
Tak ada yang Caka lakukan selain menggaungkan doa untuk keselamatan putranya. Dia sudah memberikan sebagian darahnya untuk William, dan ia berharap usahanya dapat membuahkan hasil.
Di sepanjang waktunya menunggu, dia sama sekali tak berani untuk menelpon istrinya dan memberikan kabar bahwa William sedang sekarat. Sumpah demi apapun, dia belum sanggup untuk mengatakannya.
Hingga akhirnya setelah melewati proses yang cukup panjang, lampu di depan ruang operasi berubah warna, sebuah tanda kalau operasi telah selesai.
Caka adalah orang pertama yang bangkit dari duduknya dan mendekati seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut. Dengan gurat cemas Caka bertanya. "Dok, apakah operasinya berjalan dengan lancar? Bagaimana kondisi putra saya? Dia baik-baik saja 'kan?"
"Operasi berjalan dengan lancar, Tuan, dan sekarang kami akan memindahkan Tuan William ke ruang pemulihan. Tapi karena kondisinya masih belum dikatakan stabil, mohon untuk tidak terlalu banyak orang yang menemaninya," jawab sang dokter dengan gamblang. Namun, informasi itu masih diterima dengan baik oleh Caka, karena hatinya merasa cukup lega.
Tak berapa lama kemudian, ranjang William didorong keluar. Caka langsung mengusap cairan bening yang keluar dengan lancang, dia tersenyum dan menghampiri putranya yang belum sadarkan diri.
"Apa yang aku katakan itu benar, kau adalah pria yang paling kuat, Nak," gumam Caka sambil terus mendorong ranjang itu menuju ruangan kelas atas yang ada di rumah sakit ini. Karena tidak akan ada nilai untuk proses kesembuhan putranya.
Aneeq dan Lee yang senantiasa mengekor ikut bernafas dengan lega. Namun, karena tak diizinkan masuk, akhirnya mereka kembali menunggu di luar. Ayah dan anak itu membiarkan Caka yang menemani William.
"Kamu menunggu apalagi? Masuklah! Kamu lebih berhak," ujar Aneeq yang melihat Caka bergeming dan terus menatapnya. Pria itu seperti merasa tak enakan, padahal sudah jelas bahwa Aneeq tidak akan mungkin mengambil hak sang adik ipar.
Tanpa ba bi bu Caka langsung masuk dan melihat putranya yang masih terkulai lemah di atas brankar. Banyak alat-alat medis yang menancap di tubuh pria itu, yang membuat Caka ingin sekali menggantikannya, andai ia bisa!
__ADS_1
Sementara di tempat yang berbeda, yakni di mansion keluarga Tan. Eliana masih belum tidur juga, padahal waktu hampir menunjukkan tengah malam.
Padahal Aneeq sudah menghubunginya kalau Caka memiliki pekerjaan. Namun, entah kenapa hatinya tak bisa tenang. Sedari tadi jantungnya terus berdebar tak karuan, hingga untuk sekedar memejamkan mata pun tidak bisa.
"Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya aku memiliki firasat yang buruk seperti ini. Kamu di mana, Kak? Kenapa tidak menghubungiku langsung?" gumam Eliana di tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamar, sementara ludahnya terasa getir untuk ditelan.
.
.
.
Ruangan Bella pun dipindah di samping ruangan William, supaya lebih mudah untuk dipantau. Saat pagi hari, Aneeq yang tak sengaja tertidur di kursi tunggu, bangun lebih dulu dari pada sang anak.
"Kenapa keluar dari kamarmu? Kamu butuh sesuatu?" tanya Aneeq segera. Namun, Bella langsung menggelengkan kepala. Tidak ada yang ia butuhkan saat ini, selain melihat wajah William. Dari semalam dia belum diberi izin, dan pagi ini dia tidak bisa membendung perasaannya lagi, dia ingin segera bertemu dengan pria itu.
"Saya hanya ingin melihat Tuan William, Tuan, saya ingin memastikan dia baik-baik saja," jawab Bella dengan wajah memohon.
Aneeq paham betul apa yang dirasakan gadis ini. Tidak ada orang yang akan duduk dengan tenang, sementara orang yang dicintainya sedang diambang kematian. Aneeq mengangguk sekilas, kemudian bangkit untuk mengetuk pintu ruangan William.
__ADS_1
Di dalam sana, Caka yang baru saja terlelap kembali membuka matanya. Semalaman dia hanya bisa termenung sambil menatap wajah putranya, meski pun operasi dinyatakan berhasil. Entah kenapa Caka tidak ingin melewatkan waktu sedikit pun dengan sang anak, dia takut ketika dia tidur William malah meninggalkannya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka, menampilkan Caka yang masih berpakaian lusuh dan wajah begitu kusut. Untuk pertama kalinya, Caka melihat Bella yang berdiri di hadapannya. Seorang gadis yang ia yakini dicintai oleh putranya.
"Ada apa, An?" tanya Caka seraya mengalihkan pandangan pada Aneeq.
"Ca, aku yakin semalaman kamu tidak tidur. Makan dan beristirahatlah dulu, dan biarkan Bella masuk untuk menemui William," jawab Aneeq, menasihati sekaligus meminta Caka agar memberi waktu pada Bella untuk bisa melihat pria pujaannya.
Caka terdiam sesaat, sebenarnya ada rasa tak rela. Namun, terakhir kali saat melihat interaksi antara William dan gadis yang ada di hadapannya ini, Caka tidak bisa egois. Bella sama pentingnya dalam hidup William.
"Ya, silahkan masuk. Tapi kalau ada apa-apa tolong segera panggil dokter, supaya William bisa ditangani dengan cepat," putus Caka akhirnya. Dia membuka pintu lebih lebar, memberikan akses pada Bella untuk masuk.
Mendengar itu, Bella langsung tersenyum sumringah. "Baik, Tuan, terima kasih banyak, terima sudah mengizinkan aku melihatnya." balas gadis itu dengan bola mata yang memerah. Tak ingin membuang waktu, Bella langsung masuk ke ruangan itu.
Sementara Caka keluar untuk menghampiri Aneeq. Pagi ini dia berencana untuk menghubungi istrinya dan mengatakan tentang kondisi putra mereka.
Pintu ruangan kembali tertutup. Bella yang sudah ada di dalam lantas mendekati pembaringan William, dilihatnya sang pria masih menutup mata rapat-rapat, membuat batinnya seperti diiris sembilu.
__ADS_1
Sampai tak terasa bulir-bulir bening keluar dari kedua sudut matanya.
"Kamu masih tidur? Kamu tidak berniat untuk menyambutku dengan sebuah pelukan seperti yang selama ini kamu lakukan? Kenapa? Kamu marah ya ... karena aku pergi tanpa izin? Ayolah ... marahi aku lagi. Jangan diam saja!" Ujar Bella sambil mengingat momen mereka berdua, dan akhirnya dia hanya bisa tergugu karena William tak merespon ucapannya.