
Setelah menghabisi Derry, William langsung memakai kembali jasnya dan mengambil pistol yang semula ia letakkan di lantai. Dia naik ke atas tangga, dan sebelum benar-benar pergi dia menembaki tubuh Derry yang sudah ambruk bersimbah darah, karena ia tak ingin pria itu hidup kembali.
Namun, suara letusan timah panas itu mengundang perhatian musuh. Saat William sudah tiba di lantai empat, ia kembali menerima tembakan, hingga tepat mengenai bahu kirinya. William tersentak, tetapi dengan gesit ia melompat untuk bersembunyi sementara tangannya terus menarik pelatuk.
DOR! DOR!
Tak henti-hentinya suara itu mengudara. Sementara korban semakin berjatuhan, baik dari anak buah William mau pun anak buah Dimitri. William melirik ke sisi untuk melihat posisi musuh, tetapi begitu jarinya bergerak. Peluru tidak keluar, membuatnya menggeram kesal. "Shittt!"
William langsung membuang pistol di tangannya, dan mengarahkan satu pistol yang lain. Namun, dari arah belakang sudah ada orang yang menodongnya dengan senjata. William mengeratkan gigi depan, sebelum pelatuk ditekan William menoleh dan langsung menepis tangan orang itu.
Bugh!
Selanjutnya tendangan William berikan, hingga musuh terpelanting dan menabrak dinding. Melihat rekannya tumbang, yang lain langsung menyerang William, tetapi William melakukan salto ke depan untuk menghindari setiap peluru dan langsung mengambil senjata laras panjang sang musuh yang sempat terjatuh.
William menekuk satu kakinya dan melakukan serangan balik. Hingga para musuh kembali berjatuhan. Nafas William terengah-engah karena terlalu banyak melakukan gerakan, namun sungguh karena semangatnya untuk menyelamatkan Bella ia sampai tak merasakan sakit di bahunya. Dia mati rasa!
Kyaaa!
Musuh yang semula ia tendang kini berlari ke arah William dan memeluk pria itu dari belakang. Dia berusaha untuk mencekik William, agar pria itu kehabisan nafas. Namun, William mengerahkan seluruh kepiawaiannya.
Dia memegang kedua tangan pria itu, kemudian membungkukkan sedikit badannya untuk membanting sang musuh. Suara erangan langsung terdengar dari mulut pria itu, karena tulang-tulangnya terasa dipatahkan.
Apalagi saat William membuat tubuhnya melayang di udara. "Argh!" William berteriak untuk mengeluarkan seluruh tenaganya, dan membanting tubuh sang musuh ke tembok dan berakhir muntah darah.
Dada William naik turun seiring udara yang memenuhi rongga paru-parunya. Tak ingin mengulur waktu, dia kembali berlari untuk mencari tangga menuju lantai lima. Setiap ruangan yang dia lewati dia buka, berharap ada Bella di sana.
__ADS_1
Namun, nyatanya ia belum berhasil menemukan sang gadis. Perlu ada usaha yang lebih keras. Karena selain harus mengelilingi tempat yang begitu besar ini, anak buah Dimitri juga tak kalah banyak. Jadi, dia harus ekstra hati-hati.
Saat William hendak menaiki tangga terakhir. HT yang merupakan alat komunikasi tanpa kabelnya mengeluarkan sebuah suara. Informasi bahwa Jo sudah ada di tempat lokasi. Dia terlambat sebab sebelumnya ia habis melakukan sesuatu terlebih dahulu di markas Derry.
"Langsung saja bergabung dengan yang lain, aku sudah hampir sampai di lantai lima, dan aku yakin Bella ada di sini," ucap William dengan mata yang selalu waspada. Sementara anak buahnya sudah kembali berdiri di belakangnya. Kini tersisa 3 orang. Karena sisanya masih menyerang sudut yang lain.
"Baik, Tuan, saya akan bergabung di bagian kanan," balas Jo, dan William langsung mengangguk setuju. "Oh iya, Tuan—" Belum sempat Jo melanjutkan ucapannya, sebuah peluru melesat, anak buah William langsung mendorong sang tuan ke depan, hingga peluru tersebut mengenai dinding.
"Tuan, naik!" seru anak buah William, membuat pria yang hampir tersungkur itu segera berlari ke arah tangga. Dia menaiki anak tangga dengan cepat. Sementara para musuh menjadi bagian anak buahnya.
Keringat dan darah sudah membasahi pakaian William dia berlari untuk mencari ruangan yang ada di lantai ini. Kini senjatanya sudah hilang satu, jadi dia tidak ingin terlalu membuangnya percuma.
Brak!
"Kami belum menemukan Tuan Leo maupun Nona Bella, Tuan," ujar salah satu dari mereka, itu artinya masih ada ruangan lain yang masih perlu mereka cari di lantai ini.
"Kalau begitu kita harus bergerak cepat, kita bagi dua, kalian berdua ikut denganku. Dan kalian cari ke sebelah sana!" balas William sambil mengedikan dagu menunjuk ke arah kanan.
Para anak buahnya langsung mengangguk setuju. Sementara William kembali melangkah sambil mengendap-endap. Karena cukup luas, pencarian pun jadi semakin sulit. Apalagi para musuh masih berkeliaran.
Hingga beberapa saat berlalu, alat komunikasi yang terpasang di telinganya kembali mengeluarkan suara. "Di sebelah kanan, Tuan, di sini masih ada ruangan yang terjaga. Tapi kami telah kalah jumlah. Anak buah Dimitri terlalu banyak."
Cih!
William langsung berdecih keras, kini yang bisa ia harapkan hanyalah kedatangan Jo dan anak buah yang tersisa. Supaya bisa membantunya untuk memberantas para musuh.
__ADS_1
Namun, karena tak memiliki cukup waktu, ia tidak mungkin diam saja sampai sang asisten tiba di lantai ini. Akhirnya William berputar haluan, dia berlari kencang dengan dua anak buahnya yang senantiasa mengekor.
Setibanya di tempat yang dimaksud, beberapa anak buahnya sudah tumbang. Para musuh langsung menyeringai bengis, seolah siap menghabisi. Dengan kobaran api kebencian, William langsung mengangkat senjatanya dan menarik pelatuk.
DOR! DOR! DOR!
Mereka kembali saling serang. Namun, karena anak buah Dimitri lebih banyak, para anak buah William semakin berjatuhan, sementara William mulai merasakan tubuhnya yang lemas. Karena luka tembakan itu masih mengeluarkan darah.
"Tidak, aku tidak boleh kalah! Aku harus bisa membawa Bella pulang!" gumam William, tetapi baru saja berkata seperti itu, sebuah sabetan pisau kembali melukai lengannya. "Argh!"
Emosi William semakin menjadi-jadi, tanpa memedulikan luka di tubuhnya. Dia berlari dan melompat sana sini sambil menekan pelatuknya. Beberapa kali dia juga melakukan serangan seperti memukul dan menendang. Namun, nyatanya semua itu belum cukup.
William hampir menemui kematiannya, karena hampir saja sebuah pisau menancap di perutnya. Namun, Jo yang sudah datang langsung membawa sang tuan berguling di lantai.
"Jo?" panggil William dengan nafas terengah-engah, dan Jo langsung menganggukkan kepala.
"Urus saja Nona Bella, biar aku dan yang lain yang mengurus ini semua," balas Jo dengan penuh semangat. Tanpa ba bi bu, William menganggukkan kepala, dan menepuk bahu Jo beberapa kali. Asistennya itu benar-benar bisa diandalkan.
Jo dan William segera berpisah, Jo yang kembali untuk melawan anak buah Dimitri, sementara William berusaha mencapai pintu ruangan. Beberapa kali ia mendapat serangan, tetapi akhirnya dia bisa mendobrak pintu tersebut. Sebuah ruangan luas yang masih memiliki banyak sekat.
William berjalan masuk, hingga dengan mata kepalanya sendiri dia bisa melihat Bella yang terduduk dengan posisi terikat. Sementara banyak luka di beberapa bagian tubuh gadis itu.
Mata mereka sempat beradu pandang. Bella menggelengkan kepala dengan cucuran air mata, dan hal tersebut membuat William semakin murka.
"Akhirnya kau datang," ucap Dimitri memberi sambutan.
__ADS_1