
"Wah apa itu Kak?" Selvia menatap Medina yang memakan makanan berkuah pedas itu dengan sedikit ngeri. Melihat kuah yang begitu merah, sudah pasti sepedas apa rasanya.
"Kamu mau Se?"
Selvia menggeleng, dia tidak akan kuat memakan makanan pedas seperti itu. "Tidak Kak, itu pasti pedas ya?"
Medina mengangguk, dia kembali memakan makanan di depannya dengan sangat lahap. Meski pipinya sudah merah karena rasa pedas yang seperti membakar mulutnya.
Selvia mengambil potongan buah di dalam lemari es. "Aku pergi ke dalam ya Kak"
Medina mengangguk, dia masih asyik dengan makanan yang baru saja dia beli. Sampai dering ponsel membuatnya berhenti sejenak untuk makan. Mengangkat telepon tanpa melihat lebih dulu siapa yang menghubunginya.
"Hallo"
"Sayang, sedang apa? Kenapa suaramu seperti itu?"
Medina sedang menahan rasa pedas di mulutnya. "Aku sedang memakan yang tadi, kenapa memangnya?"
"Tuhkan pasti terlalu pedas. Jangan di habiskan"
"Hehe. Sudah terlanjur habis, Sayang"
Terdengar helaan nafas kasar dari sebrang sana. "Tadi pagi muntah-muntah karena mag kamu kambuh, sekarang malah beli makanan pedas. Sayang, jaga kesehatannya dong. Aku tidak bisa terus menjagamu setiap saat"
"Iya, iya. Aku akan menjaga kesehatanku, kamu tenang saja. Tapi tadi memang aku sangat ingin memakan ini, Sayang"
Medina juga tidak mengerti kenapa dirinya menginginkan sesuatu sampai air liurnya yang hampir menetes membayangkan makanan itu. Mungkin karena memang sudah lama dia tidak memakan makanan pedas.
"Oh ya, Sayang pulang jam berapa?"
"Seperti biasa, ada apa?"
"Emm. Aku ingin mangga ya"
"Iya, nanti aku belikan"
Medina tersenyum, dia segera mematikan sambungan telepon. Takut jika Selvia datang dan mendengar percakapan mereka berdua. Meski sekarang Medina bisa lebih tenang karena Rega sudah mengungkapkan perasaan cinta padanya, tapi tetap saja dia harus menjaga jarak dengan Rega selama Selvia masih menjadi istrinya.
__ADS_1
Medina merasa kenyang, dia mengelus perutnya sendiri. "Enak sekali, aduh perut aku kenyang"
Medina menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi meja makan dengan tangan yang mengelus perutnya yang terasa kenyang. "Duh malam nanti, makan mangga pasti enak deh. Udah gak sabar"
******
Malam hari Rega kembali dengan membawa pesanan Medina. Beruntung masih ada supermaket yang buka di malam hari. Saat dia masuk, dia melihat Selvia yang masih menonton televisi di ruang tengah.
"Sayang, udah pulang..." Selvia segera berlari menghampiri suaminya dan memeluknya denga erat. Dia melirik ke tangan Rega yang membawa kantong plastik bercap salah satu nama supermarket. "...Itu bawa apa?"
"Emm. Mangga"
Selvia langsung mengambil kantong plastik itu. "Wahh. Makasih ya, kamu sampai belikan aku mangga"
"Emm. Itu..." Rega benar-benar tidak bisa mengatakan apapun saat Selvia sudah membawa kantong plastik itu ke dapur. Rega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "...Bagaimana ini?"
Rega berlalu ke kamarnya, percuma juga jika dia mengikuti Selvia ke dapur. Rega bingung harus menjelaskan apa. Dia benar-benar harus memikirkan cara menjelaskan pada Medina.
"Biar besok aku belikan lagi saja untuk Medina" Rega masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar Medina terdiam melihat benda di tangannya. Entah kenapa karena dia membaca sebuah artikel tentang ciri-ciri awal kehamilan. Dan entah kenapa dia memutuskan untuk membeli alat cek kehamilan. Dia hanya penasaran karena dirinya yang menunjukan tanda-tanda itu selama hampir seminggu ini.
Medina memegang perutnya sendiri, masih tidak percaya jika dia sedang hamil. Namun alat tes kehamilan itu jelas menunjukan garis dua yang tegas. "Sepertinya memang alat tes ini salah, menurut di artikel harus cek di pagi hari. Jadi pasti ini kurang akurat. Ya, aku akan mencobanya lagi besok pagi"
Beruntung karena Medina membeli tiga alat tes kehamilan dengan berbagai merek berbeda. Dia akan melakukan kembali tes itu besok pagi, sesuai dengan petunjuk.
Medina keluar dari kamarnya, berjalan ke lantai bawah. Berharap Rega sudah kembali membawa pesanannya. Namun, saat dia sampai di lantai bawah dan melihat Selvia yang sedang memakan potongan mangga di atas piring kecil.
"Hai Kak, sini makan mangga. Kak Rega bawa mangga ini, baik banget ihh suami aku sampai bawakan aku mangga"
Medina tersenyum kaku, ada rasa sesak di dadanya sampai dia ingin menangis. "Iya Se, kamu habiskan saja. Aku mau ke dapur ambil air"
Sampai di dapur, Medina mengambil air minum dengan air mata yang menetes begitu saja. Dia tidak tahu kenapa sampai harus menangis hanya masalah mangga yang di makan oleh Selvia. Medina mengusap kasar air matanya.
"Kenapa aku harus menangis si, ini hanya masalah spele"
Medina juga tidak mengerti kenapa perasaannya seperti itu. Kenapa dia menjadi sensitif seperti ini. "Ohh ayolah Medina, ini hanya hal kecil. Kenapa sampai menangis"
__ADS_1
Medina kembali ke kamar, melewati ruang tengah dimana Rega dan Selvia berada disana. Medina tidak memperdulikan mereka, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Rega hanya melirik Medina yang berjalan ke lantai atas. Sebenarnya dia sangat ingin menyapa gadis itu, namun dia tidak bisa melakukan itu. Karena ada Selvia disini.
"Tidur ya Se, sudah malam. Jangan lupa minum obatnya"
"Iya Kak, ayo kita tidur. Aku sudah kenyang memakan mangga. Enak Kak, mangganya manis sekali. Makasih ya"
"I-iya"
Rega menemani Selvia tidur, sampai akhirnya Selvia benar-benar terlelap. Rega mulai turun dari atas tempat tidur dan keluar kamar. Seperti biasa, malam ini dia akan menemui Medina. Meminta maaf karena mangga pesanannya malah di makan oleh Selvia. Meski sebenarnya Selvia juga tidak tahu jika mangga itu untuk Medina. Rega tidak tega untuk mengatakannya, saat dia melihat Selvia yang begitu menikmati mangga yang dia bawa.
Masuk ke dalam kamar, Rega melihat Medina yang sedang mengerjakan tugas. Dia menghampirinya, duduk di pinggir tempat tidur.
"Sayang, lagi apa?"
"Skripsi"
Hanya itu yang keluar dari mulut Medina, Rega tahu jika Medina sedang kesal padanya. Tapi, untuk masalah mangga kenapa Medina harus semarah ini. "Sayang, besok kita beli lagi ya mangga nya. Kamu jangan cemberut gitu dong"
"Tidak perlu, aku sudah tidak menginginkannya"
Rega menghela nafas, dia naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di samping Medina dan memeluk pinggangnya. Medina benar-benar tidak merasa terusik oleh keberadaan Rega. Dia tetap mengerjakan tugasnya.
"Kira-kira kapan kamu wisuda?"
"Aku revisi dulu, habis ini mungkin bisa wisuda minggu depan"
"Selamat ya, akhirnya kamu bisa lulus kuliah juga"
"Hmm"
"Sayang, ihh..." Rega kesal juga ketika Medina begitu dingin padanya. "...Jangan marah dong, untuk masalah mangga aku akan belikan lagi besok"
"Hmm"
"Sayang.."
__ADS_1
Dan sampai tertidur pun Medina benar-benar bersikap dingin pada Rega.
Bersambung