Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 49. Tuan Besar


__ADS_3

Tiba di akhir pekan.


Derry sudah berusaha mencari tahu siapa dalang yang meracuni Deborah. Karena semua itu tidak mungkin hanya kebetulan. Akan tetapi sampai saat ini ia belum bisa membuktikan siapa orang itu, bahkan pada saat ia mencari wanita tua yang ia bayar. Wanita itu sudah tidak ada di mana-mana. Seolah ada yang sengaja menyembunyikannya.


"William, aku yakin dia!" gumam Derry, seraya melangkah menuju basemen. Sebab dia ingin bertemu dengan sang tuan yang menunggunya di rumah.


Dia membawa kendaraan roda empat itu menuju tempat tinggal Dimitri—pria paruh baya yang kerap ia panggil sebagai tuan besar. Cukup lama ia menghabiskan waktu di perjalanan, hingga akhirnya ia tiba di tempat tujuan.


Derry langsung turun dari mobil dan disambut dengan hormat. Sebagai tangan kanan Dimitri, ia bebas keluar masuk rumah ini. Apalagi sudah hampir 7 tahun dia mengabdikan diri.


"Di mana, Tuan Besar?" tanya Derry pada salah satu pelayan.


"Beliau ada di taman belakang, Tuan," jawab pelayan tersebut. Karena sejak tadi Dimitri memilih untuk sarapan di luar, sambil menikmati sinar mentari pagi.


Tanpa berkata apa pun lagi Derry berjalan menuju halaman belakang. Dan dia langsung bisa melihat Dimitri yang tengah duduk sambil menyeruput secangkir kopi.

__ADS_1


Dengan langkah tegas, Derry pun menghampiri pria paruh baya itu.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Derry, yang membuat Dimitri langsung mengangkat satu alisnya. Sebelum menjawab pria paruh baya itu meletakkan kembali kopinya ke atas meja.


"Kau sudah berhasil menemukan orang yang meracuni Deborah?" tanya Dimitri tanpa menjawab sapaan Derry. Membuat pria itu langsung meneguk ludahnya kasar.


"Maaf, Tuan. Sampai saat ini saya belum menemukan jawaban. Tapi, saya yakin kalau orang itu adalah William. Dia yang sengaja mengirim minuman itu pada Nona De," jawab Derry dengan percaya diri. Akan tetapi dia malah mendapat sebuah pukulan dari tongkat Dimitri, hingga ia menjatuhkan lututnya di lantai.


Entah hubungan apa yang terjalin antara Dimitri dan Deborah. Yang jelas pria paruh baya itu tidak akan membiarkan Deborah terluka.


"Tentu saja masih, Tuan, saya akan terus mengabdikan diri saya pada anda," jawab Derry dengan cepat. Sebab andai ia berkata tidak pun, ia tidak yakin Dimitri akan melepaskannya begitu saja.


"Lalu apa rencanamu untuk membuat Bella pergi dari sisi William? Supaya kita bisa langsung menghabisinya?" tanya Dimitri lagi, karena sudah cukup lama mereka membuang-buang waktu. Kalau tidak segera diselesaikan, maka Bella akan terus menjadi ancamannya.


"Bagaimana kalau kita buat Nona Bella tahu kalau pria itu sudah bertunangan dengan Nona De? Saya yakin Nona Bella akan membencinya dan memilih pergi," ujar Derry sesuai rencana yang ada di otaknya.

__ADS_1


Dimitri terdiam sesaat, dia menyangga dagunya dengan kedua tangan yang diletakkan di atas meja. "Bagaimana kalau sebaliknya? Kita buat William membenci Bella, supaya dia tidak lagi membela gadis itu. Karena dengan begitu, rencana kita akan lebih mudah." Ujar Dimitri dengan sebuah seringai.


Derry langsung mencerna ide yang diberikan oleh sang tuan. Dan rasanya memang lebih masuk akal. Sebab saat William membenci Bella, maka tidak akan ada lagi yang berdiri di sisi gadis itu. Bella tak lagi memiliki seseorang yang dapat membantunya.


Setelah membahas rencana mereka, Derry pamit untuk pergi ke markas. Dimitri hanya menggerakkan tangan, dan membiarkan sang asisten meninggalkan kediamannya.


Sepanjang ia menyetir ia mulai berpikir akan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sebab setiap rencana pasti memiliki kegagalan.


"William adalah orang yang licik. Aku harus lebih hati-hati padanya," gumam Derry seraya menaikkan kecepatan. Dan tak berselang lama, ia tiba di markas. Saat ia membuka seat belt, tak sengaja pulpennya ikut terjatuh.


Alhasil ia kembali mengambilnya, tetapi matanya justru menangkap sesuatu yang aneh. Mata Derry mendelik, dan meraih alat penyadap yang ada di mobilnya dengan gerakan kasar.


Dia hafal betul apa fungsi benda itu. Derry berusaha mencari apalagi yang bisa ia temukan, dan benar saja William juga memasang alat pelacak di sana.


"Argh, William Sialan!" teriak Derry dengan begitu kencang. Kenapa ia begitu bodoh, sampai tak sadar bahwa pria itu memasang alat seperti ini di dalam kendaraannya.

__ADS_1


__ADS_2