
Medina baru saja selesai kuliah, dia berjalan menuju parkiran dan melihat mobil Rega terparkir disana. Awalnya Medina ragu, takut jika dia salah mengenali mobil Rega. Tapi saat kaca jendela mobil terbuka, Medina melihat Rega yang berada di balik kemudi dan menoleh ke arahnya. Rega tersenyum pada Medina.
"Kenapa menjemput?"
"Cepat masuk, kenapa malah bertanya seperti itu?"
Medina masuk ke dalam mobil, melihat Rega yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan kampus. "Bukannya kamu bekerja ya, kok bisa jemput aku?"
"Menyempatkan saja, karena tadi pagi aku tidak sempat mengantarmu"
Menggeleng tidak percaya dengan ucapan Rega barusan. Hanya karena tadi pagi tidak sempat mengantarnya kuliah, sekarang dia menyempatkan diri untuk menjemput Medina pulang kuliah. Entah Medina harus senang atau bagaimana dengan sikap Rega ini.
"Apa mau makan siang dulu?"
Medina menoleh ke arah Rega, sebenarnya dia memang sudah lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan. "Emm. Bagaimana dengan Selvia?"
Rega menatap Medina sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. "Dia tidak papa, dia pasti sudah makan siang di rumah"
"Emm. Gitu ya, kalau gitu kita mampir dulu makan siang ya. Aku lapar, tadi pagi tidak sempat sarapan"
Rega mengelus kepala Medina dengan sayang. "Lagian kenapa tadi kau tidak sarapan dulu. Kalau sakit bagaimana?"
"Aku terburu-buru tadi, soalnya ada kelas pagi"
"Maaf ya, gara-gara semalam kamu jadi kesiangan"
"Udah deh, jangan bahas itu mulu"
Rega tertawa mendengar nada kesal dari Medina. Dia senang sekali menggoda gadis itu. Melihat wajah kesal dan malu-malu Medina membuat Rega gemas sendiri.
"Kita makan disini aja ya" Rega memarkirkan mobilnya di Slick Grind Resto. Restaurant milik sahabatnya ini, memang selalu ramai saat jam makan siang.
Medina mengangguk saja, dia turun dari dalam mobil Rega. Menatap Restaurant yang cukup terkenal ini di kalangan muda. Bahkan banyak teman kuliahnya yang selalu mengajak makan disini. Namun, karena uang saku Medina tidak pernah cukup, membuat Medina selalu menolak ajakan teman-temannya.
"Ayo Sayang"
Media berjalan mendekat pada Rega, meraih tangan pria itu yang terulur padanya. Mereka masuk dengan bergandengan tangan. Rega mengambil ponselnya dan menelepon si pemilik Restaurant.
"Hallo, aku di bawah. Cepat siapkan tempat untuk aku makan siang"
Setelah berbicara seperti itu, Rega langsung memutuskan sambungan teleponnya. Beberapa saat kemudian terdengar pintu lift yang terbuka dan muncul seorang pria tampan disana yang menghampiri Rega dan Medina.
"Kau ini, selalu saja mendadak jika datang kesini. Mau makan dimana? Ruang VVIP penuh"
__ADS_1
"Tidak bisa kau kosongkan satu saja untuk aku"
"Jangan membuat Restaurant aku bangkrut Ga, sudahlah kau makan di ujung sana saja. Biar aku suruh pelayan menyiapkan"
Alvaro Sugarda, pemilik Slick Grind Resto ini adalah teman kuliah Rega dan Aiden saat di luar negara. Dan persahabatan mereka berlangsung sampai saat ini.
Alvaro melirik wanita di samping Rega, dia merasa asing dengan wanita yang Rega gandeng tangannya ini. Alvaro menyenggol lengan Rega dengan mata yang melirik Medina, memberi isyarat jika dia ingin tahu siapa wanita di samping Rega.
"Dia Medina"
Medina yang sadar sedang di perkenalkan oleh Rega pada temannya itu langsung mengangguk dan tersenyum pada Alvaro.
Alvaro menatap Rega dengan bingung, sepertinya ada yang tidak dia ketahui tentang sahabatnya ini. "Akhir pekan kita nongkrong ya"
"Ck. Masih saja, aku tidak ada waktu"
Alvaro menghela nafas kasar, memang begini sahabatnya ini. Selalu bersikap dingin dan datar, meski pada sahabatnya sendiri. Tapi meski begitu, Alvaro tahu jika Rega selalu peduli pada orang-orang terdekatnya.
"Kau harus menjelaskan sesuatu padaku..."Alvaro melirik Medina dengan tatapan penuh arti. "...Sepertinya ada yang aku tidak ketahui"
"Sudahlah, aku keisini mau makan. Kenapa malah diajak mengobrol disini"
"Meja untukmu sudah di siapkan, kamu makan dulu sana. Pokoknya akhir pekan ini harus datang"
Rega tidak menjawab, dia menggandeng Medina menuju meja di ujung ruangan yang di siapkan oleh Alvaro. Selesai memesan makanan, Medina hanya diam melihat pemandangan di luar jendela Restaurant.
"Kami teman kuliah"
Medina mengangguk mengerti, dia menatap Rega yang ternyata memang sedang mentapnya. "Kalau Selvia? Kamu kenal darimana? Dia lebih muda dari aku"
Rega terdiam, sebenarnya dia tidak ingin membahas tentang hubungannya dengan Selvia. Apalagi saat sekarang dia sedang bersama Medina. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya ini bersama Medina. Bukan dengan membahas hal lain seperti tentang dirinya dan Selvia.
"Silahkan makanannya Tuan dan Nona"
Seorang pelayan yang datang membawa pesanan mereka benar-benar menyelamatkan Rega saat ini.
"Terima kasih Mbak" Medina tersenyum pada pelayan itu.
"Makanlah, bukannya kau lapar"
Medina mengangguk, perutnya memang sudah dari tadi minta diisi. Jadi dia langsung memakan makanannya.
Rega tersenyum melihat Medina yang makan dengan lahap. Kasihan juga dia, sampai kelaparan seperti itu. Tuhan, sampai saat ini aku sangat mencintainya. Aku hannya ingin berada di dekatnya sampai kapan pun. Entah apa yang mungkin terjadi kedepannya. Aku tetap mencintainya.
__ADS_1
"Makan Sayang, kok malah liatin aku doang"
Rega tersenyum "Iya aku makan juga"
******
Medina masuk ke dalam rumah, dia melihat Selvia yang sedang tiduran di atas sofa depan televisi sambil bermain posel di tangannya. Medina berjalan menghampiri gadis itu.
"Hai Se"
Selvia langsung bangun dan menatap ke arah Medina. "Eh sudah pulang Kak, tumben sore banget pulangnya? Sama siapa?"
Medina tersenyum, dia duduk di samping Selvia. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. "Taxi online"
Memang benar, setelah makan siang di Slick Grind Resto. Tiba-tiba Rega mendapat telepon untuk segera ke perusahaan. Jadi dia tidak bisa mengantar Medina pulang ke rumah. Medina pulang dengan taxi online.
"Emm gitu ya. Udah makan siang Kak?"
"Sudah tadi, kamu?"
"Aku juga sudah, tadi pesan makanan"
Medina mengangguk mengerti, dia berpamitan pada Selvia untuk ke kamarnya. Mandi dan berganti pakaian.
Medina keluar dari ruang ganti dengan handuk kecil di tangannya. Duduk di depan meja rias dengan tangan terus mengeringkan rambutnya yang basah. Suara ponsel yang berdering membuat Medina menoleh, melirik ponselnya diatas nakas samping tempat tidur.
Medina berdiri dan mengambil ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya. "Rega, ada apa dia telepon"
"Hallo Ga, ada apa?"
"Ga?"
Medina memutar bola mata malas ketika suara dingin penuh penekanan itu terdengar dari sebrang sana. "Iya, Sayang ada apa?"
"Kamu sudah sampai?"
"Iya, baru saja selesai mandi. Ada apa?"
"Syukurlah kalau sudah sampai rumah"
"Iya Sayang"
"Kak Medina ayo kita masak lagi...."
__ADS_1
Deg..
Bersambung