
Rega melihat Selvia yang masih terlelap, dia membenarkan selimut gadis itu. Lalu, mengecup keningnya dengan lembut. "Se, aku kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah"
"Hmm"
Rega tersenyum saat terdengar gumaman kecil dari balik selimut. Dia berdiri dan keluar dari kamarnya, melihat Medina yang sudah siap pergi ke kampus. Dia sedang memakai sepatunya.
"Ayo aku antar"
"Selvia gimana? Dia belum sarapan loh"
"Masih tidur, sudahlah nanti juga kalau dia bangun pasti langsung sarapan..." Rega mengelus kepala Medina menciumnya. "...Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?"
Medina mengangguk, dia berdiri dan menyelempangkan tasnya di bahu. Mengambil beberapa buku dan dibawa dalam dekapannya.
Rega tersenyum, dia merangkul bahu Medina dan mencium pipi gadis itu. "Pasti nyenyak, karena aku yang memelukmu"
Medina mendengus kesal, di melepaskan tangan Rega yang melingkar di bahunya. "Sudahlah jangan di bahas, ayo berangkat"
"Kenapa? Apa kau malu"
"Apasi"
Medina berjalan lebih dulu dari Rega yang tertawa kecil melihat tingkah malu-malu Medina. Rega segera menyusul Medina. Dia membukakan pintu mobil untuk Medina. "Masuk, aku antar dulu kamu kuliah"
"Padahal aku bisa pake taxi online aja"
Rega masuk ke dalam mobilnya, mencium pipi Medina sebelum memakai sabuk pengaman di tubuhnya. "Kamu sudah menjadi tanggung jawab aku, jadi harus aku yang mengantarkan kamu kemana pun"
"Aneh, yang istri kamu 'kan Selvia bukan aku"
Rega tidak menjawab lagi, dia hanya fokus pada kemudinya. Medina pun hanya diam, dia menatap keluar jendela mobil. Melihat pemandangan di luar jendela. Meski dirinya tersenyum dan terlihat baik-baik saja. Tapi kenyataannya, Medina terluka.
Ada luka yang tak terlihat dalam dirinya. Keadaan yang membuatnya seperti ini. Dimana dirinya mencintai pria yang sudah menikah dan malah menjadikan dirinya sebagai pemuas naf*su sesaat. Hingga mobil telah terparkir di depan gerbang kampus tempat Medina kuliah.
__ADS_1
"Sayang, nanti pulang jam berapa?"
Medina menoleh, rasanya sudah sangat lama dirinya tidak mendengar panggilan itu padanya. "Mungkin sekitar jam 2 siang, aku bisa pulang naik taxi online saja atau ojek online"
Rega mengelus kepala Medina dengan lembut. "Aku gak bisa jemput kayaknya, siang ini ada metting penting. Kamu naik taxi online ya"
"Iya, yaudah aku kuliah dulu ya. Kamu hati-hati di jalan"
"Iya Sayang" Rega mencium kening Medina, sebelum membiarkan gadis itu turun dari dalam mobilnya.
Rega kembali melakukan mobilnya menuju perusahaan tempat dia berkerja dan mengabdi pada sosok Tuannya, Aiden yang juga sahabatnya.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Pertanyaannya itu benar-benar mengandung arti, jika dia memang benar-benar merasa putus asa dengan keadaan saat ini.
Aiden menghela nafas, dia juga bingung harus melakukan dan memberi saran apa saat mendengar cerita Rega kali ini. "Sebenarnya sampai saat ini, aku tidak pernah menyangka kau akan melakukan hal sebesar ini. Sudah tahu akan menikah, kenapa kau malah kembali dengan mantan pacarmu itu?"
Rega memijat pelipisnya yang terasa pening dengan semua yang ada di pikirannya saat ini. Apalagi ketika sekarang Selvia telah sah menjadi istrinya. "Ya, karena aku masih mencintainya Den"
"Tapi dia akan mengerti dengan tindakan yang aku lakukan padanya, jika aku begitu mencintainya"
Aiden hanya menggeleng acuh. "Terserah kau saja, aku juga tidak bisa membantu appaun dalam masalahmu kali ini. Aku hanya bisa mendukung keputusan apapun yang akan kau ambil nantinya"
Aiden berdiri dan pergi dari depan Rega, membuat pria itu sekarang hanya merenung sendirian di dalam ruangannya ini. Dia juga bingung harus melakukan apa, karena pada kenyataannya dia sudah terlanjur terjebak dengan dua wanita.
******
Ketika siang ini Medina sampai di rumah, dia di sambut oleh senyuman hangat Selvia yang sedang duduk di sofa depan televisi yang menyala. Medina ikut duduk di sampingnya, menyimpan buka di atas meja depan mereka.
"Senang ya Kak bisa kuliah. Oh ya sarapannya enak, aku sudah makan tadi"
"Iya Se, syukur kalau kamu memakannya dan suka dengan masakan aku"
"Iya Kak, masakan Kakak emang terbaik" Selvia mengacungkan jempolnya pada Medin dengan senyuman manisnya itu.
__ADS_1
Medina tertawa, dia mengelus kepala Selvia dan merangkul bahunya seperti seorang Kakak pada adiknya. Seperti mendapat kenyamanan, Selvia malah menyandarkan kepalanya di bahu Medina dengan nyaman. Di pangkuannya ada toples berisi cemilan. Sesekali dia menyuapkan cemilan itu ke dalam mulutnya.
"Oh ya Se, apa kamu tidak kuliah? Usia kamu masih di bawah aku, apa mungkin kamu sudah lulus ya. Ambil sarjana cepat?"
Selvia menggeleng pelan, dia kembali memasukkan cemilan itu ke dalam mulutnya. Masih dengan kepala yang bersandar nyaman di bahu Medina. "Aku kuliah Kak, tapi secara online. Jadi aku gak berangkat ke kampus dan mengikuti kegiatan kampus seperti Kakak. Aku kuliah di rumah saja"
"Loh, kenapa begitu?"
"Karena kesehatan aku tidak memungkinkan untuk aku banyak melakukan kegiatan di kampus"
Mendengar itu, entah kenapa Medina merasa sangat tidak tega pada Selvia. Refleks saja tangannya mengelus kepala gadis itu. "Sama saja kuliah di rumah atau pergi ke kampus. Yang penting kita sama-sama mendapatkan ijazah dan prestasi. Iya gak?"
Selvia mengangguk, dia bangun dari posisi nyamannya. Menatap Medina dengan senyum yang merekah. "Iya Kak, aku rasa juga begitu"
Medina tersenyum, dia mengelus kepala Selvia dengan Sayang. "Kamu itu hebat Se, bisa kuliah tapi masih bisa duduk santai di rumah. Aku iri padamu"
Selvia tertawa mendengarnya, dia tahu jika Medina hanya sedang mencoba menghiburnya danĀ membuatnya merasa nyaman.
"Yaudah, kalo gitu aku ke kamar dulu ya Se. Mau ganti baju, mau mandi juga"
"Iya Kak"
Medina berlalu ke kamarnya, segera dia mandi dengan berendam sebentar. Merilekskan tubuh dan pikirannya. Tangannya memainkan busa sabun di dalam bak mandi itu, namun pikirannya menerawang entah kemana. Tentang hidupnya selanjutnya dan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Sampai kapan aku akan terus memasang topeng di depan Selvia. Seolah aku memang sepupu Rega, sementara kenyataannya tidak seperti itu"
Bagaimana Medina bisa menafsirkan tentang kisah hidupnya ini. Menjadi pemuas naf*su mantan kekasihnya, namun juga menjadi seorang selingkuhan dari pria yang telah menikah. Rasanya Medina memang sudah tidak memiliki harga diri lagi.
Aku senang bisa bersamanya, tapi apa aku akan benar-benar kuat bertahan lama dengan situasi yang seperti ini?
Medina berdiri dari dalam bak mandi, berjalan menuju shower dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Menghilang semua jejak busa sabun di tubuhnya.
Bersambung
__ADS_1