Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 64. Kabar Buruk (Bella Pergi)


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Deborah menemui Bella, ia sudah lebih dulu menemui William di perusahaannya. Saat itu ia ingin mengajak William bicara, tetapi kedatangannya justru mendapat sambutan tak baik.


"Aku akan memutuskan pertunangan kita!" tegas William to the point, bahkan ketika Deborah baru saja melangkahkan ke ruangannya.


Mendengar itu, jantung Deborah seperti berhenti berdetak, sementara senyum di bibirnya langsung sirna seketika. Karena dengan tiba-tiba William memutuskan hubungan mereka, padahal sedari awal pria itu selalu menuruti apa kata orang tuanya. Apakah semua ini juga gara-gara Bella?


"Aku tidak mau! Kita akan tetap bertunangan dan menikah!" balas Deborah tak kalah tegas. Karena sedikit pun ia tidak akan rela untuk melepaskan William. Dia sudah terlanjur menaruh hati pada pria itu sejak pandangan pertama.


"Terserah! Tapi aku akan tetap membicarakan ini semua dengan keluargaku nanti malam. Semoga mereka bisa mengerti, kalau kau bukan wanita yang aku inginkan," timpal William dengan nada acuh tak acuh. Karena baginya Deborah hanyalah sebuah umpan untuk menguak siapa dalang yang menginginkan kematian Bella.


Amarah langsung menguasai dada Deborah. Wanita itu mengambil apa pun yang ada di dekatnya dan langsung melemparkan ke arah William dengan sekuat tenaga.


Crank!


Sebuah vas bunga William tepis hingga jatuh dan pecah di lantai. Sementara Deborah sudah menangis, karena sampai saat ini ternyata William tak memiliki perasaan apa pun padanya.


Jo yang menyaksikan pertengkaran itu pun hanya bisa diam dengan perasaan was-was. Takut ia terkena imbasnya juga.


"Kenapa tidak dari awal? Kenapa tidak dari awal kamu menolakku?!" teriak Deborah dengan frustasi. Namun, William masih saja bersikap tenang seperti biasanya. Dia bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkahkan kaki ke arah wanita itu.

__ADS_1


Dia mengusap air mata Deborah yang turun dengan lancang menggunakan ibu jarinya. "Kalau begitu permainan jadi tidak seru. Dan kau harus ingat bahwa aku sudah memperingatimu dari awal, jangan menaruh harapan padaku. Nanti kau kecewa. Dan sekarang kau merasakannya sendiri kan?"


Mendengar itu kekesalan Deborah bertambah besar, dia segera menepis kasar tangan William dan menatap pria itu dengan tajam. "Kau salah! Kau akan tetap menjadi milikku, Will. Sampai kapan pun kau tidak bisa lepas dari hubungan ini. Kau ditakdirkan untukku!" Tegas Deborah dengan penuh percaya diri, sedangkan William hanya mengangkat satu alisnya ke atas. Sebuah respon yang sangat menyebalkan bukan?


Lantas setelah itu Deborah langsung melenggang pergi, membawa amarah berbalut kekecewaan. Jika dia tak bisa membuat William meninggalkan Bella, maka ia yang akan membuat gadis itu meninggalkan sang tunangan. Lihat saja!


Hingga akhirnya siang itu Deborah langsung mengeksekusi rencananya. Dia menemui Bella.


.


.


.


William mencoba fokus, meski beberapa kali pikirannya tertuju pada gadis itu. Hingga saat ia keluar dari ruang rapat, Jo yang ada di belakangnya langsung berjalan mengimbangi, "Tuan, ada kabar dari anak buahku, kalau Nona Bella pergi dengan Tuan Leo setelah bertemu dengan Nona De. Sepertinya mereka terlibat perdebatan."


Langkah William langsung berhenti secara mendadak. Dia menoleh ke arah Jo yang mulai menunjukkan raut cemas. "Leo membawanya?" Tanya William dengan picingan mata, seakan tak terima jika hal tersebut terjadi. Ketika Jo menganggukkan kepala sebagai jawaban, William langsung berteriak kencang. "Shittt!"


Tanpa ba bi bu pria itu langsung berlari ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil. Di samping itu ia berusaha untuk menghubungi Leo, untuk mencari tahu ke mana pria itu membawa Bella.

__ADS_1


"Hubungi anak buahmu juga!" titah William, tetapi apa yang dilakukan pria itu tak membuahkan hasil. Sebab ponsel Leo tertinggal di apartemen. Sementara menghubungi Bella pun percuma, karena gadis itu mematikan daya ponselnya.


William berdecak keras, tetapi laju kakinya tak berkurang sedikit pun, sementara Jo terus mengekor di belakangnya.


Hampir seluruh karyawan menatap heran pada Jo dan William yang berlari tunggang langgang menuju basemen. Seperti ada sesuatu yang begitu urgent.


"Bagaimana? Anak buahmu bisa dihubungi tidak?" tanya William dengan nafas yang terengah-engah, kini mereka sudah ada di dalam mobil dan William mengambil alih kemudi.


Jo menggelengkan kepala, karena nomor anak buahnya mendadak tidak aktif. Sampai dia pun menghubungi yang lain untuk mengecek ke mana pria itu pergi. Kenapa mendadak menghilang.


"Keparaatttt! Leo benar-benar ceroboh!" umpat William dengan kecemasan yang sudah menggunung. Dia memukul stir dengan keras, kemudian menyalakan mesin. Namun, saat ia hendak mengemudikan mobil tersebut, ponselnya justru berdering.


Harapan William membumbung tinggi, hingga ia langsung melihat benda pipih tersebut. Namun, ternyata panggilan itu bukan dari Leo. Tetapi dari ayahnya, Caka.


William tak bisa untuk menolak panggilan itu, hingga akhirnya dia menggeser ikon hijau yang tertera di layar. Dan suara sang ayah langsung mendominasi. "Pulang sekarang! Atau aku yang akan mendatangimu."


Panggilan langsung terputus begitu saja, William yang sedang merasakan ledakan cemas langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Kenapa di saat-saat seperti ini, sang ayah malah memintanya untuk pulang ke rumah.


"Jo, turun!" titah William, membuat sang asisten terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Tapi—Tuan."


"Turun, kau yang cari Bella dan Leo dulu. Aku harus pulang," ucap William dengan terpaksa. Karena mendengar dari nada suaranya saja, ia sudah tahu bahwa sang ayah tengah murka.


__ADS_2