
Belum habis ketegangan serta kesedihan yang membelenggu hati orang-orang terdekat William. Kini kondisi pria itu malah semakin menurun. Denyut jantung William semakin lemah, hingga harus dirangsang dengan alat pacu jantung.
Seorang perawat keluar untuk memberikan kabar tersebut, hingga Eliana yang masih menangis di dalam dekapan suaminya pun ikut menoleh saat mendengar suara decitan pintu.
"Tuan, Nyonya, kondisi Tuan William sudah tidak memungkinkan. Jadi, kami mempersilahkan salah satu diantara kalian untuk masuk," ucap sang perawat, yang membuat semua orang tercengang. Apalagi Eliana yang baru saja datang, dunianya mendadak hancur berkeping-keping, mulutnya gagap, karena merasa tak percaya kalau putranya sudah di antara hidup dan mati.
Wanita itu menggelengkan kepalanya keras, diiringi air mata yang turun dengan lancang. Sebagai orang yang telah melahirkan William, hatinya benar-benar sakit. Hingga dia memutuskan untuk masuk ke ruangan putranya. Dia yang akan menemani William.
Namun, belum sempat kakinya melangkah, Aneeq lebih dulu mencekal pergelangan tangan adiknya. Dia tidak akan membiarkan Eliana masuk, karena wanita ini pasti tak bisa mengontrol emosinya.
"Ca, kamu saja!" ujar Aneeq seraya mengedikan dagu. Sementara di dalam dekapannya Eliana langsung meronta-ronta, meminta dilepaskan. Dia ingin menggapai tubuh Caka, tetapi suaminya lebih dulu melangkah masuk.
"Tidak! Aku ingin melihat putraku. Aku ingin berada di sampingnya! Dia tidak boleh pergi tanpa seizinku!" teriak Eliana histeris dan masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Aneeq.
Ibu mana yang sanggup mendengar kabar bahwa putranya hampir meregang nyawa. Dia pastikan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup, apalagi harus berdiam diri seperti ini.
"Lepas, Kak! Aku mau putraku ... aku mau putraku!" ujar Eliana sambil tergugu. Namun, Aneeq semakin mengeratkan pelukannya, dia pun tak kalah sedih. Hingga sudut matanya ikut terasa basah.
"Sabar, El ... sabar," ucap Aneeq berusaha menenangkan adiknya yang masih terisak kencang. Tak berbeda jauh dengan orang-orang yang ada di sana, termasuk Bella. Sedari tadi dia berusaha untuk tidak berpindah tempat, meski sebenarnya dia ingin sekali lari dan menghampiri William.
__ADS_1
Namun, dia lebih memilih untuk tahu diri. Karena ada orang yang lebih berhak atas pria itu. Yaitu Caka dan Eliana. Di dalam hati, Bella hanya bisa berdoa, semoga pria pujaannya bisa selamat dari maut. Dan kembali ke pelukannya.
Aku yakin tidak semudah itu kamu meninggalkan aku, Will. Kamu pasti bisa bertahan. Aku yakin itu ....
Lorong itu mendadak riuh dengan suara isak tangis. Namun, fokus mereka tiba-tiba teralihkan saat sosok yang sangat mirip dengan William datang dengan membawa gadis kecil.
"Mommy," panggil Zack yang saat itu menyusul ke rumah sakit bersama Ellen.
Mendengar suara sang anak, Eliana pun mengeluarkan wajahnya dari dada bidang Aneeq. Melihat wajah Zack, tangis Eliana semakin terdengar kencang. Karena dia kembali teringat dengan William. Tanpa ba bi bu Eliana langsung menghambur ke arah putranya.
Dan Zack menyambutnya dengan suka cita. Dia tahu bahwa sang ibu pasti merasa hancur, mendengar kabar tentang saudara kembarnya.
"Zack, Kakakmu." Eliana mengadu dengan dada yang terasa sangat sesak. Dan Zack bisa memahami itu. Dia membalas pelukan Eliana dan memberikan kecupan yang begitu banyak.
Sementara Ellen berlari menghampiri Bella yang masih mematung. Gadis itu terus memperhatikan Zack, karena pria itu sangat mirip dengan William. Apakah selama ini William memiliki seorang kembaran?
Mata Zack tak sengaja bersitatap dengan netra milik Bella. Dan ia bisa melihat ribuan luka yang tertanam di sana. Dia sadar bahwa Bella pun pasti sedang bingung. Namun, kali ini ia tidak bisa membohongi gadis itu lagi.
"Kak Bella!" panggil Ellen seraya meraih tangan sang kakak. Dan hal tersebut membuat Bella tersadar, dia menoleh ke bawah dan berusaha tersenyum.
__ADS_1
Tanpa bicara dia langsung memeluk tubuh Ellen. Dia sangat bersyukur karena sang adik selamat, dan menjadi salah satu semangat hidupnya.
Sementara di dalam sana, Caka harus menyaksikan putranya yang bertarung dengan maut. Setiap alat itu didekatkan, William akan memberikan reaksi yang membuat jantungnya ikut berdenyut-denyut.
Namun, sebagai seorang pria, Caka lebih bisa mengontrol emosinya. Hingga dia terlihat tenang, meski di dalam hati pikirannya sangat kacau. Dengan tangan gemetar, dia meraih tangan William yang sudah mulai terasa dingin.
Dia memejamkan matanya kuat-kuat. Berusaha untuk tetap tegar. Namun, suara monitor jantung yang berdengung di telinganya membuat ketakutan itu semakin besar. Hingga akhirnya tangis Caka kembali pecah, suara isak tangis itu mengiringi langkah dokter untuk menyelamatkan William.
"Kamu bisa, Nak! Kamu harus kembali bersama kami, ada Daddy, Mommy, adik-adikmu, keluarga serta wanitamu yang menunggu. Jangan pergi, Nak ...."
Suara Caka terdengar lirih, dia semakin membumbungkan harapan, meski kemungkinan itu sangat kecil. Karena kondisi William seperti sudah diambang batas.
Dokter masih berusaha keras, melakukan yang terbaik untuk pasiennya agar tetap bertahan. Dan sepertinya harapan William untuk hidup juga masih begitu besar. Hingga entah di menit ke berapa akhirnya suara monitor jantung kembali berbunyi dengan normal.
Semua orang yang ada di ruangan itu terperangah. Bahkan Caka langsung membuka matanya lebar-lebar, dia melihat dokter yang tersenyum cerah, seperti merasakan keajaiban yang luar biasa.
"Dok, bagaimana?" tanya Caka, dan dokter langsung menganggukkan kepala. Sebagai tanda bahwa usaha mereka membuahkan hasil.
"Bersyukurlah, Tuan, Tuan William berhasil diselamatkan. Dia melewati semuanya dengan baik," jawab sang dokter yang sedari tadi sudah ikut panik.
__ADS_1
Mendengar itu, air mata bahagia Caka langsung luruh. Detik selanjutnya dia bersujud di lantai, sebagai tanda syukur kepada Tuhan, karena masih memberikan kesempatan pada putranya.
Dan para tim dokter yang melihat itu pun merasa terharu. Bahkan tak sedikit dari mereka ikut menitihkan air mata.