Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 83. Dia Juga Segalanya Untukku


__ADS_3

Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, Eliana kembali duduk di sisi putranya. Sebelumnya dokter mengatakan bahwa kondisi William cukup baik, kini pria itu tinggal menjalani masa pemulihan untuk benar-benar sembuh.


Tangis Eliana berganti dengan senyuman lebar, karena dia merasa sangat bahagia melihat putranya kembali membuka mata. Bahkan saat itu dia langsung menghubungi suaminya yang sedang pulang ke rumah. Hingga kini Caka langsung melakukan perjalanan lagi ke rumah sakit.


"Mommy sangat senang, Sayang, melihat kamu kembali sadar. Mommy tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ketakutan itu benar-benar terjadi," ucap Eliana menyuarakan kecemasannya. Sudut matanya pun mengembun, tapi kini ada tangan William yang langsung bergerak untuk menghapusnya.


"Aku tidak akan ke mana-mana, Mom. Jadi jangan khawatirkan apa pun tentangku. Aku adalah anak Mommy yang paling nakal, jangan berpikir aku akan mati dengan mudah," balas William yang sudah bisa berbicara lebih panjang.


Mendengar itu, Eliana langsung mendengus kesal, ia ingin mencubit anggota tubuh William, tapi teringat banyak luka di sana. Jadi, dia mengurungkan niatnya.


"Bicaramu menyebalkan sekali, Will. Kamu tidak tahu bagaimana cemasnya Mommy saat mendengar kabar kamu masuk rumah sakit." Eliana berbicara dengan nada ketus, tetapi tangannya senantiasa mengelus lengan William dengan lembut. Sebuah perbedaan yang sangat jelas William rasakan.


William mengangkat sudut bibirnya ke atas. Dia tahu bagaimana wanita satu ini mencintainya. Andai dia benar-benar tak bisa diselamatkan, sudah pasti semua itu akan menjadi luka paling hebat untuk ibunya.


Namun, semua yang ia lakukan juga untuk menyelamatkan gadis yang dicintainya. Bella, bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja?


"Maafkan aku, Mom. Tapi jika boleh memutar waktu, aku akan tetap memilih jalan ini, karena aku tidak bisa diam saja ketika wanitaku membutuhkan pertolongan. Sama seperti Mommy, dia juga segalanya untukku," balas William yang membuat jantung Eliana mencelos.


Apakah maksud William adalah gadis yang sempat ingin dia tampar? Karena gadis itu adalah seseorang yang terakhir menemani William, sebelum kondisi sang anak berubah kritis.

__ADS_1


"Mom," panggil William seraya meraih tangan ibunya, sebab Eliana malah melamun.


Mendengar panggilan itu, Eliana pun segera menoleh. Namun, dia seperti tak dapat memberikan komentar apa pun, karena otaknya masih belum bisa mencerna semua peristiwa yang telah terjadi pada putranya.


"Mom, bawakan Bella untukku," sambung William raut wajah memohon, dia juga ingin memastikan bahwa gadis itu dalam kondisi baik dan tidak kurang suatu apapun.


"Bella?" Eliana mengulang nama itu, karena memang belum mendengar penjelasan apa-apa.


"Aku mau Bella, Mom." Terdengar seperti rengekan anak kecil yang meminta dibelikan mainan oleh kedua orang tuanya. Hingga membuat Eliana tak bisa menolak, akhirnya dia mengangguk dan segera pamit untuk keluar.


Tepat di depan pintu, ada Caka yang hendak mengetuk benda persegi panjang itu, sehingga mereka berpapasan dan menciptakan keterkejutan.


"Mommy mau ke mana?" tanya Caka melihat wajah Eliana sedikit murung.


Caka menganggukkan kepala, meski belum mendengar cerita sepenuhnya tentang kedua sejoli itu. Namun, dia yakin William sangat mencintai Bella.


"Dia ada di ruangan sebelah. Mommy mau ikut?" tawar Caka dengan suara yang lembut. Berharap Eliana bisa memaklumi keadaan ini dan menerima Bella.


Sesaat Eliana hanya bungkam, tetapi pada akhirnya ia menganggukkan kepala, membuat Caka langsung mengulum senyum. Caka meraih tangan istrinya, dan mereka pun mengambil langkah yang sama untuk masuk ke ruangan Bella.

__ADS_1


.


.


.


Deg!


Jantung Bella seperti terjun bebas, begitu melihat Eliana masuk ke dalam ruangannya. Dia sudah merasa was-was, takut jika wanita itu akan memaki bahkan menampar dirinya seperti beberapa waktu lalu.


Dia terus terdiam dengan gurat gelisah. Sementara lidahnya terasa kelu untuk sekedar menyapa. Kini yang bisa Bella lakukan hanyalah diam seribu bahasa, sampai Eliana berdiri tepat di hadapannya.


"Kamu gadis yang bernama Bella?" tanya Eliana yang membuat Bella semakin kesulitan untuk menelan ludah.


Gadis itu mengangguk samar. Tak bisa membayangkan apa yang akan sebentar lagi terjadi. Bella hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat begitu tangan Eliana mengudara dan hinggap di kepalanya.


Namun, semua pikiran buruk yang bersarang mendadak luruh. Karena Bella tak merasakan apa-apa selain usapan lembut yang membuat hatinya bergetar.


Detik selanjutnya Bella membuka mata secara perlahan. Dan dia bisa melihat jelas kalau Eliana sedang mengulas senyum tipis. Astaga, apakah dia sedang bermimpi?

__ADS_1


Bella mencoba menyadarkan dirinya. Akan tetapi semua yang terjadi ini memang nyata. Ya, mau sebesar apa pun kekecewaan sang ibu terhadap putranya, tetapi ternyata semua itu tak bisa mengalahkan rasa cintanya. Akhirnya Eliana mencoba memahami keadaan, dan menerima kalau Bella adalah gadis yang dicintai putranya.


"Aku datang untuk meminta maaf sekaligus meminta tolong padamu. Maaf untuk apa yang telah aku lakukan, dan tolong temui Putraku. Dia ingin bertemu denganmu," ucap Eliana dengan tatapan teduhnya. Membuat Bella tertegun dengan tatapan tak percaya.


__ADS_2