
Hari berikutnya.
Untuk pergi ke kampus Bella diantar-jemput oleh Jo, karena gadis itu masih trauma dengan kejadian kemarin. Namun, saat tiba waktunya pulang, Jo tidak langsung membawa Bella ke apartemen. Pria itu justru menepikan mobil di sebuah butik, entah tujuannya apa, karena sebanyak apa pun Bella bertanya, Jo tidak menjawabnya dengan benar.
"Silahkan, Nona," ucap Jo sambil membukakan pintu. Tentu saja hal tersebut membuat Bella merasa aneh sekaligus bingung, tetapi dia menurut saja ketika Jo mengajaknya untuk masuk ke dalam butik itu.
Bella menatap kagum pada baju-baju yang berjajar di sana. Semuanya tampak bagus dan tentunya memiliki harga yang tidak murah. Namun, sekali lagi, untuk apa dia berada di sana?
"Selamat siang, Tuan dan Nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa salah satu pegawai butik menyapa Jo dan Bella. Keduanya langsung membalas dengan sebuah anggukan, tetapi Bella masih terlihat kikuk.
"Tolong ambilkan beberapa baju seukuran tubuhnya, dan biarkan dia mencoba," titah Jo, yang membuat Bella membulatkan kelopak matanya. Pegawai butik itu pamit untuk melaksanakan perintah Jo, sementara Bella langsung menatap pria itu.
"Asisten Jo, untuk apa anda memesan baju untukku?" tanya Bella, tetapi Jo justru berjalan menuju sofa, sehingga Bella pun mengekor di belakangnya. Jo duduk dengan santai sambil meraih sebuah majalah, dan Bella masih menunggu jawaban. "Asisten Jo, tolong jawab dulu!"
Jo melirik Bella sekilas, dalam hati pria itu sangat yakin bahwa William sebenarnya sudah terpikat dengan Bella. Namun, entah apa rencana pria itu hingga tetap menerima pertunangan dengan Deborah.
__ADS_1
"Tuan William akan mengajak Anda makan malam, Nona, jadi setidaknya berpakaianlah dengan baik," jawab Jo dengan jelas, tepat pada saat itu jantung Bella berdebar tak karuan. Dia meneguk ludah, karena tak percaya William akan mengajaknya berkencan.
Bella tidak tahu saja, kalau dalam hal ini Jo lah yang paling direpotkan. Karena dia harus mengurus semuanya dengan detail, dan tidak boleh kekurangan sedikit pun. William suka kalau rencananya sempurna.
"Anda tidak sedang bercanda 'kan, Asisten Jo?" tanya Bella tak percaya, padahal dalam hati dia senang bukan main. Bahkan berharap malam segera tiba, agar ia bisa berduaan dengan William.
Sebelum Jo menjawab, pegawai butik justru datang dengan beberapa dress pilihannya. Dia berjalan ke arah Jo dan Bella. "Nona, mari ikut saya untuk berganti pakaian."
Dengan wajah sumringah gadis itu bangkit dan mengikuti langkah pegawai butik. Malam ini dia harus tampil dengan sempurna, agar William terpesona padanya. Hih, dengan membayangkannya saja Bella sudah tersenyum-senyum sendiri.
Akhirnya Bella mencoba baju selanjutnya, dan terus-menerus meminta pendapat Jo hingga pria itu mengacungkan jari jempol. Tak sampai di sana, Bella juga dibelikan sepatu serta tas. Kemudian baru mereka pergi ke sebuah salon, supaya gadis itu tampil dengan maksimal.
Jo sebenernya sudah merasa bosan, tapi hitung-hitung belajar, jadi ketika dia sudah punya pacar, dia tidak perlu kaget lagi, kalau ternyata banyak sekali yang harus dipersiapkan ketika ingin mengajak wanita berkencan.
Tak terasa matahari mulai condong ke arah barat. Bahkan dunia sudah menunjukkan sisi gelapnya. Sementara Bella masih di make up, dia dipoles sedemikian rupa, hingga saat semuanya selesai, Bella bisa melihat sendiri perubahan wajahnya.
__ADS_1
Di depan cermin, Bella tersenyum tipis, dan hal tersebut membuat wajahnya jadi tampak semakin manis.
"Semoga kamu suka," gumam Bella dengan penuh harap. Kemudian dia keluar untuk menemui Jo yang sudah terkantuk-kantuk di sofa tunggu.
"Asisten Jo," panggil Bella, membuat pria itu tersentak kaget dan gelagapan. Jo mengangkat wajah, dan tepat pada saat itu dia merasa terperangah dengan penampilan Bella. Karena gadis itu benar-benar terlihat seperti wanita dewasa.
Bella tersenyum hingga menunjukkan gigi-gigi kecilnya. Kemudian berputar-putar di hadapan Jo sambil bertanya. "Bagaimana penampilanku? Apakah sudah layak?"
Jo sedikit mengangkat sudut bibirnya, tidak salah memang kalau William terpikat pesona Bella. Gadis ini memang polos, tetapi karena hal itulah yang membuat pria menjadi menyukainya.
"Saya akan selesaikan pembayaran, Nona, anda duluan saja ke mobil," balas Jo tanpa memuji Bella sedikit pun, karena ia merasa bukan haknya untuk melakukan itu semua. Namun, hal tersebut malah membuat bibir Bella mencebik, entah kenapa ia merasa Jo pun sama saja dengan William.
Sebelum melangkah Bella mendengus kasar, kemudian menuruti apa kata Jo untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Namun, ketika ia baru melandaskan pantatnya, dia mendapat notifikasi pesan. Dia pun merogoh ponsel, dan ternyata William adalah sosok yang mengirim pesan tersebut.
[Kau di mana?]
__ADS_1
Senyum Bella langsung terbit begitu saja.