Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 44 #Bosnya Giant?!#


__ADS_3

Sejak pagi rumah Ibu Nia sudah di sibukan dengan pesanan dari atasan Giant yang ternyata memesan cattering Ibu Nia dengan cukup banyak. Membuat Medina dan Ibu Nia harus bergerak sejak dini hari.


Giant yang baru bangun tidur langsung terkejut ketika melihat dapur yang sudah seperti kapal pecah. Beberapa bahan makanan yang berserak di atas meja makan. Beberapa bumbu yang baru saja di haluskan di beberapa wadah belum juga kotak makanan yang sedang di siapkan oleh Medina semakin menambah suasana dapur yang berantakan.


"Ya ampun Bu, ini apaan sampai berantakan banget gini nih dapur"


"Ya 'kan Ibu sama Medina sedang mengerjakan pesanan bos kamu itu. Ibu kira pesanannya sedikit, ternyata banyak sekali"


"Iyalah Bu, kan pekerjanya juga banyak" Giant berlalu masuk ke kamar mandi membuat Ibu tidak lagi menimpali ucapan putranya itu.


Semua kesibukan ini selesai hingga menjelang makan siang. Medina dan Ibu duduk di kursi meja makan dengan wajah lelah. Namun, mereka lega karena semua pesanan telah selesai dibuat.


"Maaf ya Me, kamu jadi lelah deh karena bantuin Ibu"


Medina tersenyum pada Ibu Nia. "Tidak papa Bu, lagian Medi senang melakukannya. Jadi ada kegiatan, dan beruntungnya bayi Medi sangat baik"


Ibu Nia mengangguk, memang anak dalam kandungan Medina selalu mengerti keadaan Ibunya.


"Medina mandi dulu ya Bu, takutnya keburu Giant jemput bagaimana"


"Ohh yaudah, sana mandi"


Medina berlalu ke kamarnya untuk mengambil baju handuk miliknya. Keluar kembali dan berlalu ke kamar mandi yang berada di dapur.


Saat Medina baru saja selesai mandi dan bersiap, Giant datang menjemputnya. "Kak sudah siap 'kan? Ayo kita berangkat"


Medina mengangguk. "Iya Giant, aku sudah siap"


Giant membantu Medina mengeluarkan semua pesanan cattering dari atasannya itu. Dua kantung plastik Giant letakan di bagian depan motor, dan dua kantung lagi di pegang oleh Medina yang duduk di jok belakang motor.


"Bos kamunya ada disana Giant?"


"Iya Kak, dia baru saja datang untuk mengecek pembangunan proyek. Dan menanyakan cattering yang dia pesan. Jadi aku buru-buru deh pulang ke rumah untuk mengambil pesanan cattering"

__ADS_1


Media mengangguk mengerti, dia tersenyum saat merasakan angin yang menerpa wajahnya seiiring laju motor yang di tumpanginya.


"Sudah sampai Kak"


Medina turun dari atas motor, menatap pembangunan danau buatan yang sangat luas itu. Banyak pekerja disana yang berlalu lalang, juga beberapa mobil proyek.


"Giant, sudah datang pesanannya"


"Sudah Bos"


Medina menoleh, dan seketika tubuhnya mematung ketika melihat pria yang Giant panggil dengan sebutan 'Bos' itu. "K-kak Kendra?"


"Medina?"


******


Makan siang kali ini Rega dan Aiden berada di Restaurant milik Alvaro. Mereka baru saja selesai metting dengan rekan kerja. Dan setelah rekan kerja mereka pergi, barulah Aiden dan Rega memesan makanan. Alvaro ikut bergabung disana. Sang pemilik Resto memang tidak perlu terus bekerja selain mengecek laporan keuangan Resto setiap bulannya dan beberapa hal lainnya. Jadi Alvaro bisa saja ikut bergabung dengan kedua sahabatnya ini.


"Jadi, sampai sekarang kau belum juga menemukan Medina?" Tanya Alvaro, menatap prihatin pada sahabatnya yang sudah begitu frustasi sejak dia kehilangan kekasih hatinya yang pergi entah kemana.


"Sudah 6 bulan ya, tapi kenapa dia masih belum juga ketemu"


"Ga, apa mungkin jika Medina tidak ada di kota ini. Bisa saja dia pergi ke luar kota" kata Aiden, mengeluarkan asumsinya


Rega langsung menatap ke arah Aiden. Merasa jika yang di ucapkan Aiden barusan benar. "Kenapa aku bodoh sekali, bisa saja memang Medina pergi dari kota ini. Selama ini aku hanya terus mencarinya di sekitar Ibu kota saja. Tanpa berfikir jika Medina bisa saja pergi dari kota ini"


"Iya juga ya, kenapa aku juga tidak kefikiran" Alvaro menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Nah, sekarang kau hanya perlu memikirkan ke kota mana kira-kira Medina pergi?" Kata Aiden


"Mungkin ke kota kelahirannya, atau mungkin ke kota tempat orang tuanya berada" Alvaro ikut menimpali


Rega menggeleng cepat, dia jelas tahu bagaimana kehidupan Medina selama ini. "Dia tidak tahu siapa orang tuanya, sejak bayi dia telah di buang di panti asuhan hingga saat dia beranjak dewasa, Sonya datang dengan iming-iming menjadi wanita baik yang akan mengadopsinya"

__ADS_1


Aiden dan Alvaro saling tatap, mereka berdua memamg baru mengetahui tentang hal ini.


"Sepertinya akan sedikit sulit jika begitu Al. Karena satu negara itu tidak kecil, jika ceritanya seperti itu. Maka kita akan sulit untuk menduga-duga kota mana yang akan di kunjungi Medina"


Rega menghembuskan nafas kasar, memang benar apa yang di katakan Alvaro. Karena Medina yang tidak mempunyai kota asal atau keluarga di kota lain, maka akan semakin sulit untuk menemukannya. Karena di satu negara, terlalu banyak kota. Jadi, Rega tidak bisa benar-benar memastikan jika Medina pergi ke kota mana jika memang benar gadis itu telah pergi ke luar kota.


Sore hari, Rega baru saja pulang dari perusahaan. Dia sengaja memilih pulang lebih awal karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja. Rega merasa kepalanya yang berat dan suhu tubuhnya yang memanas.


Selesai mandi dan berganti baju, Rega langsung berbaring di atas tempat tidur. Menarik selimut sampai menutupi lehernya.


"Dingin sekali, mungkin aku demam"


Terlalu banyak fikiran dan masalah yang dia lewati beberapa bulan ini. Belum lagi tentang Medina yang sampai sekarang belum ketemu juga. Mungkin membuat Rega sedikit mengabaikan kesehatannya, hingga dia jatuh sakit seperti sekarang. Padahal sebelumnya, Rega adalah pria yang selalu mementingkan kesehatannya. Namun, sejak tujuan hidupnya pergi dan hilang dari kehidupannya. Maka hidup Rega tidak sama lagi.


"Medina, cepatlah kembali. Aku merindukanmu"


Gumaman lirih itu terus terdengar hingga pagi menjelang. Ketika Alvaro menemuinya karena Aiden yang memintanya untuk mengecek keadaan Rega, sejak pria itu tidak mengangkat teleponnya.


"Ya ampun Ga, kenapa bisa sampai seperti ini?"


Alvaro memegang kening Rega yang suhu tubuhnya benar-benar tinggi. Belum lagi Rega yang tidak sadar saat Alvaro terus memanggil namanya.


"Medina.. Sayang, kembalilah. Aku merindukanmu"


Hanya gumaman itu yang terus keluar dari mulut Rega. Alvaro segera menelepon dokter untuk memeriksa Rega. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan menatap Rega dengan prihatin.


"Sabar Ga, kalau memang Medina adalah jodoh kamu. Dia akan kembali bertemu denganmu, bagaimana pun caranya"


Rasanya Alvaro benar-benar tidak tega melihat keadaan sahabatnya. Dia begitu terpuruk saat kehilangan Medina. Dan baru kali ini Alvaro melihat titik terapuh dalam diri Rega.


"Medina.. Kembalilah, aku merindukanmu"


Terus saja kalimat itu berulang kali terucap dari bibir Rega. Hingga dokter datang dan segera memeriksa keadaannya dan memberinya obat. Barulah Rega sedikit lebih tenang dalam tidurnya. Meski gumaman kecil dengan kalimat yang sama masih tetap terdengar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2