
Malam ini Medina telah siap dengan gaun yang diberikan oleh Rega saat siang tadi. Medina menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Menatap perut buncitnya yang semakin terlihat jelas mau dia memakai baju apapun. Dan Medina sekarang memikirkan tentang hari pernikahannya dengan Rega yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Tentu saja perut buncit Medina akan menjadi perhatian banyak orang.
"Aku akan membuat Rega malu dengan perutku ini. Karena mau memakai apapun perutku tetap terlihat"
Ya, meski Medina tahu jika yang ada di dalam kandungannya adalah anak Rega. Tapi dia yang bukan siapa-siapa dan Rega yang sekarang sudah lebih dari kata pria sukses lagi. Maka tidak mungkin jika orang-orang akan memperdulikannya, Karena tetap reputasi Rega yang akan tidak baik dimata mereka.
Rega keluar dari ruang ganti setelah dia selesai bersiap. Tersenyum melihat istrinya yang berdiri di depan meja rias dengan sedikit memutar tubunya, seolah dia sedang mematut penampilannya itu di depan cermin. Rega berjalan mendekati Medina dan memeluknya dari belakang. Menatap mata Medna dibalik pantulan cermin di depan mereka.
"Tiddak perlu terus mematut dirimu di depan cermin, karena kamu selalu cantik dimataku sampai kapan pun"
Medina menghela nafas pelan, dia memegang tangan Rega yang berada di perutnya itu. "Sayang, aku merasa tidak percaya diri jika nanti diacara pernikahan kita dengan kondisi aku yang sedang hamil besar seperti ini. Aku takut akan merusak reputasi kamu nantinya"
Rega langsung memutar tubuh Medina untuk menghadap ke arahnya. Menatap Medina dengan lekat. "Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu? Jelas aku yang telah membuat kamu hamil. Jadi aku juga akan menerima apapun yang tejadi dalam hidupku nantinya. Asal kamu tetap bersamaku. Faham!"
Medina benar-benar melihat ketulusan di balik tatapan Rega padanya. Pria itu memang benar-benar berniat bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat pada Medin. Meski mungkin Rega tahu jika apa yang dia lakukan tidak akan bisa membuat semua luka yang dirasakan Medina selama ini akan terjamin sembuh. Karena dia tahu sebesar luka yang telah dilewati Medina selama ini. Namun setidaknya dia bisa sedikit saja menutupi luka itu dengan kasih sayang dan cinta yang dia berikan padanya.
"Baiklah kalau begitu aku percaya saja semuanya padamu. Semoga saja suatu saat nanti kamu tidak akan menyesal dengan apa yang terjadi saat ini. Karena aku sendiri tidak pernah menyesal telah melewati semua ini denganmu"
Rega merasa gemas juga pada Medina yang selalu saja terlalu merendahkan dirinya dan seolah masih tidak yakin jiika Rega memang telah menerimanya dan sangat mencintainya. Apapun yang telah terjadi.
Cup...cup..cup,,
Rega malah memberikan serang kecupan di wajah Medina atas rsa gemas yang dia rasakan. "Jangan pernah berfikir jika aku tidak benar- benar tulus mencintaimu dan menerima keadaan kamu ini"
__ADS_1
Medina tentu percaya dengan ketulusan Rega. Namu dia masih merasa tidak pantas saja untuk bersanding dengan Rega sebagai istrinya. Mengingat jika saat ini Rega bukanlah Rega yang dia kenal dulu. Rega yang sekarang sudah menjadi sosok pria tampan yang sukses, yang pastinys akan banyak diincar para wanita diluar sana. Namun sepertinya dia harus mulai bisa meyakinkan dirinya sendiri jika Rega memlihnya karena memang dia pantas untuknya.
"Yaudah sekarang ayo kita berangkat, takutnya terlalu malam" Rega menggandeng tangan Medina untuk keluar dari kamar dan segera pergi ke tempat tujuan mereka malam ini.
Di dalam mobil Rega terus menggenggam tangan Medina dengan lembut dengan sesekali mengecupnya. Melihat tentu Medina sangat merasa bahagia dengan perlakuan Rega padanya. Medina menyandarkan kepalanya di bahu Rega yang sedang menyetir. Menatap jalanan kota di malam hari yang terlihat begitu indah. Lampu-lampu dari berbagai ruko pinggir jalan membuat suasana malam menjadi lebih indah dan terang.
"Sayang, memangnya kita mau makan dimana? Lagian kenapa harus makan diluar, kalau aku juga bisa masak dirumah'"
"Sudah kamu menurut saja padaku"
Medina cemberut mendengar itu, jadi dia hanya diam dengan menatap pemandangan kota di malam hari. Hingga mereka sampai di Restaurant milik Alvaro, yang Medina ketahui jika dia adalah sahabat dari Rega,
Kali ini bukan makan di ruangan terbuka di Reato ini. Namun Rega memang sudah memsan ruangan VVIP di Restaurant ini. Dan ketika Rega membawa Medina masuk ke dalam ruangan itu. Medina benar-benar dibuat terkejut dan terharu dengan apa yang Rega persiapkan untuknya malam ini.
Medina menoleh pada Rega dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Sayang, apa ini semua memang kamu yang menyiapkannya?"
Rega memeluk Medina dari belakang, menyandarkan dagunya dibahu Medina. "Tentu saja tidak, aku menyuruh pekerja disini untuk menyiapkan semuanya untuk memberi kejutan padamu. Apa kau suka?"
Medina mengangguk dengan air mata yang mengalir begitu saja di pipinya. "Terima kasih Sayang, aku sangat menyukainya dan tidak menyangka jika kamu akan melakukan semua ini"
"Ini semua akunlkukan supaya kamu menghapus semua keraguan dalam hati kamu untuk menikah denganku"
Medina menoleh dan seketika tatapannya bertemu dengan tatapan Rega. Keduanya mulai terhanyut dengan tatapan masing-masing. "Aku tidak meragukan kamu dan cintamu padaku. Tapi, aku hanya meragukan diriku sendiri. Apa aku memang pantas bersanding denganmu sebagai istrimu"
__ADS_1
"Sayang..." Rega melepaskan prlukannya dan beralih ke depan Medina. Dia memegang bahu Medina dan menatapnya dengan lekat. "...Aku mencintaimu dan akan mnikahimu karena memang aku ingin menjadikan kamu Ratu dalam hidupku dan menjadi pendampingku selamanya. Bukan untuk mencari yang pantas atau tidak pantas"
Ya, Medina harus mulai yakin dengan dirinya sendiri. Karena dia memang sudah jauh lebih pantas untuk Rega. Tanpa bisa berkata-kata lagi, Medina langsung saja memeluk Rega.
"Mafkan aku Sayang karena aku sudah tidak percaya diri pada diriku sendiri untuk menjadi pendmpingmu"
Rega tersenyum, dia mengelus kepala Medina dan mengecupnya. "Jadi mulai sekarang berhentilah berfikir aneh-aneh"
Medina mengangguk dalam pelukan Rega.
Kini setelah perdebatan kecil itu, Medina dan Rega sudah duduk dengan saling berhadapan. Medina melihat Rega mengambil kotak di atas meja depan mereka itu.
"Sayang aku tahu jika aku hanyalah pria biasa yang mempunyai banyak kesalahan. Aku telah banyak membuat kamu kecewa dan terluka selama ini. Tapi hari ini aku benar-benar berjanji akan selalu menjagamu dan mencintaimu. Dan untuk itu izinkan aku untuk menjadi suami sahmu dan Ayah dari anak kita"
Medina terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca kembali. Dia benar-benar tidak bisa berkata-kata saat ini. Aapalagi ketika Rega membuka kotak itu dan isinya adalah sebuah kalung dengan liontin kupu-kupu yang indah. Jika dilihat-lihat liontin yang ada di kalung itu sedikit mirip dengan gelang yang diberikan Rega beberapa tahun lalu. Saat hari anniversary hubungan mereka.
"Medina, Will you merry me?'
Dan Medina hanya mengangguk sebagai jawaban. Rega tersenyum, dia berdiri dan berjalan ke belakang tubuh Meidina. Memasangkan kalung itu di leher gadisnya yang polos itu.
"Terima kasih karena tetap menjadi Medina yang sangat aku cintai"
Bersambung
__ADS_1