buku berukuran sedang yang sudah sedikit usang. Tapi Medina seperti mengenal sampul buku itu. Akhirnya dia mengambil buku itu dan membukanya. Seketika dada Medina terasa sesak saat melihat isi dari buku itu.
"Ini untuk kamu, hadiah satu tahun kita pacaran ya"
Rega tersenyum, dia mengambil sebuah buku yang di beri tali pita biru di atasnya dari Medina. "Apa ini?"
"Buka saja, kamu pasti suka"
Saat Rega membuka buku itu, di halaman pertama ada foto mereka berdua dengan kalimat cinta yang di tulis tangan oleh Medina. Lembar kedua dan berikutnya berisi foto mereka berdua dengan beberapa moment yang diabadikan dalam sebuah foto. Rega tersenyum melihatnya, apalagi dengan setiap kata cinta yang Medina ungkapkan dalam tulisannya di buku itu.
"Kamu sengaja bikin ini?"
Medina mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu Rega yang duduk di sampingnya. "Iya dong, karena aku tidak punya banyak uang untuk membelikan hadiah yang mahal untuk kamu. Jadi aku buat itu saja, gak papa 'kan?"
Rega mengelus kepala kekasihnya, mencium puncak kepalanya yang bersandar di bahu Rega. "Aku suka dan aku senang kamu memberikan ini. Sangat terlihat kerja kerasmu untuk memberikan aku hadiah anniversarry kita, bukan yang hanya membeli saja"
__ADS_1
Medin tersenyum mendengarnya, sepertinya tidak tidurnya semalaman di terima oleh Rega.
Rega meraih tangan kiri Medina, dan memasangkan sebuah gelang disana. Medina terkejut dengan itu. "Hadiah dari aku, bagaimana? Suka?"
Medina menatap gelang dengan liontin kupu-kupu yang indah itu melingkar di tangannya. "Suka, sangat cantik"
"Ya, cantik seperti orang yang memakainya"
******
Medina menatap gelang yang selalu melingkar di pergelangan tangannya. Hampir tidak pernah dia lepaskan. Saat Rega memberikan gelang ini sebagai hadiah satu tahun hubungan mereka, Medina tidak pernah menyangka jika beberapa bulan kedepan semuanya akan benar-benar berakhir.
Tes..
Air mata itu jatuh menetes mengenai gelang yang di pakai olehnya. Medina selalu tidak bisa menahannya ketika bayangan masa lalu kembali datang. Semua kenangan indah dalam hidupnya ketika bersama Rega.
Medina usap kasar sisa air matanya. "Sudahlah Me, itu hanya kenangan di masa lalu"
Medina menyimpan kembali buku ke tempatnya. Lalu dia segera mengambil laptop milik Rega yang berada di atas meja kerja. Membawanya ke kamar. Medina duduk di atas tempat tidur dengan laptop diatas pangkuannya dan beberapa buku yang terbuka dan berserak diatas tempat tidur. Medina mulai mengerjakan tugasnya.
"Kak, aku mengantuk, kita tidur yuk"
Rega mengangguk, dia meraih remot dan mematikan televisi. Berdiri dan menggandeng tangan Selvia menuju kamar mereka. Sebelum dia masuk, dia menatap ke arah tangga seolah sedang berharap seseorang muncul disana.
"Kak ayo"
Rega mengerjap, dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Dan Medina turun ke lantai bawah ketika suasana ruang tengah sudah sepi. Medina masih belum tertidur, masih ingin menyelesaikan tugasnya. Medina berjalan ke arah dapur, membuat secangkir kopi dan beberapa cemilan untuk menemaninya begadang malam ini.
Medina kembali ke kamarnya dan memulai kembali mengerjakan semua tugasnya. Ditemani dengan secangkir kopi dan beberapa cemilan membuat matanya tidak terlalu lengket. Meski sudah beberapa kali dia menguap.
Medina mendongak ketika mendengar suara handel pintu yang diputar, namun tidak bisa terbuka karena dia yang menguncinya. Jegrek.. Handel pintu yang kembali di putar, kali ini seperti tidak sabaran untuk membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Siapa?" Medina turun dari atas tempat tidur, berjalan mendeakati pintu. Membuka kunci dan membuka pintu kamar, Medina terdiam melihat Rega yang menatapnya dengan tajam. Pria itu nyelonong masuk, melewati Medina. Segera Medina menutup kembali pintu dan menguncinya.
Dia berbalik dan menatap Rega yang duduk di atas sofa. "Ada apa?"
Rega menatap tajam pada Medina, membuat gadis itu merasa merinding. Bahkan Medina sampai mengelus tengkuknya sendiri.
Kenapa menatapku seperti itu?
"Kenapa kau mengunci pintu? Kau tidak mau aku masuk ke kamarmu?"
Medina tersenyum kaku, sebenarnya memang itu tujuannya mengunci pintu kamar. Karena Medina takut Rega masuk ke kamarnya dan akan ketahuan oleh Selvia. Maka semuanya akan benar-benar runyam jika itu terjadi.
"Lagian kamu mau apa kesini? Bukannya tidur dengan istrimu, malah datang kesini. Kalau sampai Selvia melihatnya, bagaimana?"
Rega melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Medina mendekat padanya tanpa dia harus berkata. Medina menghela nafas, dia berjalan mendekat pada Rega dan tangan pria itu langsung menarik tangannya sampai terjatuh di atas pangkuannya.
"Berani sekali kau mengunci pintu kamarmu. Kau tidak ingin aku masuk ke kamarmu ini?"
Medina menatap Rega dengan senyuman kaku. "Aku.... Emppt.."
Rega langsung membungkam mulut Medina dengan bibirnya. Mencium bibir gadis itu dengan lembut, tangannya menahan tengkuk Medina.
Awalnya hanya ciuman biasa saja, namun ketika kecupan Rega mulai turun ke bagian leher dan dadanya. Medina mulai sadar jika Rega menginginkan lebih dari sekedar ciuman malam ini.b
"Ga, aku.. Aww.. Kenapa menggigit bahuku?"
"Panggil aku apa jika kita sedang berdua, berani panggil nama maka bukan hanya gigitan ini hukumannya"
Medina menghela nafas, dan sepertinya malam ini benar-benar berakhir di atas sofa. Rega dan Medina kembali saling menunjukan perasaan masing-masing dalam kegiatan malam mereka. Entahlah, nyatanya Medina juga selalu merindukan setiap sentuhan yang Rega berikan padanya.
"Emmh.. Sayang.."
"Lepaskan Sayang"
__ADS_1
Suara teriakan kenikmatan itu memenuhi penjuru kamar. Hingga keduanya mencapai kenikmatan masing-masing.
Bersambung