Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 60. Wanita Aneh


__ADS_3

Leo terbangun dengan kepala yang masih terasa pusing. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya. Saat ia tersadar, ia terhenyak karena ternyata ia sendirian, bahkan saat penglihatannya mengedar ke tiap sudut ruangan, ia mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar.


Sekumpulan memori semalam kembali berputar di otak Leo. Meski terputus-putus, tetapi nyatanya ia masih ingat betul, bahwa ia sempat mencumbu seorang wanita. Namun, ke mana dia sekarang? Kenapa tidak ada?


"Haish, apakah ini efek obat itu? Mungkinkah aku hanya berhalusinasi?" gumam Leo bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sambil berusaha bangkit dan memukul-mukul kepala. Sungguh ia masih meyakini bahwa dirinya telah bercinta, tetapi dengan siapa?


Lama pria itu berpikir keras untuk mengingat kejadian semalam. Nyatanya tak membuahkan hasil. Wajah wanita itu begitu samar untuk dia pastikan.


Akhirnya Leo memutuskan untuk melenggang ke kamar mandi. Dia menyalakan shower dan berdiri di bawahnya, menikmati air dingin yang mengucur deras. Namun, ada satu yang membuatnya kembali merasa aneh. Dia meringis begitu merasakan perih di punggungnya.


Saat ia berdiri di depan cermin. Dia melihat beberapa cakaran kuku yang menyisakan luka di tubuhnya. Membuat ia kembali yakin, kalau semalam ia memang bercinta. Itu artinya, ia perlu bertanggung jawab kan?


"Ah sial, aku sudah tidak perjaka!" gumam Leo dengan tampang menyesal. "Ini semua gara-gara William si pencabullll gila itu. Sengaja sekali menjadikanku umpan!" Sambungnya memaki sang sepupu.


Setelah membersihkan tubuhnya, dia segera keluar dari kamar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. Saat ia tiba di dapur, ternyata sudah ada William yang tengah duduk menanti sarapan yang dibuat oleh Bella.


Tiba-tiba Leo menyambar susu yang seharusnya untuk William, membuat pria yang sudah memakai perban itu melirik tajam. "Apa yang kau lakukan? Itu milikku, Sialan!"


"Haish, kau masih bisa meminta Bella untuk menuangkannya lagi," balas Leo dengan santai, kemudian meneguk susu tersebut hingga tandas. Sementara William langsung mengepalkan tangan dan menatap tak suka. "Oh iya, Will, semalam aku ke mana?" Sambung Leo, melayangkan pertanyaan aneh. Karena pasti William sudah mendapat laporan dari anak buahnya.

__ADS_1


"Kau gila? Mana aku tahu!" jawab William dengan nada yang naik beberapa oktaf. Sebab Leo benar-benar menghancurkan mood paginya.


"Mana mungkin kau tidak tahu, anak buahmu pasti sudah melapor. Jawab yang benar, aku ke mana?!" Leo membalas tak kalah menggebu, karena dia butuh jawaban atas tindakannya. Dia tidak mau menjadi pria pengecut yang lepas dari tanggung jawab.


Namun, William hanya bergeming. Membuat Leo berdecak keras. Bella yang melihat perdebatan kecil itu pun langsung menuangkan susu lagi untuk William. Agar suasana hati sang pria kembali melunak.


"Tuan, minumlah dulu ...." Bella meletakkan gelas susu yang kedua. Kemudian tatapannya beralih pada Leo. "Dan untuk Kak Leo, kalau mau bertanya tolong dengan nada yang baik ya. Ini demi menjaga suasana hati Tuan. Dia sedang sakit."


Gadis itu malah membela William, membuat Leo semakin bertambah kesal. Dia mengacak rambutnya, dan memilih berlalu dari dapur. "Tidak pria, tidak wanitanya. Sama saja!" Gerutu Leo seraya membuka pintu, dia berniat untuk mencari udara segar.


Namun, saat ia hendak melangkah, ia melihat wanita cantik keluar dari apartemen sebelah. Ya, wanita itu adalah Alea. Leo terdiam dan terus memandangi Alea, hingga wanita itu berbalik.


Alea dibuat terkejut saat mendapati dirinya ditatap dengan lekat. Apalagi oleh pria yang semalam menggagahinya. Ingatan Alea kembali berputar, karena ia sadar betul bahwa ia sudah melakukan kesalahan.


Akhirnya Alea memilih untuk tidak peduli, dia segera berjalan menuju lift. Namun, tak disangka Leo mengekor di belakangnya. Hingga kini mereka dalam satu tempat yang sama.


Astaga, bagaimana ini? Batin Alea sambil melirik ke belakang, di mana Leo berdiri. Sementara pria itu terus menelisik pergerakan Alea yang terasa aneh, wanita ini seperti sedang menghindarinya.


"Nona? Anda tidak memencet tombolnya?" tanya Leo sambil menunjuk tombol angka di sudut lift, setelah beberapa saat waktu berlalu. Karena sedari tadi Alea hanya terdiam dan tak melakukan apa pun.

__ADS_1


Deg!


Jantung Alea mendadak bergemuruh. Suara berat ini seperti tepat di sisi telinganya. Berbisik untuk menyuruhnya mendesaah. Astaga, apa yang kau pikirkan, Alea?! Lagi-lagi suara hati berteriak menyadarkan wanita itu. Ya, bagaimana bisa wanita yang sudah bersuami malah menerima sentuhan pria lain, dan terus mengingatnya.


"Kita turun di lantai yang sama, Tuan," jawab Alea sedikit tergagap. Lalu kembali fokus ke depan. Ruang udara wanita itu terhimpit, sehingga sulit sekali rasanya untuk sekedar bernafas.


Sepertinya pria ini tidak mengingat aku. Itu bagus, artinya kami berdua akan tetap menjadi orang asing. Batin Alea, sebab Leo tak menanyakan perihal apa pun padanya.


Hingga tiba saatnya pintu lift terbuka. Wajah Alea langsung berubah sumringah. Karena ia berdiri di depan, otomatis dia yang keluar lebih dulu. Namun, tiba-tiba Leo menghentikan langkahnya.


"Tunggu!"


Deg!


Tiap kali Leo bersuara, rasanya jantung Alea seperti ingin copot. Alea berusaha mengatur nafas, dan tanpa menoleh wanita itu pun bertanya. "Ada apa, Tuan?"


Leo mengambil sesuatu yang terjatuh di depan kakinya. Kemudian mengulurkan benda tersebut kepada Alea. "Aksesorismu jatuh."


Alea memejamkan matanya sesaat. Bagaimana bisa di saat-saat seperti ini, ada saja yang menahannya. Akhirnya Alea mengulurkan tangannya yang gemetar, sebelum pintu lift kembali tertutup.

__ADS_1


Leo mengernyit heran, karena wanita ini seolah tak sudi melihat wajahnya. Padahal dia sangat tampan. Tak ingin berpikir aneh, Leo segera menyerahkan benda itu. Sementara Alea langsung berjalan tergesa. Benar-benar menghindari Leo.


"Wanita aneh," gumam Leo tanpa sadar.


__ADS_2