
Rega sudah sedikit gelisah saat ini, karena dia yang memang sudah tidak mempunya orang tua dankeluarga. Jadi, yang menemaninya adalah kedua sahabatnya dan juga Kedra yang ikut datang. Dia mulai bisa menerima kenyataan jika Medina memang bukan jodohnya. Kendra tidak bisa melakukan apapun ketika takdir tidak berpihak padanya untuk bisa bersama Medina.
"Tenang Ga, kenapa kau gugup begitu?"
Aiden menepuk bahu Rega, merasa tidak percaya jika orang seperti Rega bisa gugup seperti ini juga. Saat dia harus menghadapi klien yang sulit untuk di yakinkan saja, Rega masih bersikap biasa saja dan lebih tenang. Tapi saat ini, dia benar-benar terlihat sangat gugup. Benar-benar bukan seperti Rega yang biasanya.
Alvaro juga sangat ingin tertawa melihat wajah gugup Rega saat ini. "Ya ampun Ga, membuat Medina hamil saja kamu tidak gugup. Kenapa saat akan menikhinya kau telihat sangat gugup. Haha"
Rega langsung menatap tajam pada Alvaro yang tertawa begitu puas itu. Membuat Alvaro langsung bungkam seketika saat dia melihat tatapan Rega padanya yang begitu tajam.
Kendra hanya terkekeh dengan menggelengkan kepala heran dengan kelakuan tiga pria sebaya itu.
"Kenapa lama sekali ya?"Rega menatap ke lantai atas dengan tatapan cemas. Pintu kamar yang masih tertutup membuat Rega merasa jika waktu sangat lama.
"Tenang Ga, lagian Medina juga tidak akan kabur. Lagian proses make up pengantin itu pasti lama" kata Aiden, mencoba menenangkan Rega yang terlihat begitu cemas.
Hingga beberapa saat kemudian, Medina turun dengan di apit oleh dua wanita yang tadi meriasnya. Rega langsung berdiri dari duduknya dan menatap Medina yang terlihat begitu berbeda hari ini.
Ya Tuhan, dia cantik sekali.
Saat Medina sudah berada di depan Rega, pria itu masih diam dengan mata yang hampir tidak berkedip. Menatap Mwdina yang terlihat begitu cantik hari ini.
"Sayang.." Panggil Medina saat melihat Rega yang malah bengong.
Kendra dan Alvaro pun sampai tidak tahan untuk menahan tawa melihat Alvaro yang terbengong saat melihat penampilan Medina saat ini.
"Sayang?"
__ADS_1
Rega megerjap saat tangan Medina melambai di depan wajahnya untuk menyadarkan Rega dari lamunannya.
"Kenapa kau terlihat sangat cantik sekali?"
Medina langsung memalingkan wajahnya yang memerah ketika Rega mengatakan hal itu. Dan tingkah keduanya yang seperti remaja baru pacaran ini benar- benar membuat Alvaro dan Kendra tidak bisa menahan tawanya. Sementara Aiden hanya terdiam melihat adegan di depannya.
Sepertinya Ayra juga menginginkan pesta pernikahan yang seperti ini.
Entahlah apa yang sedang di fikirkan Aiden saat ini.
******
Semua rintangan dan cobaan telah di laluinya dengan tidak mudah. Belum lagi tentang cinta yang terus terhalang dengan berbagai cobaan yang ada. Tidak pernah menyangka jika akhirnya akan seperti. Benarkah jika tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dan tidak ada perjuangan yang sia-sia. Begitulah Medina rasakan saat ini. Akhir cintanya adalah ini. Ketika dia benar-benar bisa bersama Rega dalam ikatan pernikahan. Pria yang dia cintai selama ini.
Resepsi pernikahan sedang berlangsung, tentu saja ada beberapa orang yang menatap bingung pada perut Medina yang tetap terlihat, meski tim make up sudah berusaha sebisa mungkin untuk memilihkan gaun yang tepat agar perut besar Medina tidak terlalu terlihat. Namun tetap saja percuma karena kehamilan Medina yang memang suda besar.
Rega langsung menatap ke arah Medina, dia khawatir dengan kedaan istrinya. Takut jika istrinya itu sudah merasa kelelahan. "Sayang apa kau sudah lelah? Kalau begitu ayo kita istirahat saja"
Medina menggeleng pelan, dia menyandarkan kepalanya dibahu Rega yang duduk disampingnya. "Akun belum lelah, tapi aku merasa tidak enak saja dengan tatapan orang-orang padaku"
"Maksudnya apa Sayang?"
Medina menggeleng dan tidak melanjutkan percakapan yang dia mulai ketika tamu undangan yang kembali datang menghampiri mereka yang berdiri di pelaminan.
Acara terus berlanjut ketika tibs-tiba mc memanggil Rega untuk naik ke tas panggung. Medina juga merasa bingung apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh suaminya diatas panggung itu.
"Aku berdiri disini hanya untuk mengatakan hal yang mungkin membuat semuanya bingung dan bertanya-tanya"
__ADS_1
Rega mulai mengatakan apa yng ingin dia sampaikan saat ini. Menatap ke arah Medina yang menatapnya dengan cemas. Rega tersenyum tipis pada Medina, untuk menenangkan istrinya yang sedang cemas itu.
"Jadi memang benar apa yang kalian lihat saat ini jika istriku itu sedang hamil besar. Ya, aku yang membuatnya hamil, semuanya karena memang aku sangat mencintainya. Namun terlalu banyak halangan dalam hubungan kami ini untuk bisa bersatu. Dan saat ini aku sedang memperjuangkan cintaku dan mempertanggung jawabkan apa yang telah aku perbuat"
Rega meantap pada Medina yang juga menatap ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. "Dia adlah wanita hebat yang terbaik dalam hidupku. Jadi, tolong jangan sampai aku mendengar ada yang brani menjelekan dirinya. Jika kalian ingin membicarakan yang tidak baik, maka bicaralah tentang aku. Karena disini akulah yang salah,bukan istriku. Apa kalian faham?!"
Semuanya mengangguk dengan cepat.Tentu tidak akan ada yang berani membahas tentang Rega. Meski wartawan sekali pun. Mereka bisa diundang untuk bisa meliput acara pernikahan kedua Rega yang jelas lebih mewah dari sebelumnya ini, sudah sangat beruntung bagi ara wartawan itu.
Medina tersenyum haru pada suaminya yang rela mengatakan semua itu hanya demi Medina. Dia mengulurkan tangannya saat Rega kembali ke peaminan. Medina langsung memeluk Rega dengan ucapan terima kasih yang terus berulang. Rasanya Medina benar-benar bingung harus mengatakan apa lagi untuk semua yang telah Rega lakukan untuknya.
******
Prankkk...
Selvia melempar gelas yang ada diatas meja dengan emosi yang meluap-luap. Dia baru sja melihat tayangan pernikahan Rega dan Medina. Apalagi saat Rega mengumumkan tentang kehamilan Medina dengan ungkapan kata cintanya pada Medina.
"Arghhh.. Kenapa bisa seperti ini? Semuanya memang salah Medina. Dia harus membayar segala penderiataanku imi"
Selvia kembali barang apa saja yang ada di depannnya. Hal itu benar-benar membuat Mommy panik dan langsung meminta para pelayan di rumah ini untuk memegangi Selvia agar dia tenang dan tidk terus melemparkan apa saja yang ada di depannya hingga hancur berantakan diatas lantai.
"Se tenang Se, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus tenang dan biarkan Rega bersamamu wanita yang dicintainya. Jelas di tidak pernah mempunyai perasaan apapun padamu"
Mommy memeluk Selvia untuk menenangkan putrinya itu. Sebagai seorang ibu, tentu Mommy juga merasa sangat terluka ketika dia melihat keadaan putri kesayangannya itu.
Namun, Mommy juga tidak bisa melakukan apapun saat semuanya sudah benar-benar dia lakukan untuk segala kebahagiaan putrinya dan menuruti semua keinginan putrinya itu. Tapi semua yang dimulai karena keterpaksaan,pasti tidak akan pernah berjalan dengan baik dan akan tetap berakhir jika waktunya sudah tiba.
Bersambung
__ADS_1