Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 11. Masuk Ke Kandang Singa


__ADS_3

Masuk ke kandang singa secara cuma-cuma, mungkin itu perumpaan yang pas untuk Bella. Sebab dia tidak akan mungkin bisa keluar dengan selamat, tak peduli sebesar apa usahanya untuk terlepas dari sang predator, hasil akhir ia akan tetap menjadi sebuah mangsa.


Seharian ini William sudah mencoba untuk menghindari Bella. Namun, nyatanya ia tak bisa berhenti memikirkan gadis cantik itu. Ada gelombang hasrat yang tiba-tiba mencuat dari tubuhnya saat berdekatan dengan Bella, membuat William merasa gila.


Dia berpikir dengan mengundang wanita lain semuanya akan kembali seperti semula. Akan tetapi lagi-lagi pikiran William salah. Ester tak mampu memuaskan apa yang ada dalam ekspetasinya.


Kemarin William sengaja membawa Ester ke apartemen, sebab ia ingin melihat bagaimana reaksi yang diberikan oleh Bella. Dan tanpa Bella tahu, di dalam kamar ini, William hanya duduk dan menjadi penonton setia.


Suara desaahan Ester bukan hasil percintaannya dengan William. Melainkan alat yang sempat dipegang pria itu, sepanjang waktu berlalu Ester bermain sendiri memuaskan gairahnya. Dan William tidak tertarik sedikit pun untuk menyentuh wanita itu. Dia hanya menjadi fantasi liar Ester.


Kini William sudah tak tahu lagi harus membendungnya dengan cara apa. Sejak Bella masuk dan menatapnya dengan tatapan polos, dia tak bisa terlepas dari pergerakan gadis itu.


Hingga saat Bella mengikuti semua perintahnya tanpa membantah. William tak ingin membuang waktu percuma. Biarkan dia menjilat ludahnya sendiri, sebab nyatanya tubuh Bella mampu membuat dia berhasrat.


Bella masih terkejut dengan tindakan yang William lakukan. Hingga dia membeku dengan sorot mata yang terus bertabrakan dengan pria itu.


Namun, ada yang aneh, Bella tak lagi melihat tatapan tajam dari William. Saat ini Bella hanya merasakan sebuah sentuhan penuh damba. Kedua netra itu meredup, berganti dengan kabut yang berkelebat.


Tubuh Bella semakin tersengat, saat akhirnya bibir William mulai bergerak. Menyesap dan melumaat dengan penuh kelembutan, tetapi menuntut sebuah balasan.

__ADS_1


Otak William sudah tak memiliki kewarasan. Sebab tanpa peduli Bella meresponnya atau tidak, dia terus berusaha memancing gadis itu. Tangan besar William bergerilya, menyusuri tiap inci tubuh Bella yang sudah tak berpenghalang. Sehingga membuat Bella bergerak gusar.


Sebagai penjajah wanita, tentu William tahu bagaimana membuat lawannya menjadi basah. Bella sedikit memekik dengan nafas tersengal-sengal saat mulut William berhenti di pucuk dadanya.


"Tuan," lirih gadis itu sambil mencengkram kuat kain sprei. Namun, semua itu tak membuat William berhenti, dia malah semakin bergerak lincah di atas tubuh Bella.


Memainkan apa pun yang ia suka. Termasuk lembah lembab di bawah sana. William menarik sudut bibirnya ke atas, saat merasakan tubuh Bella yang mulai bereaksi dengan sentuhannya.


Aneh, itulah yang ada dalam benak Bella. Karena untuk pertama kalinya sebuah rasa asing menyapa tubuhnya. Nikmat dan juga menggairahkan, tetapi sungguh Bella tidak siap jika harus jatuh pada pria itu.


"Tuan, kumohon jangan seperti ini," ucap Bella dengan wajah yang sudah memerah. Akan tetapi William seolah tuli, dia tak mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Bella.


Bella semakin bergerak gelisah. Dengan reflek ia beringsut mundur, sementara William seolah menatapnya dengan lapar. Namun, ia tak mampu ke mana-mana karena dengan cepat William mengunci pergelangan tangannya di atas kepala.


"Tuan, tolong jangan lakukan itu padaku. Anda bilang, anda tidak—"


"Hei, kau yang memancingku. Jadi, kau harus bertanggung jawab," potong William, tak menerima penolakan apa pun. Dia pastikan sekalipun Bella menangis, itu semua takkan membuatnya berhenti.


"Tapi, tapi, Tuan—akhh." Bella memekik karena William kembali menyerang dadanya. Bahkan gerakannya bertambah brrutal, sehingga membuat Bella nyaris tak mendapat kesempatan untuk melawan.

__ADS_1


Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat, sementara gairahnya terus dipermainkan. Hingga entah apa yang sudah Wiliam lakukan, akhirnya Bella mendesaah.


Bella melebarkan kelopak matanya, karena terkejut dengan suaranya sendiri. Berbeda dengan William yang semakin menyeringai penuh. Tak ingin membuang waktu lebih lama, William berusaha menyatukan dirinya dengan Bella.


"Tuan, sakit!"


Bella kembali memekik dan reflek mencengkram kuat kedua lengan kekar William. Hingga entah di menit ke berapa, benda panjang itu berhasil menerobos masuk ke inti tubuh Bella.


Bella ternganga dengan nafas yang terengah-engah. Bahkan tak terasa satu tetes cairan bening keluar dari sudut matanya. Namun, semua itu tak membuat William merasa kasihan, dia justru merasa puas, karena akhirnya Bella jatuh ke tangannya.


"Kau ingat desahaan wanita kemarin? Aku ingin membuatmu seperti itu," bisik William tepat di telinga Bella. Dan detik selanjutnya William mulai bergerak pelan-pelan, membawa tubuh Bella terbang ke nirwana bersamanya.


Sumpah demi apapun, William merasakan sensasi yang berbeda. Sehingga dia semakin bersemangat untuk meraih sebuah pelepasan bersama gadis kecil yang ada di bawah tubuhnya.


Awalnya Bella merasa benci terhadap perlakuan William. Namun, seketika dia ditampar oleh kenyataan, dia sadar bahwa semua ini berawal dari sang Tante yang menjualnya. Dia hanyalah gadis bayaran.


"Ahhh ...."


Hentakan tubuh William yang terasa sangat nikmat, memaksa mulut Bella untuk mendesaah.

__ADS_1


__ADS_2