Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 71 #Kedai Mie Penuh Kenangan#


__ADS_3

Pagi ini sepasang suami istri yang masih bergelung dibawah selimut tebal dengan tubuh yan sama-sama polos. Rega memeluk istrinya dengan nyaman. Mengabaikan suara burung yang berkicau diluar san, membangunkan keduanya yang masih tertidur dalam rasa nyaman.


Hingga Medina lebih dulu menggeliat duluan dan terbangun. Melihat wajah suaminya yang menjadi pemandangan pertama saat dia  terbangun di pagi ini.


Dia masih tampan sperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengeannya.


Tangan jahil Medina mulai mengusap wajah Rega dengan sedikit menoel-noel hidung mancung Rega. Tersenyum saat dia merasa senang dengan apa yang dia lakukan.


"Sayang, ayo bangun" Medina mengecup bibir suaminya untuk membangunkan Regadari tidurnya.


Rega terbangun dan tersenyum ketika dia melihat istrinya yang masih berada di dalam pelukannya. "Selamat pagi Sayang"


Medina trsenyum, dia ingin berbalik  dan melepaskan diri dari pelukan Rega. Namun suaminya itu tidak benar-benar langsung melepaskan Medina begitu saja. Dia menahan tubuh istrinya yang sekarang membalakanginya itu.


"Sayang mau kemana? Aku masih ingin bersamamu"


Medina tersenyum, dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada suaminya yang memeluknya dari belakang. "Aku ingin segera mandi, apa kamu tidak akan bekerja hari ini?"


Rega mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, apa kau lupa jika hari ini adalah akhir pekan. Tidak ada pekerjaan aku diakhir pekan"


Medina benar-benar baru sadar jika ternyata hari ini adalah akhir pekan. Medina semakin merasa nyaman dengan pelukan suaminya itu. Dia memegang tangan suaminya yang berada di perut buncitnya itu.


"Sayang, hari ini aku ada jadwal periksa kandungan"


"Yasudah biar aku temani, sekalian kita maka siang diluar"


"Emm.  Sebenarnya aku ingin makan mie goreng pedas yang dulu sering kita kunjungi saat aku masih sekolah"


Rega tersenyum mendengar itu, dia mengingat tempat itu. Dimana saat dulu mereka sangat sering makan di kedai mei sederhana dekat dengan sekolah Medina dulu.


"Baiklah, nanti kita pergi kesana"

__ADS_1


Medina terkejut saat tiba-tiba Rega menggendong tubuhnya. Refleks Medina langsung mengalungkan tangannya di leher Rega.


"Sayang, kau mau apa? Kenapa menggendongku?"


Rega mengecup kening istrinya dengan lembut. Berjalan menuju kamar mandi, setelah melewati ruang ganti. "Aku ingin mandi bersama denganmu"


Medina tersenyum mendengar itu, suaminya ini memang tidak pernah bosan untuk melakukan ritual itu. Mandi bersama di pagi hari dengan berendam di dalam bak mandi dengan Rega yang berada dibelakang Medina. Sesekali tangan Rega mengelus perutnya dan langsung mendapatkan respon dari anaknya di dalam sana.


"Sayang apa kamu  tidak merasa sakit ketika anak kita menendang perutmu ini"


Medina menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan nyaman. Dia tersenyum sambil mengelus perutnya itu di dalam rendaman air di bak mandi. "Ya terkadang perutku langsung mengencang jika memang tendangannya terasa sangat kencang diperutku"


"Benar tidak apa-apa? Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku, kita 'kan bisa langsung periksa ke dokter"


"Aku rasa tidak perlu, karena memang wajar saja jika mengalami hal seperti itu"


"Nanti kita tanyakan pada Dokter, aku takutnya jika hal itu tidak wajar. Aku ingin lebih menjaga kamu lagi, aku takut kamu seperti istrinya Alvaro"


"Dia koma setelah melahirkan anak kembar mereka karena melahirkan cepat. Kandungannya ada masalah. Jadi kita harus lebih waspada dan berjaga-jaga"


Medina mengerti kekhawatiran suaminya ini, tapi Medina terus mencoba meyakinkan Rega jika semuanya pasti akan baik-baik saja. "Aku dan bayi kita akan bak-baik saja"


Dan siang ini Rega benar-benar membawa Medina ke kedai mie goreng yang diinginkan istrinya itu. Rega terlihat lebih tenang setelah mendengar penjelasan Dokter beberapa waktu lalu.


Memang apa  yang dirasakan Medna termasuk normal, karena Medina juga tidak sering merasakan perutnya mengencang saat tendangan bayi dari dalam kandungannya terasa cukup kencang. Menurut  Dokter semua itu adalah hal wajar. Jadi tidak ada yang perlu terlalu  di khawatrikan lagi.


Medina turun dari dalam mobil dan menatap kedai mie yang cukup menyimpan banyak kenangan dalam hidup dirinya dan Rega. Suasana di kedai mie memang sudah banyak berubah. Medina juga lupa kapan terakhir kali dia datang ke tempat ini.  


Dua porsi mie goreng pedas telah tersedia di meja Medina dan Rega. "Sayang, aku merindukan suasana seperti ini"


Rega menatap istrinya yang begitu bahagia dengan hal sederhana seperti ini. Medina yng bisa menatap gerbang sekolahnya dulu di sebrang kedai mie ini.

__ADS_1


"Sayang, kamu tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?"


Medina menatap suaminya dengan tersenyum tipis.  "Pasti karena aku cantik dan baik ya"


Rega tertawa kecil mendengar itu. "Ya salah satunya itu. Tapi, sebenarnya karena aku melihat kamu yang tidak  merasa malu saat aku membawa kamu makan disini. Hanya makan mie di kedai murah seperti ini"


Medina tersenyum mendengar itu, dia meraih tangan suaminya yang berada diatas meja. "Ya karena aku tahu jika waktu itu kamu masih menjadi pria miskin. Haha"


Rega menoel hidung istrinya dengan gemas, dia merasa gemas dengan mimik wajah suaminya itu. "Ya, dan kamu masih mau menjadi pacarku ketika ku masih menjadi pria miskin"


Medina sedikit menipiskan bibirnya, seolah sedang berfikir kenapa dirinya mau berpacaran dengan Rega disaat pria itu masih belum mempunyai apa-apa. "Jawabannya simple, karena aku ingin berpacaran denganmu bukan hanya dengan uangmu"


Rega mengelus kepala istrinya dengan lembut. Dia merasa sangat beruntung ketika dirinya bisa bersama dengan Medina lagi setelah cukup banyak rintangan yang telah mereka lalui selama ini.


"Sudah, cepat makan mienya"


Medina mengangguk, dan keduanya mulai memakan mie goreng pedas andalan kedai mie ini. Bayangan masa lalu yang kembali terlintas dalam ingatan Medina maupun Rega. Ketika kedua insan muda yang sering datang ke tempat ini untuk makan siang. Masa dimana keduanya sedang bahagia dengan kebersamaan diantara mereka. Meski saat itu tidak ada hal yang menjadi halangan diantara mereka.


Namun masalah besar yang langsung muncul ketika Rega mengetahui tentang tempat tinggal Medina. Dan kesalahan fahaman yang telah membuat mereka harus berpisah selama 5 tahun ini.


Selesai makan mie,  Medina mengajak Rega untuk mampir sebentar di coffie shop yang ada di  sekitar tempat itu.


Duduk di meja yang berdekatan dengan jendela dengan minuman yang ada di depan mereka. Medina menatap ke arah luar jendela tempat ini dengan senyuman tipis.


"Dulu aku sering ingin datang kesini saat sekolah. Tapi karena tahu jika ditempat ini makanan dan minumannya yang lumayan mahal, jadi aku tidak pernah bisa masuk kesini disaat teman-teman sekolahku sering datang kesini"


Rega tahu tentang itu, bagaimana dulu Medin hanyalah gadis sederhana yang berada di sekolah itu.


"Mulai sekarang, kau bisa mengatakan apapun yang kau inginkan padamu. Jangan pernah ragu untuk memberi tahuku apa keinginanmu"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2