
Bagaikan mendapatkan kejutan dari masa lalu yang tidak dia harapkan sama sekali. Ibu begitu terkejut ketika dia membuka pintu karena adanya tamu yang datang ke rumah ini. Melihat sosok pria yang begitu dia kenali meski sekarang usianya sudah tidak lagi muda. Namun Ibu Nia tetap mengenali sosok pria itu dengan jelas.
Dia adalah pria yang sempat sangat Ibu Nia cintai saat itu.Bahkan Ibu Nia rela menyerahkan tubuhnya pada pria itu sampai dia mengandung Medina. Namun ternyata pria yang begitu dia cintai telah membohonginya selama mereka menjalin kasih. Dia sudah menikah dan mempunyai satu orang anak laki-laki. Saat itu hati Ibu benar-benar hancur, apalagi ketika pria itu dengan sengaja mengatakan jika dia tidak akan bisa bertanggung jawab atas kehamilannya itu. Karena dia yang harus kembali pada istri sahnya.
Ya, semua ini memang kesalahan Ibu juga yang rela menyerahkan harta paling berharga dalam hidupnya pada pria itu hanya atas nama cinta. Namun semuanya sudah berlalu, tapi rasa sakit dan kecewa itu kembali muncul ketika Ibu Nia melihat wajah pria itu kembali.
Sementara di dalam kamar, Rega masih mencoba untuk menenangkan istrinya yang masih shock dengan kejadian barusan. Rega memeluknya dan terus mengelus kepala istrinya dengan sesekali mengecupnya dengan lembut.
"Sayang, kamu harus tenang ya. Jangan terlalu di pikirkan karena saat ini kamu juga sedang hamil, jadi harus menjaga stres"
Medina mendongak dan menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Terkadang Medina heran kenapa hidupnya harus serumit ini hanya untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan saja, rasanya sangat sulit.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini Sayang? Jadi selama ini aku telah merebut suami dari adikku sendiri, aku dan Selvia bersaudara meski hanya satu Ayah. Dan aku yang telah melukai hati adikku sendiri"
"Tidak Sayang! Jangan berkata seperti itu, kamu tidak pernah salah dalam hal ini. Kita yang sudah saling mencintai sejak dulu, dan menurut aku tidak ada yang salah ketika kita sedang memperjuangkan cinta"
Medina meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan suaminya. Dia semakin erat memeluk suaminya. "Aku benar-benar tidak siap menerima semua ini, Sayang. Aku merasa sangat tidak kuat"
"Tidak papa untuk bersembunyi dan menghindari masalah untuk beberapa waktu untuk menguatkan diri sendiri agar bisa menghadapi masalah yang ada.Tapi jika nanti kamu sudah siap, kita hadapi sama-sama. Aku akan selalu bersama denganmu"
Medina mengangguk mendengar ucapan Rega barusan. Untuk saat ini memang dirinya belum bisa untuk menghadapi semua kenyataan yang ada. Medina masih merasa jika dirinya masih belum kuat untuk menghadapinya dan menerima semua ini.
"Terima kasih Sayang karena selalu bersama denganku di saat seperti ini"
__ADS_1
Rega mengecup puncak kepala istrinya dan menghapus air mata yang berada di pipi istrinya itu. "Semuanya akan baik-baik saja jika kita selalu bersama dan bahagia"
######
Pagi ini Ibu Nia yang sedang menyiapkan sarapan langsung terdiam saat melihat Medina yang datang menghampirinya. Ibu jelas melihat wajah lelah Medina dengan matanya yang sedikit sembab.
"Me, kamu baik-baik saja 'kan? Maafkan Ibu ya"
Medina mendongak dan menatap Ibunya dengan tersenyum, dia tidak menyalahkan Ibu karena dia juga korban disini. Tidak terpikir seberapa berat hidup yang dijalani oleh Ibu Nia selama ini.
"Ibu tidak salah dan tidak perlu meminta maaf. Lagian Medina juga tidak marah pada Ibu, Medina hanya merasa kecewa dengan takdir. Kenapa harus dia yang menjadi Ayah Medina, dia adalah Ayah dari Selvia Bu. Wanita yang menikah dengan Rega sebelum Rega menikahiku"
Ibu langsung menghampiri Medina dan memeluknya. Dia tahu bagaimana perasaan putrinya yang sangat shock dengan kenyataan yang terjadi.
Medina menggeleng pelan, dia memeluk pinggang Ibu yang berdiri di sampingnya sambil memeluknya itu. "Semuanya sudah garis hidup Medina Bu, tidak akan ada yang bisa merubah semuanya"
Kecewa dengan takdir? Tentu saja Medina sudah beberapa kali mengalami hal itu. Tapi dia juga tidak bisa mengubah semuanya yang telah di gariskan dalam hidupnya. Medina hanya perlu waktu untuk beberapa saat agar dia bisa menenangkan diri dan pikirannya yang kacau.
"Aku tidak bekerja hari ini, aku akan menemani kamu di rumah"
Medina menatap suaminya dengan kening berkerut. "Kenapa harus berhenti bekerja? Sayang, aku tidak papa dan tidak sakit juga. Aku baik-baik saya kalau kamu mau pergi bekerja"
Rega berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas sofa di kamar mereka ini. Duduk di samping istrinya dengan mengelus kepala Medina dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu memang baik-baik saja, tapi aku tahu jika pkiran kamu sedang tidak baik-baik saja saat ini"
Medina menatap suaminya dengan tersenyum tipis. Suaminya ini memang selalu mengerti keadaan dirinya sehingga dia selalu menjadikan Medina sebagai prioritas utama baginya.
"Yaudah terserah kamu saja, yang penting bukan aku yang melarang kamu untuk pergi bekerja"
"Kita akan pergi jalan-jalan hari ini. Cepatlah bersiap"
######
Mommy menatap putrinya yang semakin hari keadaannya malah semakin kritis. Dengan munculnya wanita yang pernah menjadi selingkuhan suaminya, membuat Mommy semakin bingung dan stres. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini.
Apalagi saat dia mengetahui jika anak suaminya dari wanita lain itu adalah Medina, wanita yang juga pernah di sakiti hatinya oleh putrinya karena cintanya yang di rebut paksa oleh Selvia. Namun pada akhirnya Selvia tetap tidak bisa bersama dengan Rega selamanya, karena pada dasarnya cinta Rega hanya untuk Medina seorang.
Ketika Daddy masuk ke dalam ruangan Selvia, dia melihat istrinya yang hanya diam merenung di kursi dekat ranjang pasien yang di tempati oleh putrinya. Daddu berjalan mendekat pada istrinya itu, semua ini memang kesalahannya hingga sekarang semuanya semakin terasa rumit.
"Maafkan Daddy, Mom" lirihnya pelan
Mommy menoleh dan menatap ke arah suaminya, dia menghela nafas pelan dan mengalihkan kembali pandangannya dari suaminya itu.
"Semuanya sudah terjadi Dad, apalagi yang bisa Mommy lakukan sekarang? Hanya bisa pasrah dan menerima semuanya, lagian kita juga sudah tua, Mommy tidak mau berpisah di usia kita yang mungkin hanya sebentar lagi di dunia ini. Semuanya sudah terjadi dan tidak akan bisa di ulang kembali. Jadi Mommy hanya bisa menerimanya"
Untuk saat ini yang menjadi prioritas utama Mommy adalah kesembuhan Selvia. Dia sudah tidak terlalu memikirkan tentang masalahnya dengan suaminya itu. Biarkan saja semuanya berjalan dengan semestinya dan Mommy hanya akan mengikutinya saja.
__ADS_1
Bersambung