
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, William langsung meminta Jo untuk membereskan semua barang-barangnya, karena dia akan langsung pulang hari ini juga. Dia sudah merindukan Bella dengan segala sentuhannya, apalagi mengingat kenakalan Bella semalam, dengan memikirkannya saja bibir William seperti ingin terus melengkung sempurna.
"Tuan akan langsung pulang?" tanya Jo sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tas, menatap William yang hanya duduk santai sambil mengotak-atik ponsel.
"Menurutmu?" Pria itu balik bertanya dengan satu alis terangkat. Dan Jo tak bisa menjawab, akhirnya dia diam dan melanjutkan tugasnya, karena ia merasa bahwa sang tuan masih kesal padanya.
Tak berapa lama kemudian satu koper telah siap, William yang sudah rapih langsung meraih benda tersebut tanpa menunggu Jo yang sedang membereskan barang-barangnya sendiri.
Melihat William yang melangkah menuju pintu, tentu saja membuat Jo mengalihkan tatapannya. Dia langsung mengejar langkah sang tuan, hingga dia berdiri di hadapan William. "Tuan akan pergi tanpa saya?" Tanya Jo dengan kening yang berkerut.
Sementara William hanya menunjukkan ekspresi datar. Kemudian tangannya terangkat dan langsung mencengkram baju yang dikenakan oleh Jo. "Kutanya sekali lagi, kau benar-benar akan membawa gadis itu bersamamu?"
Glek!
Jo menelan ludahnya kasar. Pria itu merasa bahwa William benar-benar tak setuju jika ia berurusan dengan Emma. Membuat dia menjadi begitu bimbang. Haruskah dia tega meninggalkan gadis itu di negara ini sendirian? Tanpa ada sanak saudara, bahkan tempat tinggal?
Apakah efek dari kejahatan Dimitri harus Emma juga yang merasakan? Ah, kenapa rasanya sangat memusingkan!
Karena melihat Jo yang terus terdiam, William bisa menyimpulkan sendiri apa jawaban pria itu. Dia melepaskan cengkramannya, lalu menepuk bahu Jo beberapa kali. "Aku akan pergi sendirian. Aku tidak akan terlibat dengan keputusanmu!"
Setelahnya William langsung melenggang pergi sambil menggeret koper tanpa menoleh sedikit pun. Sementara Jo terus bergeming di tempat yang sama, karena dia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa. Kini kehendak hatinya sungguh bertolak belakang dengan sikap sang tuan.
.
.
.
__ADS_1
Setelah berperang dengan hatinya, Jo memutuskan untuk tidak membawa Emma. Dia meninggalkan hotel dengan perasaan yang berkecamuk. Namun, berulang kali dia berusaha untuk tetap tenang, tetapi ternyata jantungnya tak berhenti berdegub dengan kencang.
Emma menikmati sarapannya dengan lahap. Dia benar-benar tidak tahu kalau orang yang membawanya ke tempat ini telah pergi meninggalkannya. Sedangkan Jo sudah bergegas menuju bandara.
"Bagaimana ini? Kenapa hatiku tetap tidak tenang?" gumam Jo saat di dalam mobil, bahkan keringat dingin terus membanjiri tangannya. Dia tidak tahu akan sekecewa apa jika Emma menyadari bahwa dia telah pergi tanpa pamit.
Bayangan wajah gadis itu kembali memenuhi pelupuk mata Jo. Semakin dia berusaha menghilangkan bayangan itu, Emma yang menjelma menjadi kucing kelaparan itu terus menghantuinya.
"Sialan! Kenapa bisa aku seperti ini? Ingat, Jo dia adalah anak musuh Tuanmu!"
Jo menghembuskan nafas kasar, kemudian mencoba membuka matanya lebar-lebar. Dia mengalihkan semua pikirannya dan fokus pada jalanan yang telah dilewati.
Namun, kini rengekan Emma malah terngiang-ngiang di indera pendengarannya. Begitu menganggu hingga membuat perasaannya tak menentu.
Sebentar lagi Jo akan sampai di bandara. Dia tidak mau gagal lagi dan menaruh iba pada Emma. Dia harus memiliki rasa tega seperti William, hingga tak lemah dalam menghadapi godaan sebesar apapun, termasuk raut wajah yang sering ditunjukkan Emma di depannya.
Dan tak berapa lama kemudian, taksi yang ditumpanginya hampir memasuki halaman bandara. Saat itu juga, jantung Jo kembali berdebar dengan hebat, dia melirik ke belakang, seolah di sana ada Emma yang tengah menangis dengan bibir yang bergetar.
Otak dan hatinya berdebat. Membuat kepalanya nyaris meledak, hingga akhirnya Jo berdecak sambil berkata. "Putar balik!"
.
.
.
Kini Emma sudah bersama Jo untuk naik pesawat dan pulang ke ibu kota. Karena pada kenyataannya Jo tetap tak bisa menghendaki hatinya untuk meninggalkan Emma. Dia juga merasa heran, kenapa dia begitu lemah pada gadis satu ini.
__ADS_1
Sementara Emma merasa bahwa ia begitu membebani Jo, tetapi dia juga tak tahu harus meminta tolong pada siapa, kalau bukan pada pria ini. Jo adalah harapan Emma satu-satunya, meski pun mereka belum mengenal lama. Entahlah Emma merasa bahwa setiap didekat Jo dia merasa aman, hingga dia percaya pada pria itu.
"Tuan, setelah tiba di ibu kota apakah Tuan akan meninggalkanku?" tanya Emma dengan wajah yang terlihat memelas, hingga membuat Jo terus merasa kasihan.
"Tidak perlu bertanya, dan hentikan wajah itu! Kamu hanya perlu duduk dan ikut ke mana aku pergi!" jawab Jo dengan nada ketus, membuat Emma menjadi bungkam seketika.
Ya, benar-benar bungkam hingga saat di pesawat dia memilih untuk tidur. Namun, begitu gadis ini diam, Jo malah sibuk memperhatikan. Dia terus melirik dan mendapati Emma yang senantiasa menutup matanya rapat-rapat. Terlihat begitu imut, hingga tak terasa bibir Jo jadi berkedut.
.
.
.
Emma menatap bangunan yang cukup luas yang kini dia pijak, kalau boleh dia tebak bangunan berupa rumah ini adalah tempat kediaman Jo. Karena semua orang yang menyambut mereka membungkukkan kepala dengan sopan.
"Di mana Mamah?" tanya Jo pada seorang pelayan yang datang dan mengambil alih barang-barang miliknya.
"Sebentar lagi keluar, Tuan," jawab pelayan tersebut, karena dia memang sudah memberitahu pada sang nyonya, bahwa Jo telah pulang ke rumah.
Emma melihat interaksi itu, dan ternyata barang-barangnya juga ikut diambil. Dia merasa tak enakan, tetapi tatapan mata Jo seperti menyuruhnya untuk menurut saja.
Hingga saat Jo melewati pintu utama, seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan senyum mengembang. "Wah, My Jordan sudah pulang. Kali ini kamu bawa oleh-oleh apa, Say—"
Belum sempat memeluk dan melanjutkan kalimatnya, tatapan wanita itu beralih pada sosok Emma yang berdiri di belakang putranya.
Tiba-tiba senyum wanita itu mengembang begitu sempurna. "Wow, oleh-oleh yang sangat menakjubkan. Apakah dia calon menantu Mamah?"
__ADS_1
Eh!