Pemuas Nafsu Sang Mantan

Pemuas Nafsu Sang Mantan
Bab 50 #Dari Awal Kau Adalah Pilihanku!#


__ADS_3

Pagi ini Rega kembali menemui Medina yang masih tinggal di rumah Ibu Nia. Tadinya Rega ingin segera membawa Medina kembali ke Ibu kota, tapi mengingat semalam terlalu malam dan takutnya Medina tidak akan nyaman dengan perjalanan malam hari.


Medina tersenyum saat Rega datang, dia sedang membantu Ibu Nia untuk menyiapkan cattering untuk nanti siang. Rega menatap Medina yang duduk di atas lantai tanpa alas, dia sedang memasukan beberapa snack makanan yang sudah siap ke dalam box.


"Sayang duduk di lantai ih, dingin"


Medina mendongak dan menatap Rega yang duduk diatas sofa. Dia tersenyum pada pria itu. "Tidak papa, lagian sudah biasa juga"


Dada Rega sedikit nyeri ketika mendengar ucapan Medina. Membayangkan kesulitan hidup gadis itu setelah dia pergi dari kehidupan Rega. "Sayang, apa kau bekerja?"


Medina menggeleng, membuat Rega sedikit menghela nafas lega. Setidaknya Medina tidak akan kelelahan karena bekerja dengan keadaan hamil.


"Aku tidak bekerja, karena keadaanku yang sedang hamil akan sedikit sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Jadi aku hanya membantu Ibu Nia untuk mengantar pesanan cattering saja"


"Mengantar pesanan, menggunakan apa?"


"Emm. Ya kalau dekat aku jalan kaki saja, kalau jauh bisa pakai angkutan umum dan ojek"


Deg..


Lagi-lagi Rega merasa ada yang berdenyut nyeri di dadahya. Bagaimana kekasih hatinya ini berjuang untuk hidup setelah dia pergi dari kehidupannya.


"Sayang, kita pulang ke Ibu kota sekarang ya"


"Aku sudah menghubungi Aiden dan Rega untuk membantu mempersiapkan pernikahan kita"


Mendengar itu, Medina langsung menghentikan gerakan tangannya. Dia mendongak dan kembali menatap Rega yang duduk di atas sofa. "Apa kita benar-benar akan menikah?"


Rega mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan pertanyaan Medina barusan. "Sayang, apa maksudmu? Aku jelas akan menikahimu"


"Tapi aku hanya ingin pernikahan biasa saja. Kamu tahu sendiri keadaanku saat ini sedang hamil besar. Rasanya tidak pantas jika kita mengadakan pernikahan yang mewah dengan calon pengantin yang sedang hamil besar seperti ini"


Rega mengerti maksud Medina, dia berdiri dan berjalan menghampiri calon istrinya itu. Berlutut di dekat Medina, mengelus lembut perut gadis itu. "Sayang, aku tidak akan merasa malu dengan keadaan kamu. Karena kamu seperti ini juga karena aku. Jadi kenapa tidak ingin pernikahan kita di ketahui banyak orang?"


Medina menggeleng pelan, dia yang akan merasa malu jika harus mengadakan acara pernikahan yang mewah dengan keadaannya yang sedang hamil.

__ADS_1


"Aku ingin pernikahan sederhana saja. Plis ya Ga, aku hanya ingin pernikahan yang sederhana saja"


Rega menatap lekat wajah gadisnya. "Yaudah tapi dengan satu syarat!"


Medina menatap Rega dengan tatapan lekat. Membuat Rega selalu merasa gemas dan ingin mencium bibir istrinya itu. "Kamu panggil aku Sayang lagi, dan tidak diperbolehkan untuk merubah panggilan lagi"


Medina menghela nafas pelan, tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum. "Baiklah, Sayangnya aku tolong ya pernikahannya jangan terlalu mewah"


Rega tersenyum senang mendengar itu, dia mengelus kepala Medina dan mengecup keningnya. "Baiklah, aku akan menurut denganmu"


Medina tersenyum mendengar itu, setidaknya dia tidak akan terlalu merasa malu saat menikah dalam keadaan yang sudah hamil. "Emm. Untuk kembali ke Ibu kota, apa sebaiknya besok pagi saja. Aku masih belum siap-siap untuk kembali pulang ke Ibu kota"


Rega kembali mencium kening Medina dengan lembut. "Yaudah iya, aku menurut apa katamu asal kamu tidak mencoba pergi dan lari lagi dariku"


"Iya Sayang, tidak akan"


Siang ini setelah semua pesanan cattering selesai. Medina sudah siap untuk mengantarkannya. Tapi, ada yang berbeda karena hari ini dia pergi dengan diantar oleh calon suaminya, Rega.


"Ini alamatnya kemana Sayang?"


Medina menghela nafas, sepertinya memang lebih baik naik angkutan umum daripada bersama Rega seperti ini. Karena Rega dan Medina sama-sama tidak tahu semua alamat di kota ini.


Rega menganguk dan menuruti kata Medina. Berhenti di sebuah pangkalan ojek, lalu Rega membuka kaca jendela dan mempertanyakan alamat yang di tuju oleh Medina.


"Permisi Pak, saya ingin menanyakan alamat..." Rega langsung menoleh pada Medina. "...Sayang mana alamatnya?"


Medina mencabut nota yang dia tempel di kantung plastik yang dia bawa. Lalu memberikannya pada Rega.


"Loh si eneng ya, wah sekarang antar makanannya naik taxi online ya"


Medina terkejut saat tukang ojek itu adalah ojek yang pernah mengantarnya waktu itu. Dan lebih mengejutkannya karena dia mengatakan Rega adalah taxi online. Medina tersenyum masam saat tatapan tajam suaminya tertuju padanya.


"Eh, i-iya Pak"


"Mas ini bagaimana si? Baru ya jadi supir taxi online, kok sampai tidak hafal alamat disini. Ini tinggal lurus saja, nanti ada gang masuk mobil kesana dan itu sudah masuk ke perumahan ini. Tinggal cari nomor rumahnya saja"

__ADS_1


Rega benar-benar tidak menjawab, dia kesal dengan tukang ojek itu. Hal itu membuat Medina sedikit ketar ketir.


"Baik Pak, terima kasih ya"


Rega langsung melajukan kembali mobilnya, masih dengan wajah yang kesal. Medina yang melihat kekesalan Rega mencoba untuk membuat moodnya kembali baik.


"Sayang, jangan cemberut gitu dong"


"Lagian apa maksudnya mengatakan jika aku ini adalah taksi online. Apa wajahku ini terlihat seperti supir taksi online?"


Medina tersenyum, sebenarnya dia juga tidak mengerti kenapa tukang ojek nanti mengatakan jika Rega adalah supir taksi online. Medina mengelus lengan Rega yang sedang memegangi kemudi.


"Mungkin dia merasa aneh saja, disaat aku sering pergi menggunakan angkutan umum atau ojek. Dan sekarang tiba-tiba menggunakan mobil yang bagus"


Rega masih kesal, dia benar-benar menunjukan wajah dinginnya seperti biasa jika sedang kesa. "Tapi kenapa kau tidak mengatakan saja kalau aku ini adalah suamimu"


"Hehe. Iya ya, aku lupa Sayang"


Medina tertawa melihat wajah Rega yang semakin kesal. Entah kapan dia terakhir kali tertawa lepas seperti ini sejak dia pergi dari kehidupan Rega. Ternyata sumber kebahagiaan Medina adalah Rega.


"Lagian waktu itu aku pernah bilang kalau suamiku sedang bekerja di tempat yang jauh. Jadi jarang pulang, kenapa aku tidak bilang saja kalau kau adalah suamiku yang sedang pulang kesini ya. Hehe"


Rega menggeleng pelan dengan tingkah Medina. Dia merasa senang ketika melihat wajah cerah Medina. Kekesalannya langsung hilang seketika. Rega mengelus kepala Medina dengan lembut.


"Aku mencintaimu"


Medina tersenyum, dia menatap Rega dengan pandangan yang lekat. Medina benar-benar tidak pernah menyangka jika saat ini dia bisa bersama lagi dengan pria yang masih menjadi pemilik hatinya sampai saat ini.


"Sayang, terima kasih ya sudah memilihku"


"Karena dari awal kamu adalah pilihanku!"


Medina menatap Rega dengan mata menyipit. "Apaan, kalau aku memang pilihanku. Gak mungkin kamu nikahin Selvia"


"Sayang plis. Kamu 'kan tahu alasannya"

__ADS_1


Rengekan Rega malah semakin membuat Medina tertawa dan senang mengerjainya.


Bersambung


__ADS_2