Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 39. Aku Baik-baik Saja


__ADS_3

Setelah perkelahian itu usai, William langsung masuk ke dalam mobil. Dia berencana untuk kembali ke rumah sakit, karena ia harus menemui Bella. Namun, Jo yang duduk di sampingnya langsung berkata. "Tuan, apa tidak sebaiknya anda membersihkan tubuh terlebih dahulu? Anda terlihat sangat berantakan."


William terdiam sambil menatap penampilannya sendiri. Benar apa kata Jo, dia memang benar-benar terlihat sangat kacau, baju yang sudah menunjukkan aroma tak sedap, juga noda di mana-mana. Termasuk noda bercak darah.


"Kalau begitu carikan aku toko baju dekat sini, aku akan menggantinya," ucap William, sebab ia tak mungkin berpenampilan seperti ini di depan Bella.


Jo langsung mengangguk. Karena bukan ia yang menyentir, ia pun mengambil kotak p3k yang selalu tersedia di dalam mobil. Kemudian menarik tangan William yang masih menunjukkan luka menganga, akibat sabetan pisau.


"Kau mau apa?" tanya William sambil menarik tangannya. Namun, pegangan Jo terasa lebih kuat, hingga pria itu tak berhasil.


"Setidaknya bersihkan luka anda dengan alkohol. Supaya tidak infeksi," ucap Jo, yang terdengar seperti sebuah perintah. Karena tak ingin berdebat, William pun pasrah pada setiap tindakan sang asisten.


Tak dipungkiri setelah orang tuanya, Jo adalah orang yang paling peduli padanya. Setiap kali ia mendapat masalah, pria itu akan mengkhawatirkannya, meski tak menunjukkan dengan cara spesifik. Alhasil William pun begitu percaya pada Jo, dan menganggap pria itu seperti saudara.


Sepanjang perjalanan itu, ponsel milik William terus bergetar. Karena sedari tadi Deborah berusaha menghubunginya. Namun, William malah mengabaikannya, bahkan sengaja memblokir nomor tersebut supaya tidak mengganggunya.


Alhasil di ujung sana Deborah pun berdecak sebal dan membanting ponselnya ke atas ranjang. "Cih, apa sih yang sedang dilakukan William? Awas saja, aku akan mendatangi apartemenmu."


Sampai di toko baju William langsung mengganti pakaiannya dengan yang baru. Wajahnya pun tampak lebih segar, meski ada luka lebam di beberapa sisi. Tak ingin berlama-lama William meminta untuk segera diantar ke rumah sakit, karena ia seperti tak sabar untuk melihat keadaan Bella.


"Anda tidak ingin makan malam dulu?" tanya Jo, lagi-lagi menahan William. Karena pria itu selalu memikirkan orang lain, tanpa peduli dengan keadaan dirinya sendiri.


"Aku bisa makan di sana, jangan terlalu mengkhawatirkan aku," jawab William, melihat guratan cemas di dahi Jo yang cukup kentara.


Kendaraan roda empat itu kembali melandas, membawa William menepi di sebuah unit kesehatan di mana Bella dirawat. Sebelum turun William berkata pada Jo. "Ingatkan anak buahmu, jangan teledor lagi menjaga Bella. Sekali pun Bella bersama Leo, mereka harus tetap waspada. Aku tidak ingin hal seperti ini terulang lagi."

__ADS_1


"Baik, Tuan, nanti saya yang akan mendisiplinkan mereka. Kalau bisa, malam ini anda juga beristirahat," balas Jo seraya mengingatkan William, tetapi William selalu bersikap acuh tak acuh. Dia hanya mengangkat satu alis, kemudian berlalu begitu saja. Seolah ucapan Jo tidak begitu penting.


Melihat itu Jo hanya bisa menghela nafas panjang. Beginilah William, kalau sudah fokus pada satu wanita, maka ia akan berubah menggila.


***


Saat William masuk ke ruangan Bella, dia melihat Leo yang masih setia duduk menunggu gadis itu. Leo mengangkat kepala dan memperhatikan William yang melangkah ke arahnya. Saat sudah dekat, dia mengernyitkan dahi, sebab William seperti habis berkelahi. Terbukti dari luka dan perban di tangannya.


"Apa yang sudah kau lakukan, Will?" tanya Leo sambil bangkit dari duduk, semakin memperhatikan wajah William dengan seksama. Namun, William malah membuang muka, tak suka ditatap dengan belas kasih seperti itu.


"Pergilah, aku yang akan menjaganya," ujar pria itu, tanpa menjawab pertanyaan Leo terlebih dahulu. Dia melangkah ke arah brankar, tetapi Leo justru menahannya.


"Hei, bukankah seharusnya kau berterima kasih, bukan malah mengusirku?" ujar Leo tak terima.


Leo menghembuskan nafas kasar, karena ada benarnya juga ucapan William. Dia pun mengalah untuk pulang ke apartemen.


"Ya sudah, aku pulang!" cetus Leo, tetapi tak ada balasan apa pun dari William, membuat Leo ingin menjambak rambut pria itu dari belakang. Leo sudah menggerakkan tangan, ingin merealisasikan niatnya, tetapi William tiba-tiba bersuara.


"Menyentuhku sama saja mencari penyakit. Kau juga mau dirawat di sini?"


Glek!


Tanpa berkata apa pun lagi Leo langsung keluar dari ruangan Bella. Tak ingin berurusan lagi dengan singa gila seperti William. Hi, kalau sudah marah pria itu sangat menakutkan.


Sepeninggal Leo, William duduk di sisi brankar. Dia menunggu Bella yang tak lekas membuka mata, hingga tanpa sadar William pun terlelap, mungkin karena saking lelahnya. Sebab di samping mengurus perusahaan, dia harus mengurus masalah yang lain.

__ADS_1


Hingga setengah jam berlalu, terlihat ada pergerakan dari Bella. Gadis itu mengerjap, dan memperhatikan keadaan sekitar. Dia sedikit terkejut kala melihat sosok pria bertubuh kekar tertidur dengan kepala yang bersandar di sisi brankar.


Namun, detik selanjutnya bibir Bella melengkung karena sadar bahwa pria itu adalah William. Ya, ternyata William menunggunya.


Tangan Bella terangkat untuk sekedar mengusap kepala William. Semakin ke sini Bella semakin sadar, bahwa William pun memiliki sisi yang begitu hangat. Dan membuat ia semakin memuja pria itu.


"Kamu pasti lelah menjagaku ya? Maafkan aku karena tidak hati-hati," gumam Bella dengan suara lirih, tetapi hal tersebut justru berhasil membuat William membuka matanya.


Pria itu menatap Bella dengan mata yang begitu sayup. Namun, mampu membuat dada Bella bergetar lebih hebat.


"Tuan?" Bella ingin menarik tangannya, tetapi William justru menggenggam tangan langsing itu.


"Kau sudah sadar?" William bertanya, namun tatapan Bella justru fokus pada luka yang ada di wajah pria itu.


"Dari mana anda mendapatkan luka ini?" Bella justru balik bertanya, karena ia merasa cemas dengan keadaan William. Namun, William bukanlah orang yang pandai mengadu, dia bangkit dari duduknya dan beralih duduk di sisi brankar.


Dia menatap Bella dengan lekat kemudian meninggalkan kecupan kecil di bibir gadis itu. Hingga membuat wajah Bella berubah merona.


Cup!


"Aku baik-baik saja, bahkan masih bisa menciummu sampai kehabisan nafas."


***


__ADS_1


__ADS_2