Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 91. Seperti Anak Kucing


__ADS_3

"Aku memiliki berita penting untukmu, Nona. Tentang ayahmu dan nasibmu ke depannya," ucap Jo yang membuat mata Emma terbelalak lebar.


Namun, karena merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Jo adalah bualan. Emma pun memilih untuk tidak peduli, apalagi dia sudah membenci ayahnya. Dia tidak mau lagi berurusan dengan pria paruh itu karena perasaan kecewanya.


"Aku tidak peduli, lagi pula apa pun yang berkaitan dengannya tidak ada hubungannya lagi denganku, sekarang lebih baik kamu pergi!" balas Emma kembali berniat untuk menutup pintu. Namun, lagi-lagi tangan Jo menahan dengan sekuat tenaga. Emma mengangkat pandangannya hingga mereka saling bersitatap dengan satu garis lurus.


"Ayahmu sudah meninggal!" kata Jo dengan tatapan tak main-main. Mata Emma terbelalak lebih lebar, sementara jantungnya seperti berhenti berdetak. Meninggal? Apa dia tidak salah dengar?


Emma melepaskan pegangannya pada sisi pintu, tubuhnya mendadak lemas ketika mendengar kabar bahwa sang ayah tidak ada lagi di dunia. Sakit? Kalian tidak perlu menanyakan hal tersebut, karena sekecewa apa pun sang anak terhadap orang tuanya, dia akan tetap merasa hancur ketika cinta pertamanya pergi bahkan tanpa pamit.


"Meninggal?" lirih Emma dengan pelupuk mata yang tiba-tiba menggenang. Dadanya seperti diremaas-remass oleh tangan tak kasat mata, menyisakan sesak yang begitu hebat. "Tapi kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu aku di sini dan memberikan kabar seperti ini?" sambung Emma, menatap Jo dengan tatapan menyelidik.


"Aku adalah orang yang pernah menelponmu dan menjelaskan tentang kejahatan-kejahatan Dimitri. Aku orang yang mendengar tangis kecewamu hari itu!" jawab Jo dengan gamblang, masih teringat jelas di memori otaknya. Saat ia menelpon Emma dan memberikan semua bukti tentang kejahatan ayah gadis itu terhadap Bella dan keluarganya.


Emma merasa tertegun, karena ternyata pria ini adalah sosok yang menyadarkannya atas kekeliruan sang ayah. Namun, kenapa bisa Dimitri meninggal? Kenapa pria paruh baya itu tidak dipenjara saja atas kejahatan-kejahatannya?


Ludah Emma terasa tercekat. Dan detik berikutnya dia tergugu dengan air mata yang mulai menderas. Karena kini dia tidak punya siapa-siapa lagi. "Kenapa bisa ayahku meninggal? Dia tidak pernah sakit sebelumnya!" Rancau Emma sambil tersedu-sedu, kemudian terduduk sambil memeluk lututnya sendiri.


"Dia yang memilih jalannya sendiri," jawab Jo dengan intonasi suara yang lebih lembut. Entah kenapa melihat gadis ini menangis malah membuat dia merasa tak tega.


Emma mengusap wajahnya kasar. Andai waktu bisa diputar, dia akan lebih memilih untuk tetap hidup sederhana, asal ia bisa bersama ayahnya.


"Daddy," lirih Emma menyayangkan semua yang sudah terjadi. Kehilangan adalah luka terbesar yang pernah dia rasakan. Namun, kenapa Tuhan kembali membiarkan dia merasakan luka itu lagi.


"Dan ada satu hal lagi yang harus kamu dengar," ucap Jo dengan sedikit ragu. Emma mendongak dengan uraian air mata yang terus luruh. Dia menatap Jo dengan tatapan yang menyedihkan.

__ADS_1


"Semua aset yang ayahmu milikki akan ditarik, karena itu semua akan dikembalikan pada Nona Bella. Termasuk rumah ini," sambung Jo, karena Emma seolah mengizinkannya untuk tetap bicara.


Emma tidak peduli akan hal itu, namun, ke mana ia harus pulang? Gadis itu kembali terisak-isak, terdengar pilu dan menyayat hati. Sebuah tangisan keputusasaan. "Apakah aku ikut Daddy dan Mommy saja? Aku tidak tahu harus ke mana, aku tidak punya siapa pun di dunia ini."


Sesaat Jo tetap berdiri di sana dan memperhatikan Emma. Namun, pada akhirnya dia pun pamit pada gadis itu. "Semuanya sudah aku sampaikan padamu. Aku harus pergi."


Emma tak menjawab, dia hanya fokus pada tangisnya. Dia terus memeluk lututnya dengan erat, karena kini hanya dirinya sendiri yang dapat diandalkan.


Sementara Jo sudah mengambil beberapa langkah. Namun, mendengar isak tangis gadis itu membuat sudut hatinya ikut berdenyut-denyut. Apalagi mengingat wajah Emma yang seperti anak kucing kelaparan.


Jo menghembuskan nafas kasar. Pada kenyataannya dia pun tak bisa seperti sang tuan yang cuek akan hal apa pun. Dia memutar langkah, lalu kembali berdiri di depan tubuh Emma.


Mendengar langkah kaki yang mendekatinya, Emma pun kembali mendongak. Wajah menyedihkan seperti kucing kelaparan kembali Jo dapati, hingga membuat otaknya terganggu. Sementara Emma terhenyak saat melihat Jo mengulurkan tangan kepadanya.


.


.


.


Jo mendekati William, dia terlihat ragu tapi apa mau dikata. Kini Emma sudah berhasil ikut bersamanya. "Tuan ...."


"Hem," balas William dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan," ujar Jo, namun William masih enggan untuk meladeni asistennya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau mau melapor tentang putri Dimitri yang baru kau temui? Nanti saja, Jo, kau tidak lihat aku sedang sibuk?"


Mendengar itu, Emma mengerutkan kening. Apakah orang yang dimaksud tuan ini tidak melihat kehadirannya?


"Benar, Tuan. Saya—"


"Jo!" tukas William seraya menoleh ke arah asistennya. Dan detik selanjutnya dia terperangah, karena melihat ada seorang gadis yang berdiri di belakang Jo. Bahkan karena saking terkejutnya William hampir terjungkal dari sofa. "Kau—" Tunjuk William dengan gagap.


Sementara Jo menundukkan kepalanya dalam, karena sudah lancang mengambil tindakan. "Maafkan saya, Tuan. Saya yang membawanya kemari."


"Bit*ch!" umpat William, tak mengerti kenapa tiba-tiba Jo membawa anak musuh mereka. William bangkit, lalu menyeret jas Jo hingga ke sudut ruangan yang tidak dapat dilihat oleh Emma.


"Apa maksudmu?" ketus William dengan tatapan tajam.


"Sekali lagi maafkan saya, Tuan, saya yang akan mengurus dia," balas Jo, tetapi bukan itu yang ingin William dengar.


"Jo, kau tahu siapa dia!" pekik pria itu, menunjukkan bahwa dia tidak setuju kalau Jo membawa Emma.


Jo mengangguk sekilas. "Saya tahu betul, Tuan. Maka dari itu biar dia menjadi urusan saya. Anda tidak perlu khawatir."


William mendesaahkan nafas kasar. Akhirnya tidak bisa berkomentar karena Jo lagi-lagi memberikan jawaban yang sama. "Up to you!"


***


Kira-kira gini ya wajah Emma🤣

__ADS_1



__ADS_2