Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 27 #Menjaga Hatiku Agar Tidak Jatuh Lebih Dari Ini#


__ADS_3

Nyatanya Medina tetap hanya sebatas pemuas naf*su saja bagi Rega. Tidak peduli sebesar apa perasaan cintanya pada Rega. Medina tetap hanya pemuas naf*su saja bagi Rega. Jadi, apalagi yang Medina harapkan? Selain bisa bersama Rega. Tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dari Rega.


Pagi ini Medina menyiapkan sarapan lebih pagi, karena dia ingin segera berangkat kuliah sebelum Rega terbangun. Medina masih merasa belum siap bertemu dengan Rega. Setelah semalam, kejadian itu benar-benar membuat Medina terluka. Bahkan hingga saat ini Rega masih menganggapnya tidak lebih baik dari seorang wanita malam.


Sakit itu ketika orang yang kita cintai yang merendahkan diri kita sendiri. Meski memang sebenarnya kita sudah terjatuh terlalu rendah dimatanya sejak awal. Gumamnya. Medina berlalu ke kamar untuk segera bersiap, sebelum Rega benar-benar keluar dari kamarnya bersama Selvia. Medina sudah pergi lebih dulu untuk kuliah. Dia hanya mengambil selembar roti dan mengolesnya dengan slai cokelat dan memakannya di dalam taxi online yang dia tumpangi.


Sementara di dalam rumah, Rega baru saja keluar dari kamar bersama Selvia. Berjalan menuju dapur.


"Loh Kak Medina sudah memasak sarapan, tapi kemana dia?"Selvia celingukan mencari keberadaan Medina.


Rega menghela nafas pelan, jelas dia tahu jika Medina sedang mencoba menghindarinya. Karena kebodohannya semalam, membuat Medina menjauh darinya.


Sial. Semalam aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku.


"Sudahlah Se, ayo makan sarapannya"


Selvia menoleh, dia mengangguk. Menarik kursi dan duduk disana. Suami istri itu mulai memakan sarapan yang di buatkan Medina. Meski sesekali Rega menoleh, berharap jika Median akan muncul disana. Namun sampai sarapan selesai, Medina benar-benar tidak muncul juga.


Mungkin dia memang sudah pergi kuliah.


Selesai sarapan, Rega langsung berpamitan untuk pergi bekerja pada Selvia. Namun, ternyata dia tidak langsung datang ke perusahaan. Dia malah datang ke kampus Medina, mencari keberadaan gadis itu. Tapi Medina benar-benar tidak terlihat dimana pun. Sampai akhirnya,  Rega memutuskan untuk bertanya. Dia menghampiri sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi disana.


"Permisi, apa kalian melihat Medina?"


Mereka saling menatap, seolah mempertanyakan siapa pria tampan yang mencari Medina. Gadis pendiam yang nyaris tidak punya teman.


"Maaf Tuan, tapi anda siapa ya? Apa Medina mempunyai hutang pada anda?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari salah satu mahasiswi disana.


Rega menggeleng pelan. "Saya ingin mencari Medina, tapi tidak melihatnya. Apa kalian tahu dimana dia?"


"Jelas anda tidak akan melihatnya, karena Medina tidak akan di tempat ramai seperti ini. Dia pasti ada di belakang kampus, sedang sendirian sambim baca buku. Medina memang tidak mempunyai teman"

__ADS_1


Penjelasan itu membuat Rega sakit, bagaimana Medina selalu menjalani hari-harinya di kampus dengan situasi seperti ini. Tapi, Medina benar-benar sangat pandai menutupi perasaannya. Setiap pulang kuliah, dia selalu terlihat ceria. Seolah dunia kuliah begitu menyenangkan baginya. Padahal sebaliknya.


Dan benar saja, Rega menemukan sosok yang dia cari sedang duduk sendirian di bawah pohon rindang di belakang kampus. Rega berjalan mendekatinya. Terlihat Medina yang sedang membaca buku dengan earphone di telinganya. Mungkin dia sedang mendengarkan musik.


Rega duduk disampingnya, membuat Medina langsung menoleh padanya. Karena tidak pernah ada yang mau datang ke tempat ini. Banyak mitos jika pohon belakang kampus ini berhantu. Tapi semenjak Medina sering datang kesini, bahkan hampir setiap hari. Tidak pernah sekalipun dia melihat hal aneh seperti yang diceritakan banyak orang.


"Ada apa datang kesini?"


Sebenarnya Medina cukup terkejut dengan kehadiran Rega di kampusnya. Apalagi sampai dia yang datang menghampirinya.


"Kenapa menghindar?"


Medina menatap lurus ke depan, dia menghela nafas pelan. "Aku tidak menghindari siapapun. Aku hanya sedang menjaga hatiku agar tidak terlalu sakit jika suatu saat aku harus terjatuh lebih dari ini"


Rega menoleh pada Medina, sungguh dia tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya Medina ucapkan. Namun, intinya Medina sakit karenanya. Rega meraih kedua tangan Medina, membiarkan buku di tangan Medina jatuh begitu saja ke atas tanah.


Keduanya saling menatap dengan lekat, ada goresan luka yang dalam di balik mata Medina. Dan tatapan mata yang penuh tekanan di balik tatapan Rega. Artinya keduanya benar-benar terluka dengan cara yang berbeda.


Medina menghembuskan nafas kasar, dia tetap lemah ketika melihat tatapan mata Rega. Sungguh dia tidak bisa melakukan apapun selain mengangukan kepalanya.


Rega tersenyum, dia raih tubuh Medina dan membawanya ke dalam pelukan. Mencium puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Bertahanlah, aku janji akan segera menyelesaikan semua ini"


Medina mengangguk dalam pelukan Rega. Dia akan tetap bertahan jika Rega masih memintanya untuk bertahan. Tapi jika suatu saat nanti dia yang memintanya pergi, maka Medina tidak akan ragu untuk benar-benar pergi meninggalkan Rega.


"Yaudah, aku pergi dulu. Kamu baik-baik kuliahnya" Rega mengelus kepala Medina.


Medina mengangguk, dia meraih tangan Rega dan menciumnya.


******


Malam ini Rega pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih tenang. Dia sudah berbaikan dengan Medina, dan hal itu yang paling penting. Saat Rega masuk ke dalam rumah, dia melihat Selvia dan Medina sedang mengobrol di depan televisi. Menonton dan mengobrol bersama. Sungguh pemandangan seperti ini membuat hati Rega semakin merasa bersalah. Dua wanita yang mungkin akan tersakiti olehnya. Namun, semuanya juga bukan keinginannya. Dia hanya terjebak dalam situasi ini.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah pulang" Selvia segera menghampiri Rega yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.


Rega tersenyum, dia mengelus kepala Selvia dan mengecup keningnya. "Iya Se, apa yang sedang kalian lakukan?"


"Kita sedang menonton dan mengobrol saja"


Rega mengangguk, dia melihat ke arah Medina yang menatapnya. Lalu tersenyum tipis pada Rega. Setelahnya dia segera berpaling ke televisi, takut jika Selvia akan menyadari curi pandang diantara keduanya.


"Yaudah Kak, mau ganti baju dulu atau bagaimana?"


Rega mengerjap, dia kembali fokus pada Selvia yang berdiri di depannya. "Iya, aku ingin mandi dulu"


"Yasudah, biar aku siapkan air untuk mandinya"


Rega mengangguk.


Selvia berlalu ke kamarnya untuk menyiapkan perlengkapan mandi Rega. Sementara Rega malah menghampiri Medina yang duduk di sofa depan televisi. Rega memeluknya dan mencium pipi Medina dengan gemas.


"Sayang apaan si, nanti Selvia lihat"


"Sebentar saja, aku sangat merindukanmu"


Medina menghela nafas, dia membiarkan saja Rega melakukan apa yang dia mau. Memeluk erat Medina dari samping dengan sesekali mencium pipi dan bahu Medina.


"Sudah sana ihh, nanti Selvia lihat" Medina mendorong tubuh Rega yang menempel erat di tubuhnya, seolah memakai perekat saja sampai Rega begitu sulit untuk melepaskan pelukannya di tubuh Medina.


Namun akhirnya dengan sedikit tidak rela, Rega tetap melepaskan pelukannya pada Medina. Mencium kembali pipi Medina sebelum dia benar-benar berlalu ke kamarnya.


Medina hanya tersenyum dan menggeleng pelan melihat kelakuan Rega. Seandainya hanya ada kita, mungkin aku akan sangat bahagia. Gumamnya.


Medina kembali fokus pada layar televisi di depannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2