
Setelah di rawat selama dua hari, akhirnya Selvia di izinkan pulang ke rumah. Saat dia sampai di rumah bersama suaminya, Medina langsung menyambutnya dengan wajah ceria.
"Se, maaf ya karena aku tidak sempat menjenguk kamu. Aku banyak tugas kampus" Padahal karena suami kamu yang tldak mengizinkan aku pergi menjenguk istrinya.
Selvia tersenyum, dia memeluk Medina dengan hangat. "Tidak papa Kak, lagian hal seperti ini sudah biasa terjadi. Kakak tidak perlu repot-repot menjenguk aku"
"Iya Se, syukurlah kalau kamu suda sehat kembali sekarang"
"Iya Kak"
Rega hanya memasang wajah datar, ketika Medina menatap dirinya dengan kesal. Mungkin karena dia yang tidak mengizinkan Medina untuk menjengguk Selvia saat itu.
"Se, ayo kita ke kamar dulu. Kamu harus banyak istirahat"
Selvia menoleh dan sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah suaminya. Dia tersenyum padan Rega. "Iya Kak, ayo"
"Yaudah Kak Medina, aku pergi ke kemar dulu ya"
Medina mengangguk, menatap kepergian sepasang suami istri itu yang menghilang di balik pintu kamar. Medina berlalu ke kamarnya, dia baru saja pulang kuliah jadi belum sempat mandi dan ganti baju saat Selvia dan Rega datang.
Medina duduk di pinggir tempat tidur, menghela nafas pelan. "Ini sudah akhir bulan, aku belum bayar uang semester terakhirku. Bagaimana ini? Aku sudah tidak bekerja, jadi tidak mempunyai uang lebih selain uang jajan yang di berikan Rega. Aku juga tidak bisa menghamburkan uang yang di berikan Rega padaku, setidaknya aku harus cukup tahu diri"
Medina berdiri dan berjalan ke arah ruang ganti dengan wajah yang lelah. Lagi-lagi dia menghela nafas pelan. Hingga beberapa saat kemudian dia telah selesai mandi dan berganti pakaian. Keluar dari ruang ganti dan terkejut saat melihat Rega yang duduk menyandar di atas tempat tidur.
"Ga..Ehh, Sayang ngapain disini? Selvia mana?"
Rega menoleh pada Medina, dia tahu jika gadis itu hampir saja salah memanggilnya. "Selvia tidur, sini!"
Medina mendekat pada Rega yang melambaikan tangannya dan menepuk ruang kosong disampingnya. Naik ke atas tempat tidur, Medina langung di tarik oleh Rega ke dalam pelukannya. Mengobati rasa rindunya selama ini. Mengecup kepala Medina dengan lembut.
"Sayang, aku merindukanmu"
Aku juga.
__ADS_1
Menyadari posisinya disini, sampai Medina tidak berani mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Dia tidak merasa memiliki hak untuk Rega. Tentang diri pria itu dan hatinya. Menyadari jika Rega telah menikah dan hanya menjadikan dirinya sebagai pemuas naf*sunya saja.
Rega mencium pipi Medina, dia benar-benar merindukan pria gadis ini. "Sayang, bagaimana kabarmu selama aku tinggal?"
"Emm. Aku baik-baik saja, hanya sedikit khawatir saja dengan keadaanmu dan Selvia. Oh ya..." Medina sedikit merubah posisi tubuhnya, menatap Rega dengan lekat. "...Kenapa penyakit Selvia bisa kambuh lagi? Kasihan dia"
"Mungkin karena dia kelelahan, memang seperti itu penyakitnya. Gampang sekali kambuh hanya dengan dia yang terlalu lelah dan dia yang mendapatkan kabar mengejutkan"
Mendengar itu membuat Medina semakin takut saja. Takut jika suatu saat nanti kebohongannya akan terbongkar, lalu apa yang akan terjadi pada Selvia saat itu.
"Emm. Sayang, kalau aku pindah rumah bagaimana?"
"Apa maksudmu? Kau ingin lari dariku?!" Rega langsung menatap Medina dengan tidak suka, wajahnya berubah dingin seketika. Rega sudah bersusah payah mendapatkan lagi Medina agar berada di sisinya kembali. Dan tidak akan pernah membuat Medina kembali pergi darinya. Apapun alasannya.
"Bukan begitu, aku takut jika Selvia akan mengetahui hubungan kita jika aku tetap berada di satu atap bersamamu"
"Aku tidak akan bisa mengawasi kalian berdua saat kalian harus berbeda rumah. Aku tidak akan bisa sering bertemu denganmu"
Iya juga ya..
"Tapi sepertinya, lebih baik aku tinggal terpisah saja. Mungkin kost saja"
Tapi, pada akhirnya Medina tetap harus memutuskan. Dia tidak bisa terus berada di rumah ini berama istri dari pria yang membeli dirinya untuk di jadikan pamuas naf*su.
"Sayang jangan mulai deh, kenapa ingin pergi meninggalkan aku?"
Medina menghela nafas, dia mengelus pipi Rega dengan lembut. "Sayang, bukan aku ingin meninggalkanmu. Tapi, aku tidak mau terus berada satu rumah dengan Selvia. Karena pasti suatu saat nanti Selvia akan mengetahui tentang kita"
Rega menghela nafas, rasanya dia sangat berat jika harus tinggal berjauhan dengan Medina. Karena mendapatkannya kembali untuk bisa tetap berada di sampingnya adalah hal yang sulit. Dan sekarang Rega harus melepaskannya, benar-benar hal yang mustahil akan dia lakukan.
******
Pagi ini Medina kembali diantarkan Rega kuliah, setelah tiga hari lalu dia tidak pulang ke rumah. Meski seperti biasa, mereka pergi lebih pagi sebelum Selvia terbangun.
__ADS_1
"Sayang, aku ingin mencari kerja sepertinya"
Rega langsung menoleh ke arah Medina, dia baru saja memarkirkan mobilnya di depan gerbang kampus. Tapi harus mendengar ucapan Medina yang menurutnya semakin meminta yang aneh-aneh padanya.
"Jangan aneh-aneh Medina! Kau ingin kerja untuk apalagi? Biaya apa yang kau butuhkan? Kenapa tidak memakai kartu yang aku berikan padamu"
Medina menghela nafas, seharusnya dia memang tidak mengatakan itu pada Rega. Tapi jika Medina bekerja tanpa izin Rega, juga pasti akan semakin menjadi masalah yang besar. Pria itu akan semakin murka padanya.
"Sayang, aku tidak enak jika terus memakai credit card yang kamu berikan. Aku..."
"Apa? Kau berhak memakainya untuk apapun, aku memberikan padamu agar kamu bisa bebas membeli apapun yang kamu inginkan"
Mendengar itu, Medina hanya menghembuskan nafas kasar. Bukannya dia tidak mau memakai credit card yang Rega berikan padanya. Tapi, dia merasa jika dirinya tidak pantas melakukan itu. Medina hanya tahu diri dan menyadari posisinya dalam hidup Rega. Tidak mau dianggal memanfaatkan kebaikan Rega padanya.
"Aku harus bayar uang semester akhir, bulan ini"
Hahaha...
Rega tertawa begitu lepas mendengarnya, membuat Medina menatap bingung padanya. Kenapa dia malah tertawa? Memangnya apa yang lucu coba. Gumamnya.
Rega memegang wajah Medina, menatap gadis itu dengan tatapan lekat. Dan tiba-tiba.. Cup..Cup..Cup... Rega memberikan kecupan di kedua pipi Medina dan juga bibirnya. Dan Medina semakin dibuat bingung dengan kelakuan Rega ini.
"Kau ini bodoh atau bagaimana si? Kau tanyakan pada pihak keuangan kampus ini. Semua biaya kuliah kamu sudah di bayar lunas"
Medina terbebalak mendengar itu. Siapa yang telah membayarnya? Tentu saja Rega, bodoh.
"Sayang kenapa kamu sampai membayar uang kuliah aku? Padahal aku tidak pernah memintanya"
Cup..
Rega kembali memberikan kecupan singkat di bibir Medina. "Memangnya kau tahu siapa yang membayarnya? Kenapa mengira aku yang membayarnya"
Medina tahu Rega sedang menggodanya, dia memukul lengan pria itu dengn kesal. "Kalau bukan kamu, ya siapa lagi"
__ADS_1
Rega hanya tertawa mendengarnya.
Bersambung