Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 47. Berpapasan


__ADS_3

Di rumah sakit.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?" tanya ibu Deborah di dalam sambungan telepon. Setelah mendengar kabar bahwa putrinya masuk rumah sakit, dia pun turut menghubungi sang anak yang selama ini tinggal dengan ayahnya. Sebab setelah bercerai, Ervin mengambil hak asuh penuh atas Deborah.


"Keadaanku sudah membaik, Mom, sebentar lagi juga pulang ke rumah. Di sini tidak menyenangkan," balas Deborah dengan tampang lesu. Dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, karena tiba-tiba dia keracunan setelah meminum minuman yang dikirim oleh sosok misterius. Dia menyangka bahwa itu Leo, tetapi rasanya tidak mungkin. Sebab Leo adalah sepupu William, jadi tidak mungkin pria itu berusaha mencelakainya.


Lalu siapa dalang dibalik ini semua? Dan apa tujuannya? Apakah seseorang yang kurang kerjaan? Sampai harus mengirim racun padanya.


Namun, karena tak ingin membuat masalah, Deborah memilih tak bercerita pada ayahnya tentang itu semua. Karena ia yakin, semua ini hanya sebuah kesialan.


"Makan yang banyak dan minum obatmu dengan teratur, supaya kamu lekas sembuh, Sayang," ujar ibu Deborah lagi dan wanita itu langsung mengangguk.


"Iya, Mom."


Setelah mengatakan itu, Ervin yang ada di sampingnya meminta ponsel Deborah segera. "Sudah dulu, kamu harus banyak istirahat." Ucap pria paruh baya itu, dan Deborah langsung patuh pada ucapan ayahnya.


"Mom, sudah dulu ya, aku harus istirahat. Daddy sangat cerewet padaku," ucap Deborah ingin mengakhiri panggilannya dengan sang ibu. Hubungan mereka cukup baik, tapi tidak dengan ayah serta ibunya. Setelah bercerai mereka hanya baik ketika di depan Deborah saja.


"Iya, Sayang. Ikuti saja apa kata Daddy, dia sangat menyayangimu, sama seperti Mommy. Kalau ada apa-apa telepon Mommy lagi ya."


Pesan itu langsung diiyakan oleh Deborah sebagai akhir dari pembicaraan mereka. Setelah itu Deborah langsung berbaring, dengan dibantu oleh Ervin.

__ADS_1


"Dad, ngomong-ngomong kapan William akan datang? Kenapa sampai saat ini dia tidak menemuiku?" ujar Deborah merengek, berharap di saat-saat seperti ini ia bisa bermanja-manja dengan sang tunangan.


"Sabar, Sayang. Ingat apa kata calon mertuamu tadi, William pasti akan datang, hanya saja dia harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu," balas Ervin meyakinkan putrinya. Sore tadi Eliana menyempatkan diri untuk datang menjenguk calon menantunya. Dan tentu saja ia pun menyuruh sang putra untuk melakukan hal yang sama.


Maka dari itu William menyuruh Bella untuk membeli parsel buah. Ya, itu juga atas perintah ibunya. Kalau tidak, dia tidak akan mungkin mau.


"Aku benar-benar merindukannya. Aku ingin segera menikah saja, supaya kita bisa tinggal berdua," ujar Deborah, semangatnya untuk mendapatkan William benar-benar tak berkurang, meski pria itu selalu bersikap abai.


Baru saja Ervin ingin menimpali ucapan Deborah, pintu ruangan tersebut diketuk. Membuat keduanya sama-sama mengalihkan pandangan. Deborah langsung bersemangat, hingga kembali menundukkan dirinya.


Tok ... Tok ... Tok


"Dad, itu pasti William," tebak Deborah, untuk memastikan Ervin segera melangkah ke arah pintu, kemudian membuka benda persegi panjang itu. Dan ternyata tebakan putrinya benar. Setelah beberapa kali menuai puncak kenikmatan bersama Bella, William datang dengan membawa parsel buah di tangannya.


"Malam, Will. Deborah sudah menunggumu dari tadi," balas Ervin sambil merangkul bahu calon menantunya. Mereka melangkah menuju brankar. "Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah ada kendala?"


"Tidak ada," jawab William singkat, kemudian meletakkan parsel buahnya di atas meja.


"Apakah di jalan macet?" tanya Ervin lagi, tetapi William hanya menggelengkan kepala. Membuat Ervin merasa bingung untuk melanjutkan obrolan. Apalagi kini William menatap ke arah Deborah. Alhasil dia pun melepaskan pelukannya di bahu pria itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya William dengan satu alis terangkat. Dia sedikit berbasa-basi karena ada Ervin di sini.

__ADS_1


"Aku sudah baik-baik saja karena ada kamu di sini, Sayang," jawab Deborah dengan senyum lebar. Kemudian dia menggerakkan jarinya di bawah sana, supaya Ervin keluar dan memberikan waktu bagi mereka untuk berduaan.


Paham akan maksud putrinya, Ervin pun cepat-cepat pamit, untuk menyingkir dari sana. "Eum, Will. Tolong jaga Deborah sebentar ya, Uncle ingin cari udara segar di luar."


William memasukkan tangannya ke dalam saku celana, kemudian menganggukkan kepala. Setelah itu, Ervin benar-benar pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan William dan Deborah.


"Kamu ke mana saja sih, Sayang? Aku berusaha menghubungi kamu, tapi nomorku masih saja diblokir," ucap Deborah mengeluhkan William yang tak pernah ingin berkomunikasi dengannya.


"Aku sibuk, lagi pula ponselku yang satu itu sudah rusak," jawab William yang membuat kening Deborah mengernyit.


"Rusak? Lalu aku harus menghubungi kamu ke mana?"


William tiba-tiba mengulurkan tangannya seperti meminta sesuatu. "Berikan ponselmu!" titahnya. Tanpa curiga Deborah langsung memberikan benda pipih miliknya pada William.


Pria itu langsung mengotak-atik benda itu, kemudian ia merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celana. Dia mencoba menghubungkan melalui telepon, supaya Deborah percaya.


Ponsel Deborah langsung berdering dan menampilkan nama William. Melihat itu, Deborah pun langsung tersenyum sumringah. "Terima kasih, begitu kamu pergi dari sini. Aku akan langsung menghubungimu." Ujar Deborah, dan William hanya mengangkat kedua alisnya.


"Aku akan pergi sekarang!" ujarnya yang membuat Deborah langsung terhenyak.


"Will, kamu baru saja sampai. Masa sudah mau pergi lagi?" protes Deborah, padahal dia belum bermanja-manja sedikit pun dengan pria itu.

__ADS_1


"Sekarang kau sudah bisa menghubungiku, jadi untuk apa aku berlama-lama di sini? Aku sedang banyak kerjaan, jadi jangan jadi penghambat!" cetus William tanpa perasaan, kemudian tanpa permisi dia langsung keluar dari ruangan Deborah, membuat wanita itu mengepalkan tangannya kuat.


Saat di lorong rumah sakit, William berpapasan dengan pria paruh baya yang berjalan menuju ruangan Deborah. Namun, William tak menyadarinya.


__ADS_2