
Ibu Nia baru sampai di rumah Rega setelah dijemput oleh orangsuruhan Rega. Medina langsung menyambutnya dengan senang.
"Bagaimana perjalnannya Bu?"
"Lancar Me, oh ya apa Giant sudah datang kesini?"
Medina menggelengkan kepalanya bingung dengan ucapan Ibu Nia barusan. "Tidak ada Bu, memangnya Giant bicara akan datang kesini ya?"
"Iya Nak, dia bilang akan datang ke rumahmu saat Ibu datang"
"Ohh, mungkin GIant mengira jika Ibu belum sampai. Biar Medi telepon Giant dulu"
Medina segera menghubungi Giant dan menyuruhnya untuk segera datang ke rumah. Rega sedang tidak ada di rumah, karena dia sedang ada yang harus di urus untuk semua persiapan pernikahan ini.
Beberapa saat kemudian Giant sampai di rumah ini. Dia langsung ikut bergabung dengan Medina dan Ibu Nia.
"Bagaimana pekerjaan kamu Giant? Aku masih tidak menyangka jika kamu bekerja dengan Kak Kendra"
"Oh iya Kak, sebenarnya Tuan Kendra itu siapa? Kenapa bisa mengenal Kakak?"
"Dulunya dia adalah Kakak ipar Rega yang pernah mendekati aku juga. Tapi..."
Pada akhirnya, Medina tidak bisa jika terus memendamnya dari Giant dan Ibu Nia. Jadi Medin benar-benar menceritakan kisahnya dan Rega.
"Rumit juga ya kisah kalian itu. Aku gak bis bayangin gimana jadinya kalau aku ada di posisi itu"
Medina hanya tersenyum mendengar ucapan Giant, yang jelas sekali terlihat kebingungan dengan kisah rumit dirinya dan Rega. "Ya, memang seperti itu takdir Gi, gak semua harus sesuai keinginan kita. Karena yang mengatur segalanya adalah Tuhan"
Giant mengangguk, dia tahu tentang itu dan dia sangat bangga pada Medina yang mampu melewati semua ini seorang diri. Medina benar-benar wanita kuat dan tegar.
Giant menggenggam tangan Medina dan menatapnya dengan lekat. "Kak, aku benar-benar bangga dengan Kakak. Begitu banyak cobaan dan rintangan yang Kakak lewati, tapi Kakak masih bisa tersenyum seperti itu. Pokoknya kalau ada apapun, beri tahu aku dan aku selalu mendukung Kakak"
Mata Medina berkaca-kaca mendengar ucapan Giant. Betapa Giant peduli padanya. Medina memeluk Giant yang duduk disampingnya. Dia begitu terharu dengan apa yang Giant ucapan barusan.
__ADS_1
"Makasih ya Gi, kamu begitu peduli padaku. Aku benar-benar merasa mempunyai saudara"
Ibu Nia terdiam mendengar ucapan Medina barusan. Entah apa yang dia pikirkan, namun dia hanya menatap Medina yang saling berpelukan dengan Giant dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Ekhem"
Medina seketika melepaskan pelukannya pada Giant saat terdengar suara deheman keras dari seseorang yang jelas dia kenali. Ketika Medina menoleh, ternyata memang benar jika itu adalah Rega. Medina tersenyum menatap Rega dengan senyuman manisnya. Tahu jika pria pecemburu itu tidak akan mendengarkan apapun selain dari apa yang baru saja dia lihat.
"Sayang..." Medina segera menghampiri Rega. Melihat pria itu yang sudah menatapnya setajam ujung pisau yang siap menusuk siapa saja. "...Mau mandi dulu?"
"Hmm"
Rega tidak menjawan, namun dia menarik tangan Medina dan membawanya ke kamar. Rasanya tidak mungkin jika Rega mengutarakan kekesalannya karena melihat Medina yang berpelukan dengan pria lain di depannya, di depan Ibu Nia.
"Sayang, aku tidak ada apa-apa dengan Giant" Medina mengikuti Rega yang masuk ke dalam ruang ganti.
"Tidak ada apa-apa, tapi kok pelukan" Reg menyambar handuknya yang menggantung lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan menutup pintu keras.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Medina tersenyum ke arah Rega yang keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahnya. "Ini bajunya sudah aku siapkan Sayang"
Rega tidak menjawab, dia mengambil pakaian yang disodorkan oleh Medina dan memakainya di depan Medina tanpa rasa malu sedikit pun.
"Sayang, sudah dong marahnya..." Medina memeluk Rega dari belakang saat pria itu sedang mengancingkan bajunya. "...Aku memeluk Giant hanya sebagai saudara saja. Tidak lebih. Aku hanya mencintaimu, kamu tahu sendiri tentang itu"
Rega menghela nafas pelan, jelas dia sadar dan tahu. Tapi tetap saja jika melihat Medina dekat dengan pria lain, tentu saja Rega tidak rela. Karena terlalu besar takut kehilangan Medina di hatinya. Apalagi ketika beberapa waktu lalu, dia juga sudah hampir kehilangan Medina. Masih sangat beruntung ketika Rega masih bisa menemukan Medina dan bisa bersamanya saat ini.
"Aku tahu, tapi aku tetap tidak suka melihatmu bersama pria lain. Meski kau hanya menganggapnya sebagai saudara. Jelas dia bukan saudaramu"
Medina tersenyum sambil menempelkan pipinya di punggung Rega. "Iya, aku juga tidak tahu kenapa bisa merasa seperti ini pada Giant. Padahal kami baru kenal, tapi aku merasa jika Giant adalah sosok saudara laki-laki yang bisa di ajak bercerita apapun"
"Tetap saja aku tidak suka!"
"Iya, iya tidak akan lagi. Sekarang ayo kita makan siang, tadi aku sempat masak untuk kita makan siang"
__ADS_1
Rega berbalik dan mengecup kening Medina dengan lembut. "Baiklah, ayo kita makan siang"
Rega merangkul Medina dengan sesekali mencium kepala istrinya. Membawa Medina keluar dari kamar.
******
Medina terbangun pagi ini dan tidak mendapati Rega disampingnya. Medina bangun terduduk di atas tempat tidur dan baru tersadar jika ada dua orang wanita disana. Medina sedikit terkejut dan bingung kenapa ada orang lain yang di dalam kamarnya.
"Kalian siapa?"
"Kami dari pihak MUA, kami akan membantu Nona untuk berias pagi ini"
Berias?
Medina merasa ada yang dia lupakan pagi ini. Dan kenapa dia harus berias? Dan tiba-tiba Medina mengingat sesuatu sampai dia benar-benar terkejut.
"Ya ampun, aku baru ingat jika hari ini adalah hari pernikahanku"
Medina langsung turun dari atas tempat tidur. Kedua orang wanita itu langsung membantu Medina. Mereka juga merasa heran karena ada orang seperti Medina yang bisa sampai melupakan hari pernikahannya.
Medina sebenarnya merasa tidak nyaman ketika dia harus melakukan segala hal dengan ditemani dua orang wanita itu. Bahkan untuk mandi pun, mereka benar-benar menunggu Medina di depan pintu. Benar-benar membuat Medina merasa tidak nyaman.
"Kalian hanya bertugas merias aku saja 'kan? Kenapa harus sampai menunggu aku mandi segala"
"ini yang di perintahkan oleh Tuan, Nona"
Medina menghela nafas pelan karena merasa jika Rega itu benar-benar berlebihan kali ini. Namun Medina tetap tidak bisa melakukan apapun, selain menuruti semuanya.
Akhirnya Medina mulai dirias oleh kedua wanita itu. Sebelumnya di juga dibantu untuk memakai gaun pengantinnya. Medina bahkan tidak memikirkan tentang gaun pengantin karena dia hanya memikirkan jika pernikahan ini hanya pernikahan sederhana.Tapi ternyata Rega benar-benar telah menyiapkan semuanya.
Bersambung
__ADS_1