
Pulang kuliah kali ini, Medina merasakan suasana yang berbeda. Jika dulu, setiap Medina pulang kuliah selalu membuatnya tidak bersemangat. Karena setelah dia kembali dari kuliahnya, maka pekerjaan dunia malam akan menyambutnya. Ya, meski dia tidak bekerja seperti itu. Namun, berada di lingkungan seperti itu tetap membuat Medina takut. Karena tidak hanya satu atau dua pria pengunjung club malam yang datang menemui Medina dan memintanya untuk melayani mereka.
Dan hari ini, Medina kembali ke rumah Rega. Benar-benar suasana rumah yang Medina rindukan selama ini. Ketenangan dan kenyamanan saat dia berada di rumah ini. Medina menjatuhkan dirinya di atas sofa, menyandar pada sandaran sofa dengan kepala sedikit mendongak menatap langit-langit ruang tengah.
"Mungkin memang begini cara Tuhan agar aku bisa terlepas dari tempat itu. Mendatangkan mantan pacarku dan menjadikan aku sebagai pemuas naf*su dalam hidupnya. Tidak apa, aku rela memberikan segalanya untuk pria yang aku cintai"
Medina memejamkan matanya sejenak, merilekskan tubuhnya yang lelah setelah seharian menjalani kegiatan di kampus.
"Saatnya untuk menyiapkan makan malam untuk Rega, semoga dia suka dengan masakan 'ku"
Medina berlalu ke kamarnya untuk berganti pakaian sebelum dia memulai tempur di dapur dengan masakannya.
Semua masakan telah tertata rapi di atas meja makan. Medina menatapnya dengan senyum bahagia. Melirik jam dinding untuk melihat waktu Rega akan pulang. "Kemarin dia pulang pukul 7, berarti sebentar lagi akan sampai dia"
Medina berlalu ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Dia ingin terlihat cantik ketika Rega datang. Sepertinya saat ini Medina sedang mencoba melupakan tentang statusnya yang sebenernya bagi Rega.
Ketika Medina kembali ke lantai bawah bertepatan dengan Rega yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Medina segera menghampirinya. "Sudah pulang ya, mau aku siapkan air untuk mandi?"
Rega mengelus kepala Medina dan memberikan kecupan di keningnya. "Aku lapar, kamu memasak ya? Aku mencium bau masakan"
Medina mengangguk dan tersenyum. "Ya, aku memasak"
"Kalau begitu aku ingin makan malam dulu"
"Baiklah"
Medina membantu Rega melepaskan jas yang di pakainya, mengambil tas kerja Rega dan menyimpannya di atas sofa. "Ayo kita ke ruang makan"
Rega mengangguk, dia merangkul bahu Medina dan membawanya ke ruang makan. Dan makan malam kedua kalinya yang terasa sangat menyenangkan bagi Rega maupun Medina. Di saat keduanya terbiasa makan seorang diri di waktu dulu, kini mereka bisa merasakan makan malam di temani seseorang.
__ADS_1
******
Medina menyisir rambutnya dan mengikatnya dengan rapi. Menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Medina tersenyum sendiri pada pantulan dirinya di cermin.
Kamu sudah melewati banyak hal, dan sekarang mungkin adalah akhir dari hidupmu, Medi. Menjadi pemuas naf*su mantamu sendiri.
Menerima keadaan dan kenyataan adalah hal yang Medina lakukan saat ini. Membiarkan hatinya menerima apa yang sudah Tuhan takdirkan untuknya. Meski jauh di lubuk hatinya, Medina sangat terluka dengan kenyataan yang ada. Adrega, pria yang dia cintai kini datang kembali. Namun, bukan sebagai sosok yang dulu mencintainya. Tapi, sosok yang membencinya dan memandang dirinya atas naf*sunya saja.
Suara pintu ruang ganti yang terbuka membuat Medina menoleh, dia tersenyum melihat Rega yang muncul di sana dengan wajah yang lebih segar selepas mandi.
"Kenapa kau memakai baju itu?"
Nada suara Rega terdengar sangat dingin ketika melihat gaun tidur transparan yang di pakai Medina saat ini.
Medina menatap dirinya sendiri, dia malu.. Sangat malu saat memutuskan untuk memakai gaun tidur ini. Namun, dia berfikir jika ini memang keinginan Rega yang telah membeli dirinya sebagai pemuas naf*su. Karena gaun tidur ini sudah ada di lemari pakaiannya. Bahkan bukan hanya satu atau dua, tapi ada banyak disana.
"Aku hanya..."
Deg..
Kenapa? Kenapa suara Rega terdengar sangat tidak suka dengan apa yang di lakukan oleh Medina. Apa mungkin dia memang tidak menginginkan Medina menggunakan pakaian seperti ini. Lalu untuk apa baju ini ada di lemari miliknya? Apa hanya untuk pajangan saja?
"Lepas! Dan layani aku sebagai bentuk kesalahanmu yang beraninya memakai baju seperti itu di depanku"
Tubuh Medina bergetar dengan wajah yang menunduk. Dia takut melihat tatapan dingin Rega, harga dirinya sudah terkoyak dengan semua ucapan Rega. Namun apa yang harus dia lakukan, ketika inilah memang posisinya. Pemuas naf*su bagi Rega.
Dan malam ini, kejadian itu kembali terjadi. Bodohnya, Medina selalu merasa menikmati setiap sentuhan yang Rega lakukan padanya. Tubuhnya sama sekali tidak menolak, meski hatinya terluka ketika mengingat Rega melakukan ini padanya bukan atas dasar cinta.
Berakhir dengan berpelukan di atas tempat tidur dengan tubuh yang sama-sama polos. Rega beberapa kali mencium puncak kepalanya.
__ADS_1
"Jangan lagi memakai baju itu hanya untuk menggodaku. Aku tidak suka"
Medina mengangguk, tangannya mengelus perut Rega. Merasakan perut keras itu. "Lalu, untuk apa baju itu ada di lemari pakaianku? Banyak sekali"
"Aku tidak tahu jika ada pakaian seperti itu di dalam lemari milikmu. Aku hanya memerintahkan orang untuk mengisi lemari itu dengan perlengkapan wanita"
Medina mendongak, dia menatap wajah tampan Rega. "Apa yang kau suruh untuk melakukan itu, adalah seorang wanita?"
Rega menundukan pandangannya, saling bertatapan dengan mata milik Medina. "Ya, dia seorang wanita. Kenapa memangnya, apa kau cemburu?"
Medina kembali memeluk Rega, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. "Tidak, aku tidak cemburu" Karena apa aku masih bisa untuk cemburu? Apa hak 'ku atas dirinya hingga aku bisa cemburu padanya?
Tiba-tiba saja Rega melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Medina agar menjauh darinya. Rega tertidur dengan posisi memebelakangi Medina, membuat gadis itu termenung bingung melihatnya.
Dia kenapa?
Rega menarik selimut sampai menutupi bahunya. Tidak terlelap, namun dia sedang kesal dengan jawaban Medina barusan.
Kenapa? Kenapa tidak cemburu lagi padaku?
Entah apa yang sebenarnya Rega rasakan pada Medina. Dia masih seolah menutup diri untuk bisa membuka lembaran baru bersama Medina. Tapi, dia kesal sendiri saat Medina tidak merasa cemburu padanya. Sebenarnya ada apa dengan Rega?
Medina merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Sesekali Medina melirik ke arah Rega yang tidur membelakanginya. Dia bingung sendiri kenapa pria itu tiba-tiba marah. Sampai beberapa saat kemudian, Rega berbalik dan menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Medina. Memeluk gadis itu dengan erat. Menyembunyikan wajahnya di leher Medina dengan nyaman.
Lah, dia ini kenapa si?
Medina bingung sendiri dengan sikap Rega ini.
Sial, aku sudah nyaman dengan tubuhnya. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluknya.
__ADS_1
Akhirnya malam ini keduanya terlelap dengan saling berpelukan. Sejenak melupakan apa yang mungkin akan terjadi di masa depan setelah ini. Medina hanya ingin menjalani semuanya seperti air mengalir. Biarkan Tuhan yang mengaturnya, biarkan takdir yang mengatur jalan hidupnya.
Bersambung