Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 23. Wanita Keras Kepala


__ADS_3

"Sayang, kenapa tidak menyambutku?" tanya Deborah, membuat William mengangkat pandangannya. Tak disangka wanita satu ini malah menemuinya di perusahaan.


Deborah datang ke perusahaan William atas keinginannya sendiri. Namun, semua itu tak lepas dari campur tangan calon ibu mertuanya, sebab Deborah meminta alamat kantor William pada wanita itu.


Kaki jenjang Deborah melangkah masuk dengan tangan yang melipat di depan dada, dia melihat sekeliling dan seperti ruangan bos pada umumnya. Di sana banyak berkas-berkas dan rahasia perusahaan.


Deborah memilih duduk di sofa, melirik Jo yang diam-diam menelisik dirinya. Tak ambil pusing, Deborah hanya mengangkat sudut bibirnya ke atas kemudian berkata. "Sebelumnya aku menghubungi Tante El untuk menanyakan alamat kantormu."


"Aku tidak peduli," jawab William nampak acuh tak acuh, karena dia malah fokus pada layar komputer yang ada di hadapannya. Dia tengah mengurus beberapa pekerjaan, jadi dia merasa tak punya waktu untuk meladeni sang calon tunangan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan supaya kamu peduli padaku?" tanya Deborah, dia kembali melihat ke arah Jo, dan sepertinya pria itu memasang telinga untuk menguping pembicaraan mereka.


"Lupakan saja, lebih baik kamu pulang. Aku masih banyak urusan," jawab William

__ADS_1


"Aku tidak mau! Aku akan tetap di sini sampai kamu mau menatap ke arahku!" balas Deborah dengan keras kepalanya.


Namun, kali ini William menyunggingkan senyum sinis, dia ingin melihat seberapa kuat Deborah menghadapi sifat angkuh dan congkak yang dimilikinya.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya William dengan tatapan tak ramah. Mata tajam itu bak pisau yang dapat menyayat kulit Deborah.


Namun, bukannya takut Deborah justru tersenyum tipis. Dia bangkit dari sofa, lalu melangkah mendekati William dan duduk di meja kebesaran pria itu. Di setiap pergerakannya ia tahu bahwa Jo terus memperhatikannya.


Dengan terpaksa Jo pamit dan keluar dari ruangan William. Padahal ia ingin tahu apa yang akan dilakukan wanita itu. Karena sepertinya Deborah benar-benar menyukai tuannya. Hah, lalu bagaimana dengan Bella? Jo bahkan terlibat untuk membuat gadis itu bertahan di samping William.


Kini di ruangan itu hanya ada mereka berdua. William menatap Deborah yang nampak begitu seksi, ya bagaimana tidak? Deborah memiliki dada serta bokong yang besar, pinggulnya pun ramping bak gitar spanyol.


"Aku sudah tahu banyak tentangmu, Will. Bahkan aku tahu mengapa kamu lebih menyukai uang dan sexx. Itu semua karena kamu memang pemain wanita. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan tetap menerimamu. Jadi, mau main denganku?" tanya Deborah sambil mengangkat sebuah kotak kecil di tangannya. Sebuah pengaman yang biasa digunakan oleh para pria ketika bercinta.

__ADS_1


William bergeming di tempatnya. Dia tidak tahu kenapa ia bisa bertemu dengan seorang wanita yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi. Namun, tak bisa bohong Deborah memang menggiurkan. Wanita itu seperti santapan empuk bagi pria cassanova seperti dirinya.


Deborah membuka blazer, kemudian menurunkan lengan bajunya yang mirip seperti tali kecil. Dan tepat pada saat itu William langsung mendelik, tanpa segan dia melemparkan jas yang menggantung tak jauh darinya, hingga mengenai tubuh Deborah.


"Tutup tubuhmu, kau terlihat seperti jalaang!" cetus William sambil memaki tindakan Deborah.


Namun, lagi-lagi reaksi wanita itu diluar dugaan. Dia malah terkekeh dan segera memakai jas yang dilemparkan William.


"Aneh, semakin kamu marah, aku malah semakin menyukaimu, Will. Dan penolakanmu kali ini benar-benar membuatku merasa bahwa kamu menginginkanku lebih dari seorang jalaang. Keep calm, Darling. Aku akan menjadi jalaangmu setelah kita menikah," balas Deborah kemudian turun dari meja. Dia mematikan komputer William, kemudian mengajak pria itu untuk keluar. "Karena tidak berhasil menggodamu, lebih baik kita makan siang berdua."


"Kenapa aku harus makan denganmu?"


"Karena Tante El sudah membooking restoran untuk kita berdua. Ayo!" ajak Deborah, kemudian melingkarkan tangan di lengan William.

__ADS_1


__ADS_2