Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 51 #Aku Hanya Seorang Diri?!#


__ADS_3

Selesai mengantar pesanan, Medina mengajak Rega untuk mampir sebentar di taman kota yang sering dia kunjungi selama dia tinggal disini. Medina duduk di sebuah ayunan, dan Rega berdiri di belakangnya dengan memegangi tali ayunan. Di bawah pohon rindang dengan danau buatan di depan mereka sebagai pemandangan yang indah dan menyejukkan.


Medina mengelus perutnya, seolah mengatakan jika saat ini Ibunya sangat bahagia. "Hari ini kita tidak hanya berdua Nak. Ada Papa kamu disini, bersama Ibu"


Rega tersenyum, dia membungkukan tubuhnya dan memeluk Medina dari belakang. Tangannya mengelus perut buncit Medina yang langsung dia rasakan respon dari dalam sana. Sebuah tendangan yang kuat.


"Apa selama ini kamu sering datang kesini?"


Medina mengangguk, dia menatap air danau yang terlihat tenang. "Ya, karena aku merasa nyaman berada disini"


Rega mencium puncak kepala Medina dengan lembut. "Pulang yuk, anginnya cukup kencang. Nanti kamu kedinginan"


Medina tersenyum, dia merasa sangat di perhatikan oleh Rega. Saat selama ini dia hanya memperhatikan dirinya sendiri. "Aku sudah biasa kok, lagian anginnya sejuk. Bikin aku tenang"


Rega menggeleng pelan, dia berjalan mengitari ayunan yang di duduki oleh Medina. Dia berjongkok di depan Medina. "Mulai sekarang aku akan selalu menjaga kesehatan kamu dan bayi kita. Jadi, kamu harus menurut padaku ya"


"Sayang, aku senang deh. Karena sejak aku hamil, entah kenapa perasaan aku lebih sensitif. Aku sering merasa iri pada setiap orang hamil yang aku temui. Mereka selalu di perhatikan oleh suaminya, bahkan dia bisa bermanja pada suaminya. Tapi aku..." Medina menghela nafas pelan. Hatinya selalu merasa sakit ketika dia mengingat hal itu. "...Hanya seorang diri"


"Sayang.." Rega merasa tidak mampu berkata-kata lagi. Dia tidak tahu apa yang dialami Medina selama ini. Hati Rega berdenyut sakit mendengar keluh kesal Medina.


"Ayo pulang, aku sudah puas berada disini" Medina berdiri dan mengulurkan tangannya pada Rega agar ikut berdiri.


Rega meraih uluran tangan Medina, lalu dia berdiri dan menarik tubuh gadisnya ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepala Medina beberapa kali. "Sayang, aku mencintaimu. Maafkan aku karena sudah membuat kamu sengsara selama ini. Mulai sekarang, kamu boleh melakukan apa saja denganku. Kamu bisa meminta apa saja padaku. Aku akan selalu berada di sampingmu"


Medina tersenyum mendengar itu. Dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Rega. "Semoga tidak ada halangan apapun lagi diantara kita ya"


Rega mengangguk dan kembali mencium puncak kepala istrinya itu. "Tidak akan Sayang, aku akan menikahimu  dan menjagamu sampai seumur hidupku"


Medina mendongak dan langsung mendapat kecupan dari Rega di hidung mungilnya. "Makasih ya, aku benar-benar tidak pernah menyangka jika kita akan kembali bersama. Padahal aku kira hidup aku akan hanya berdua dengan anakku ini"


"Sayang, takdir Tuhan memang telah mempersatukan kita kembali. Tidak peduli sebesar apa masalah dan rintangan yang kita lewati selama ini. Yang penting sekarang kita tetap bersama"

__ADS_1


Medina mengangguk, dia merasa bahagia dengan saat ini. Ternyata cinta diantara keduanya telah memperkuat untuk bisa bersatu kembali.


Medina menggandeng tangan suaminya menuju dimana mobil Rega terparkir. Ada beberapa orang yang menatap ke arahnya dengan bingung. Mungkin ada beberapa orang yang sering melihat Medina datang ke tempat ini seorang diri. Dan sekarang tiba-tiba dia datang dengan menggandeng seorang pria tampan. Tentu saja hal itu akan menjadi pusat perhatian.


Masuk ke dalam mobil, Rega segera melajukan mobilnya itu. "Sayang, sekarang aku bantu kamu beresin barang-barang kamu ya. Biar besok pagi bisa langsung pergi. Aku sudah pesan tiket pesawat untuk besok pagi"


"Hah? Tiket pesawat? Besok kita naik pesawat?"


"Iya Sayang, kenapa? Apa kamu takut naik pesawat?"


Medina meringis pelan, memang dalam seumur hidupnya, dia tidak pernah naik pesawat. Jadi Medina agak takut dan gugup. "Ya, aku takut. Kan aku belum pernah sekali pun naik pesawat"


Rega meraih tangan Medina dan menggenggamnya. Membawa tangan itu ke bibirnya. "Tenang saja ya, ada aku disampingmu. Semuanya akan baik-baik saja"


Medina mengangguk, meski sebenarnya dia cukup takut. Untuk pengalaman pertama tentu saja semua orang juga akan merasakan hal ini. Sangat wajar.


"Memangnya saat kamu pergi ke kota ini, kamu naik apa?"


Rega mengangguk, jika mengingat Medina yang kabur darinya hingga sejauh ini, Rega selalu merasa kesal. Hal itu membuat Rega mencium punggung tangan Medina dengan sedikit menggigitnya.


"Sayang ih, kenapa menggigit tanganku?"


"Karena kamu nakal, berani sekali pergi meninggalkan aku sampai kesini. Aku benar-benar tidak berfikir jika kamu akan pergi sampai sejauh ini"


Medina mencebikan bibirnya, hal itu malah semakin membuat Rega gemas dan ingin menciumnya. "Kan karena kamu juga, bukannya kamu sendiri yang meminta aku untuk pergi dari kehidupan kamu"


"Sayang, aku hanya meminta kamu untuk pindah dari rumahku. Bukan berarti kamu pergi sampai sejauh ini. Ya ampun Ssyang, aku benar-benar tidak pernah menyangka kalau kamu akan pergi sampai ke kota ini"


"Ya, percuma kalau aku masih berada di kota yang sama denganmu. Bagaimana aku bisa melupakanmu coba? Berada jauh darimu saja, aku tetap tidak bisa melupakanmu"


Rega tersenyum, dia mengelus kepala Medina dengan lembut. "Ya, karena sampai kapan pun hanya aku yang bisa memiliki hatimu"

__ADS_1


Medina tidak menjawab, dia menolehkan wajahnya ke arah jendela mobil dan tersenyum. Karena pada kenyataannya apa yang dikatakan Rega adalah benar. Sampai kapan pun hanya Rega yang menjadi pemilik hatinya.


Sampai di rumah Ibu Nia, Rega segera membantu Medina membereskan barang-barang. Rega hanya memilah yang kira-kira penting dan akan dibutuhkan oleh Medina saja.


"Sayang, sudah diam saja. Kamu sedang hamil dan tidak boleh banyak bergerak. Kamu sudah kecapen mengantar pesanan tadi. Sekarang diam saja"


Medina tersenyum mendengar omelan Rega. Padahal dia juga tidak melakukan apapun, hanya melipat beberapa pakaian saja.


"Sudah segini saja yang kamu bawa"


Medina sampai melongo saat semua barang-barang miliknya hanya menjadi satu tas berukuran sedang. "Sayang, kenapa hanya segitu"


"Pakaian yang lainnya tidak usah dibawa. Dibuang saja, nanti kita beli saja disana"


Medina terbelalak mendengarnya, dia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Rega barusan. "Sayang ih, kamu ini"


Rega tersenyum, dia berjalan menghampiri Medina yang duduk di pinggir tempat tidur. Rega menatap sekelilingnya, bagaimana istrinya tidur di sebuah kamar yang sempit. Hanya ada tempat tidur single, dan lemari kecil seadanya.


"Sayang, kamu nyaman tinggal disini?"


"Nyaman, memangnya kenapa? Beruntung karena Ibu Nia mau menampung aku disini. Karena saat aku pergi, aku benar-benar tidak mempunyai tujuan saat itu. Yang ada di fikiran aku hanya pergi jauh darimu"


Rega duduk disamping Medina, memeluknya dengan erat. "Sayang, kamu jahat sekali meninggalkan aku sampai sejauh ini. Tidak tahu kalau aku benar-benar kacau saat kamu tidak ada"


Medina tersenyum, rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat sikap manja Rega ini. Medina sangat merindukan setiap hal tentang pria itu.


"Kan kamu yang suruh aku pergi"


"Sayang..."


Medina tertawa mendengar rengekan itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2