
Ketika cinta telah membutakan seseorang, ketika hati telah memilih pelabuhan terakhirnya. Maka hatinya akan tetap memilih satu orang, meski orang itu telah melukainya dan tidak mencintainya. Apa alasannya? Cinta. Hanya satu kata itu yang menjadi alasannya.
Meski tahu hati Rega sudah tidak sama seperti dulu. Tapi, Medina tetap mencintainya. Karena hanya Rega yang berhasil meluluhkan hatinya, hingga dia jatuh cinta padanya.
Medina berjalan keluar kampus, dengan buku dalam dekapannya dan tas selempang yang dia pakai.
"Hai Me, mau pulang nih"
Medina terkejut ketika tiba-tiba seseorang menghampirinya. "Loh, Kak Kendra. Ada apa disini? Kenapa tau kampus 'ku?"
Kendra tersenyum, jelas dia tahu karena dia sudah mencari tahu dari Selvia semalam, semua tentang Medina. "Aku antar pulang ya"
"Emm. Maaf Kak, aku sudah pesan taksi online"
"Batalkan saja"
Medina menghela nafas ketika sikap Kendra yang seenaknya ini. Jujur Medina merasa terganggu dengan keberadaan Kendra saat ini. Medina adalah gadis yang cukup tertutup, hingga untuk seseorang bisa benar-benar mengenali dirinya yang sebenarnya sangat jarang.
"Tidak bisa Kak, sebentar lagi sampai taksi online yang aku pesan. Kalau begitu aku pergi dulu"
Kendra menatap punggung Medina yang berjalan menjauh darinya. Penolakan gadis itu bukan semakin membuatnya menyerah, tapi malah semakin penasaran dan ingin terus mendekatinya.
Medina masuk ke dalam taksi online yang dia pesan. Menatap ke luar jendela, Kendra masih berdiri di tempatnya. Medina merasa heran sendiri, kenapa Kendra sampai segitunya. Menemuinya di kampus, padahal jelas Medina tidak sedikit pun memberikan harapan lebih padanya. Tapi entah kenapa dia terus mengganggu Medina.
Drett...Drett...
Getaran ponsel di dalam tasnya membuat Medina segera merogoh dalam tasnya dan mengambil ponsel. Tersenyum, ketika melihat nama seseorang yang meneleponnya itu.
"Hallo"
"Udah pulang?"
Medina tersenyum mendengarnya, dia rasa Rega selalu memberikan perhatian padanya. Meski Medina tahu, jika perasaan Rega padanya mungkin sudah tidak sama lagi seperti itu. Tapi setidaknya dia masih memberikan perhatian padanya.
"Udah, ini lagi di jalan. Pake taksi online"
"Emm. Yaudah, hati-hati ya. Aku pulang malam hari ini. Masih mengerjakan laporan untuk akhir bulan"
__ADS_1
"Iya nanti aku sampaikan pada Selvia. Jaga kesehatan dan jangan lupa makan juga"
"Iya, kamu juga"
Medina mematikan sambungan teleponnya ketika dirasa tidak ada lagi yang ingin di bicarakan. Medina menatap pemandangan di luar jendela. Semuanya terlihat berlarian seiring cepatnya laju mobil yang dia tumpangi.
Sampai di rumah, Medina segera masuk dan menemui Selvia yang sedang duduk di atas karpet dekat sofa. Ada sebuah laptop di atas meja. Sepertinya dia sedang kuliah online. Tidak ingin mengganggu, Medina langsung berjalan ke arah tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. "Seandainya waktu itu aku tidak ikut dengan Mommy Sonya. Mungkin aku tetap akan menjadi anak panti, tidak akan seperti ini hidupku. Tapi, apa gunanya berandai-andai sekarang"
Menyesal pun tidak ada gunanya, karena usia remaja 15 tahun tidak akan mengerti jika kehidupan kedepannya akan lebih menyakitkan daripada tinggal di panti asuhan.
Hah..
Medina menghembuskan nafas kasar, dia bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Rasanya sudah bukan saatnya untuk menyesali apa yang telah terjadi. Nyatanya dia tetap tidak akan bisa melawan takdir hidupnya.
"Kak Medi, udah pulang ya"
Teriakan dari luar kamar di susul dengan pintu kamar yang terbuka. Medina menoleh pada Selvia yang berdiri di ambang pintu. Tersenyum pada gadis itu.
"Iya Se, ini baru pulang. Tadi kamu lagi kuliah ya?"
Medina tersenyum, dia menatap lurus kedepannya. Dengan kedua tangan berada di kedua sisi tubuhnya, bertumpu pada pinggir tempat tidur yang dia duduki.
"Kan enaknya, kamu bisa lebih banyak waktu di rumah untuk istirahat"
"Iya si, tapi aku juga ingin keluar Kak. Hidup bebas seperti orang lain, bukannya hanya jadi putri terkurung seperti ini"
"Harusnya kamu bersyukur Se, karena kamu bisa di sayang banyak orang. Semua orang melakukan itu padamu, karena dia memang benar-benar sayang padamu"
Selvia bangun, duduk di samping Medina. Menyandarkan kepalanya di bahu Medina. "Iya Kak, bahkan Kak Rega saja sekarang benar-benar menyayangiku. Aku membantu Kakak masak saja, dia tidak izinkan. Katanya karena aku harus banyak istirahat dan tidak boleh kecapean. Seneng deh Kak, ketika suamiku sangat menyayangi aku seperti itu"
Ada rasa nyeri di hati Medina ketika mendengar ucapan Selvia barusan. Apalagi ketika kata 'suamiku' terdengar begitu penuh penekanan. Medina mengerti jika Selvia sedang menegaskan jika Rega adalah miliknya.
"Yaudah Se, aku mau mandi dulu"
Medina berdiri dan segera berlalu ke ruang ganti. Menyandarkan tubuhnya di balik pintu ruang ganti yang tertutup.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa rasanya sesak sekali"
Sementara di dalam kamar, Selvia menghela nafas berat. Menatap pintu ruang ganti yang tertutup dengan tatapan yang sulit di artikan. "Maafkan aku Kak, tapi apapun yang terjadi aku akan tetap egois jika semua ini tentang Kak Rega. Karena aku mencintainya"
******
"Kak Rega kok belum pulang ya Kak, biasanya sudah pulang sejak jam 6 sore" Selvia menatap jam dinding diruang tengah itu.
"Oh ya, aku lupa kasih tahu kalau tadi Rega bilang jika dia akan pulang terlambat"
Selvia langsung menoleh pada Medina, menatapnya dengan penuh curiga. "Kok Kak Rega bilang sama Kakak, tapi padaku tidak? Padahal aku 'kan istrinya"
Deg..
Medina sedikit kikuk untuk menjelaskannya, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Emm. Ta-tadi tidak sengaja aku menelepon Rega untuk izin meminjam laptopnya lagi. Dan dia sekalian bilang, katanya tolong sampaikan pada istriku"
Wajah Selvia langsung berbinar mendengar itu. Tatapan curiga itu langsung lenyap seketika. "Beneran Kak? Dia mengakui aku sebagai istrinya ternyata"
Medina tersenyum, dia sedikit lega karena Selvia percaya dengan cerita karangannya ini. "Iya, yaudah sekarang kita tidur saja ya. Kan tidak tahu Rega akan pulang jam berapa. Lebih baik sekarang kita istirahat"
"Iya Kak"
Selvia berlalu ke kamarnya, sementara Medina benar-benar mengerjakan tugasnya di depan televisi. Sampai entah jam berapa, dia mendengar suara pintu terbuka. Medina menoleh dan melihat Rega dengan wajah lelahnya.
"Sayang belum tidur?" Rega sedikit terkejut ketika melihat Medina yang masih terjaga di hari yang hampir larut ini.
"Belum, aku lagi ngerjain tugas"
Rega menghampiri Medina dan memberikan kecupan di puncak kepala gadis itu. "Ini sudah jam 11 malam, besok saja di lanjutkan. Sekarang kamu tidur"
Medina mengangguk, dia mendongak dan menatap wajah lelah Rega. Mengelus pipinya dengan lembut. "Capek ya, cepat mandi dan istirahat. Aku juga akan istirahat"
"Iya Sayang, selamat malam"
"Selamat malam"
Rega berlalu ke kamarnya bersama Selvia, sementara Medina mulai membereskan beberapa buku dan laptopnya. Setelah memastikan Rega sudah pulang. Maka Medina bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1
Bersambung